62.

63 2 0
                                        

BAB 62




Tapi malangnya, Cagatay jatuh sakit beberapa hari setelah perang usai. Penyebabnya, kemungkinan karena ia kehabisan energi sihir dan kelelahan. Tubuhnya melemah, napasnya terengah, dan matanya yang dulu memancarkan wibawa kini terlihat sayu. Semua penyihir terbaik di Semidio dipanggil untuk mengobatinya, namun tidak ada seorang pun yang berhasil. Seolah-olah penyakit itu bukan berasal dari dunia ini.

Sebelum ajal menjemput, Cagatay hanya sempat berbisik dengan suara yang lemah, namun penuh keyakinan—sebuah pesan terakhir yang kelak akan menggetarkan hati banyak orang. Ia berpesan bahwa nama putrinya, Elsie Cotton, suatu saat akan lebih terang daripada namanya sendiri. Kata-kata itu menjadi semacam warisan, sekaligus teka-teki yang sulit dimengerti.

Beberapa bulan kemudian, kabar mengejutkan mengguncang keluarga Ulusoy. Seorang wanita asing muncul bersama seorang gadis kecil berusia tujuh tahun. Dengan langkah anggun namun penuh ketegangan, wanita itu memperkenalkan diri sebagai istri Cagatay, sementara gadis kecil itu dikatakannya sebagai putri sang penyihir legendaris.

Keluarga Ulusoy tentu tidak serta-merta mempercayai mereka. Aula besar keluarga itu, yang dikelilingi pilar marmer putih dan lilin-lilin yang berkelip redup, dipenuhi tatapan penuh curiga. Namun, ketika wanita itu menunjukkan bukti—dokumen pernikahan yang berusia lama, hasil tes darah yang tak terbantahkan, serta beberapa peninggalan pribadi Cagatay—perlahan keraguan berubah menjadi keyakinan. Akhirnya, keluarga Ulusoy pun menerima kenyataan pahit itu.

"Jadi begitu ya," ucap Ivy pelan setelah Vivian menyelesaikan ceritanya. Suaranya bergetar, seolah ia tengah menahan sesuatu yang sulit diungkapkan.

"Ya… aku sendiri tidak tahu apakah ceritaku benar atau tidak," balas Vivian, nada suaranya merendah. "Karena aku juga hanya mengetahuinya lewat surat kabar dan beberapa gosip yang beredar."

Vivian menatap Ivy, mencoba membaca raut wajah gadis itu. Ada kesedihan yang jelas tergambar di mata Ivy—mata yang tampak berair, seolah menahan sesuatu yang dalam. Vivian merasa heran; setahunya Ivy tidak memiliki hubungan khusus dengan Cagatay Cotton Ulusoy. Namun melihat tatapan kosong dan bahu Ivy yang merosot lemah, Vivian hanya bisa merasakan iba.

Sesaat ia ingin menghibur, namun bibirnya kelu. Akhirnya ia hanya berkata, dengan nada sedikit kaku namun tulus, "Jika kau ingin tahu lebih banyak tentang Cagatay Cotton Ulusoy, pergilah mencari Adalgiso. Dia sahabatnya, lebih lama dari yang kau bayangkan. Hanya dia yang bisa menceritakan siapa sebenarnya Tuan Ulusoy."

Ivy menunduk sebentar, sebelum menjawab dengan suara lirih, "Terima kasih."

Tiga puluh menit kemudian.

Di tengah pekatnya malam, sebuah kamar yang remang diselimuti cahaya lampu minyak tampak begitu hening. Hanya terdengar suara desiran angin yang menyelinap masuk melalui celah jendela. Seorang pria terbaring lelap di atas kasur kayu berukir tua, selimut menutupinya hingga dada.

Tiba-tiba, suara lembut memanggil namanya. Samar, namun jelas terdengar.

"Taki…"

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, membuat alis pria itu berkerut. Perlahan ia membuka mata. Rasa kantuk masih menempel, namun seketika lenyap ketika ia mendapati sosok seorang gadis berdiri di samping ranjangnya.

"IVY!" teriak Taki kaget. Tubuhnya hampir meloncat dari kasur. "Kau mengagetkanku! Aku hampir terkena serangan jantung!" serunya, memegangi dadanya.

"Maaf," ucap Ivy pelan. Suaranya lemah, nyaris seperti bisikan. Ia segera menarik kursi kayu di dekat ranjang dan duduk, wajahnya tertunduk, sorot matanya penuh kegelisahan.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang