BAB 32
“Kau terlalu percaya diri,” ucap Ivy dengan nada meremehkan, namun senyum lembut tersungging di bibirnya.
“Tidak! Aku memang sangat kuat! Aku sudah berada…” jawab anak kecil itu, nada suaranya terdengar ngotot, penuh keyakinan.
Ivy menunduk sedikit, tangannya mengelus lembut rambut anak itu. Seketika, dia menangkap sesuatu yang aneh—ada energi sihir yang samar-samar terasa dari anak itu, meski ia tidak bisa memastikan sepenuhnya.
“Sepertinya… dia buta bukan karena penyakit, tapi karena sihir,” gumam Ivy pelan dalam hati.
“Aku minta maaf sebelumnya… mungkin pertanyaanku kurang sopan, tapi… apa kau tidak bisa melihat sejak lahir?” Tanya Ivy dengan hati-hati.
“Tidak, aku bisa melihat,” jawab anak itu tenang.
“Terus kenapa sekarang tidak bisa?”
“Waktu usiaku tiga tahun, ada orang jahat yang melakukan ini padaku. Aku pikir… mereka musuh ayahku. Karena mereka tidak bisa menyakiti ayahku yang kuat, mereka malah menyakitiku,” ucap anak itu pelan, wajahnya menunduk, suara lembut tapi jelas. Ivy merasakan kesedihan yang tersembunyi di kata-katanya.
“Ah… itu mengerikan,” ucap Ivy, suaranya bergetar sedikit, dan ia kembali berdiri tegak.
Tanpa sadar, pandangannya tertuju pada seorang pria yang berdiri jauh di pinggir jalan, tempat Ivy tadi berdiri. Sosok itu tampak asing, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa familiar. Pria itu mengenakan baju tebal dengan topi bowler coklat muda, menatap ke arahnya dengan senyum tipis yang misterius.
“Siapa pria itu? Kenapa dia menatapku? Dia… sepertinya tersenyum padaku. Atau… ini cuma perasaanku saja,” gumam Ivy, jantungnya berdetak lebih cepat.
“Dia seperti Rouni, tapi… aku yakin itu bukan Rouni,” gumamnya lagi, nada cemas bercampur penasaran.
Anak kecil dengan rambut unik itu menyentuh tangan Ivy, memanggil perhatiannya. Ivy menoleh sebentar, lalu kembali menatap pria itu—sosok tersebut kini berjalan menjauh sambil menggendong seorang anak perempuan yang tampak sangat familiar bagi Ivy.
“Tunggu, siapa anak kecil itu? Kenapa dia mirip denganku?” gumam Ivy, rasa penasaran melonjak dalam hatinya. Ia ingin tahu siapa pria itu, dan anak kecil yang menimbulkan rasa aneh di hatinya.
“Sepertinya aku harus pergi,” ucap Ivy pelan, masih menatap sosok pria misterius itu yang menjauh.
“Kau ingin ke mana?” Tanya anak laki-laki itu dengan nada sedih, ragu-ragu.
Ivy menatap anak itu sebentar, lalu mengangkat bahu. “Entahlah.”
“Kau aneh… bagaimana bisa kau tidak tahu tujuanmu?”
“Siapa namamu?” Anak itu menambah pertanyaan, mata penuh rasa ingin tahu.
“Elsie Cotton,” jawab Ivy lembut, tangannya menyentuh pipi anak itu dengan lembut. Anak itu menutup matanya seketika, dan Ivy mulai membaca mantra kecil. “Itupun… kalau kita bertemu lagi,” gumamnya, suara lembut tapi tegas.
Setelah itu, Ivy berbalik dan berlari, meninggalkan anak laki-laki itu di taman. Langkahnya cepat, hampir seperti melayang di antara salju yang menutupi tanah.
Setelah itu, Ivy berlari meninggalkan anak laki-laki itu. Saat anak itu kembali membuka matanya, ia melihat seorang gadis berseragam sekolah melesat menjauhinya dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan taman yang berselimut salju. Anak kecil itu mengangkat tangannya, seakan ingin meraih gadis itu, namun udara di depannya kosong—gadis itu sudah terlalu jauh.
Beberapa detik kemudian, Ivy berhasil mengejar hingga ke tempat pria misterius itu berdiri. Ia menatap sekeliling untuk mencari tahu ke mana pria itu akan pergi. Saat ia melihat pria itu berjalan ke sisi gedung hotel di seberang jalan, Ivy tak peduli lampu lalu lintas. Ia menyebrang jalan dengan terburu-buru, nyaris tertabrak kendaraan yang melintas. Hatinya berdebar kencang, namun dorongan rasa penasaran membuatnya tetap maju.
Saat Ivy akhirnya menemukan pria misterius itu, bersama anak perempuan yang sangat mirip dengannya, ia terdiam terpaku. Rasa aneh memenuhi dadanya—sedih, rindu, dan sakit bercampur, membuat matanya terasa hangat seperti ingin menangis.
Pria itu berhenti, menurunkan anak perempuan dari gendongannya. Gadis kecil itu memanggilnya “papa” sambil memeluk kaki pria itu. Panggilan itu, entah mengapa, membuat hati Ivy semakin sesak. Ia merasa tertusuk oleh kebahagiaan yang tidak bisa ia raih.
Pria misterius itu menoleh, menatap Ivy, lalu tersenyum lembut. Senyum itu begitu hangat dan penuh perhatian, membuat hati Ivy terasa sakit dan bingung sekaligus. Ia ingin mendekat, ingin berbicara, ingin tahu siapa pria itu dan apa hubungannya dengannya.
Namun suara seorang wanita membuyarkan lamunannya. Wanita itu memanggil nama pria misterius itu dengan lembut di tengah keramaian. “Cagatay Cotton Ulusoy,” bisik Ivy dalam hati, menyadari nama pria itu. Cagatay menyambut wanita itu dengan hangat, bahkan memberikan kecupan. Anak perempuan yang berada di sisinya juga memanggil wanita itu “ibu.”
Ivy terkejut. Wanita itu—yang jelas masih sangat muda—ternyata adalah ibunya. Wajahnya berseri-seri, penuh kebahagiaan. Keluarga itu terlihat sempurna, harmonis, dan bahagia—sesuatu yang membuat dada Ivy sesak dengan campuran iri, kagum, dan sedih.
Ivy ingin berbicara dengan pria itu, ingin tahu identitas dan hubungannya dengannya. Namun sebelum ia sempat melangkah, Cagatay memberi isyarat agar ia diam. Seketika, cahaya menyilaukan muncul, membuat Ivy menutup mata. Aneh, orang-orang di sekeliling tampak tak menyadari apa pun.
Tubuh Ivy kembali melayang, sensasinya persis seperti saat ia hampir tertabrak mobil beberapa menit lalu. Ia merasa seperti jatuh ke dalam air, tapi kulitnya tetap kering. Saat membuka mata, ia sudah berada di koridor sekolahnya.
Tempat itu familiar—selalu dilihatnya setiap hari. Namun perasaan Ivy campur aduk: marah, kecewa, sedih, dan bingung. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa tiba-tiba kembali ke koridor sekolah, jauh dari pria misterius dan anak perempuan itu.
“Ini… bukannya ini gedung sekolah?” gumam Ivy sambil menatap sekeliling, mata menyapu lorong-lorong kosong dan papan pengumuman yang biasa ia lihat setiap hari. Hati Ivy masih bergejolak, namun rasa penasaran tentang pria dan anak perempuan itu terus menghantuinya.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
