BAB 88
Satu minggu berlalu begitu cepat. Seperti biasa, sebelum berangkat kerja Ivy menyempatkan diri menyiapkan sarapan serta bekal sederhana untuk Murray. Aroma tumisan sayur dan roti panggang memenuhi ruangan kecil rumah mereka, menciptakan suasana hangat meski udara pagi masih begitu dingin. Setelah itu, Ivy bergegas mengenakan pakaian kerjanya, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Murray yang masih tertidur lelap di ranjang.
Meskipun hari masih gelap, jalan desa hanya diterangi remang cahaya lampu minyak di beberapa sudut, Ivy tidak merasa takut. Embun pagi menempel di ujung dedaunan, kabut tipis menyelimuti jalan tanah yang lengket oleh sisa hujan semalam. Sebenarnya Murray ingin selalu mengantarnya, namun Ivy tidak pernah tega membangunkannya. Baginya, Murray sudah cukup letih bekerja keras seharian—pulang dengan tubuh penuh peluh, terkadang masih membantu pekerjaan rumah, lalu tidur dengan wajah yang selalu tampak damai.
Setibanya di toko roti milik nyonya Loren, aroma adonan hangat dan kayu bakar menyambutnya. Ivy langsung bergabung bersama nyonya Loren, suaminya, serta kedua anak mereka yang sejak fajar sudah sibuk. Dapur itu dipenuhi suara ketukan adonan di meja kayu, dentingan loyang, dan percikan bara api dari tungku yang menyala terang.
“Kau belajar dengan cepat,” puji nyonya Loren sambil memperhatikan Ivy yang cekatan menguleni adonan.
“Terima kasih, nyonya,” jawab Ivy dengan senyum kecil, tangannya terus menekan dan melipat adonan yang lembut.
Nyonya Loren lalu berkata dengan nada lebih lembut, “Di belakang ada roti sisa. Jika kau mau, bawalah pulang.”
Mata Ivy langsung berbinar. “Sungguh, nyonya?” tanyanya memastikan, hampir tak percaya dengan tawaran itu.
“Ya. Bawalah beberapa. Roti sisa itu tetap layak dimakan.”
Hati Ivy terasa hangat, rasa syukurnya begitu besar meski hanya untuk roti sisa. “Terima kasih, nyonya. Anda sangat baik,” ucapnya sambil menunduk hormat, senyumnya lebar penuh ketulusan.
Sementara Ivy sibuk di toko roti, Murray tengah berjalan menuju tempat kerjanya. Jalan desa pagi itu ramai oleh aktivitas warga, beberapa pedagang membuka lapak, suara ayam berkokok masih bersahutan. Namun langkah Murray terhenti saat melihat kerumunan orang. Mereka berdesakan, sebagian berbisik-bisik, sebagian menahan tawa sinis.
Di tengah kerumunan, seorang pria berbadan kurus dengan baju lusuh bersimpuh di tanah yang becek. Tangannya gemetar, wajahnya kotor bercampur lumpur dan air mata. “Ma-maaf, tuan... saya tidak sengaja... ampunilah saya,” rintihnya lirih, suaranya pecah karena tangis.
Di hadapannya berdiri seorang pria tegap berusia sekitar tiga puluhan, pakaian rapi yang mahal terlihat kontras dengan tanah becek di sekitarnya. Tatapannya dingin, penuh kesombongan. Murray mengenali sosok itu—Tuan Lukas.
“Maafmu itu tidak akan membuat bajuku kembali bersih!” bentak Lukas dengan nada angkuh. Matanya menyipit, wajahnya menegang menahan amarah. “Kau harus ganti rugi!”
Pria kurus itu semakin terisak, tubuhnya bergetar tak berdaya. Beberapa orang di kerumunan justru menatap dengan rasa takut, tak ada yang berani menolong.
“Apa yang sedang kulihat ini?” suara seseorang membuat Murray tersadar dari lamunan.
Ia menoleh, ternyata Xia—teman kerjanya—berdiri di sampingnya, menatap kerumunan dengan dahi berkerut.
“Ah... Tuan Lukas rupanya,” ucap Xia pelan namun penuh rasa muak.
“Kau mengenalnya?” tanya Murray dengan nada ingin tahu.
“Tentu. Siapa yang tak mengenalnya? Dia anak kepala desa. Tapi perangainya... jauh dari pantas. Arogan, kejam, mata keranjang. Ada banyak gadis desa yang jadi korbannya. Kau harus hati-hati dengannya!” jelas Xia, nadanya dipenuhi kebencian.
Murray terdiam, rahangnya mengeras, namun ia hanya bisa mengangguk kecil.
“Sudahlah, ayo kita lanjut ke tempat kerja,” ajak Xia akhirnya.
Mereka melangkah menjauh, hingga kerumunan tak lagi terdengar. Saat itu, Xia melirik bungkusan yang dibawa Murray. Alisnya terangkat penasaran.
“Oh, apa itu?” tanyanya sambil menunjuk.
“Oh, ini... kentang rebus. Bekal dari istriku,” jawab Murray dengan senyum bangga, nada suaranya hangat.
Xia terkekeh kecil. “Ah, istrimu sangat perhatian, ya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
