97.

6 0 0
                                        

BAB 97

"Ah… kau mencari jalang itu ya," ucap Lukas, senyum sinisnya merayap di wajah tampannya, namun penuh niat jahat.

Murray mendengarnya, otot-otot tangannya menegang, urat-uratnya menonjol di kulit. Tanpa disadari, asap hitam tipis mulai menyelimuti beberapa bagian tubuhnya, matanya perlahan bercahaya merah menyala, menambah aura menyeramkan di sekitarnya. Hutan yang sunyi menjadi tegang, dedaunan bergoyang diterpa angin dingin, dan burung-burung melayang menjauh dari pohon.

“Apa kau tahu, istrimu tadi menggodaku? Dia tampaknya tidak bahagia hidup dengan orang miskin sepertimu,” ucap Lukas, tatapannya penuh penghinaan, menyorot Murray dengan nada mengejek.

Amarah Murray meledak. Ia melangkah cepat, meninju Lukas tepat di perut. Pria itu terjengkang ke tanah, menjerit kesakitan. Sudut bibirnya berdarah, pantatnya lecet terkena serpihan kayu saat ia mendarat. Luka dan rasa sakit menguasai tubuh Lukas, tapi ia mencoba tetap menantang.

“Beraninya kau kurang ajar padaku! Apa kau tahu aku ini siapa, ha?!” teriak Lukas sambil mengelap darah di bibirnya.

Murray melangkah mendekat, meraih kerah baju Lukas dengan genggaman kuat. Suaranya rendah tapi tegas, penuh ketegangan: “AKU TANYA, DIMANA ISTRIKU!?”

“KAU BERANI MEMBENTAK-KU! APA KAU TAHU AKU INI SIAPA? AKU ANAK KEPALA DESA! AKU BISA MENYURUH ORANG-ORANG MEMBUNUHMU!” teriak Lukas, menyalurkan kesombongan sekaligus ketakutan yang mulai muncul di wajahnya.

Mendengar itu, Murray tertawa keras, tawanya bergema di hutan, membuat dedaunan berguncang dan burung-burung beterbangan. “Hahaha… ANAK KEPALA DESA? Yang benar saja! Apa hanya itu yang bisa kau banggakan?” Suara Murray penuh amarah sekaligus ejekan, menegaskan dominasinya. Tanpa menunggu lama, Murray menendang Lukas dengan keras, membuat pria itu menjerit kesakitan.

“AAAAAA…!!!” teriak Lukas, tubuhnya gemetar di tanah.

Murray tidak menoleh lagi. Matanya yang bercahaya menatap ke arah hutan, asap hitam tipis mulai membungkus tubuhnya, membuat wujudnya semakin mengerikan dan hampir seperti bayangan gelap yang melayang. Lukas menatapnya dengan ketakutan, tubuhnya gemetar, bahkan air mengalir dari selangkangannya, tanda ketakutan yang tak terkendali.

Murray, tanpa memperdulikan Lukas, mengeluarkan tongkat sihir dari balik bajunya. Ia membaca mantra dengan tenang namun tegas. Sekejap, bayangan Murray menghilang dari pandangan, meninggalkan Lukas yang terkapar kesakitan di tanah, terengah-engah dan tak berdaya.

“Kakiku terasa sakit!” keluh Ivy, suaranya lemah.

Saat itu Ivy berada di bawah pohon rindang di tengah hutan. Daun-daun berguguran ditiup angin dingin musim gugur, dan udara malam menyelimuti tubuhnya. Ia tengah beristirahat karena lelah berlari, kakinya terluka akibat tersandung ranting tajam, terasa perih di setiap langkahnya.

Ivy teringat kejadian beberapa jam sebelumnya. Saat Lukas menyeretnya, ia menendang selangkangan pria itu sekuat tenaga, sehingga Lukas terpaksa melepaskan cengkeramannya. Ivy pun berlari masuk ke hutan, mencari tempat bersembunyi.

“Aku berlari tanpa arah. Sekarang aku tidak tahu di mana, kakiku sakit, langit sudah gelap, dan udara mulai dingin. Aku tidak yakin Murray akan menemukanku dengan cepat,” gumam Ivy dalam hati, napasnya terengah-engah.

Di sela ketakutannya, Ivy membayangkan Murray. Wajahnya yang panik mencarinya hadir di benaknya, membuat hatinya sedikit hangat sekaligus cemas. Ia tersenyum tipis di tengah keputusasaan, namun rasa sedih tetap menyelimuti dirinya.

“Apa aku akan mati di sini… mati karena serangan hipotermia? Ya… bisa jadi, mengingat daerah ini sangat dingin saat malam. Apalagi ini sudah masuk akhir musim gugur. Aku tidak mau mati! Aku ingin pulang untuk bertemu dengannya, tapi aku tidak bisa berjalan.” gumam Ivy dalam hati, napasnya terlihat menguap di udara dingin malam.

Mata Ivy mulai berair. Rasa takut dan keputusasaan menyelimuti dirinya saat membayangkan tidak akan pernah bertemu Murray lagi. Setiap kali dia baru saja merasakan kasih sayang atau cinta, semuanya seakan berakhir terlalu cepat, meninggalkannya sendiri dengan kehampaan. "Akan lebih baik kalau aku tidak merasakan cinta sejak awal, jadi saat kehilangan, aku tidak terlalu sakit," pikirnya sambil menggigit bibir.

"Aku… tidak… mau kehilangannya. Aku mencintainya… Huaaaa!" tangis Ivy pecah, suaranya tercekat di antara rintik-rintik angin malam yang dingin.

Suara tangisnya berhenti seketika ketika terdengar suara geraman keras di dekatnya. Ivy menoleh ke arah semak-semak yang bergoyang, dan jantungnya langsung berdegup kencang. Di sana berdiri sosok manusia serigala, tubuhnya besar, bulu lebat yang menutupi punggungnya, taringnya yang tajam meneteskan air liur, dan matanya menyala kelaparan.

Tubuh Ivy gemetar ketakutan. Ia ingin berlari, tapi kakinya terasa lemas dan sulit digerakkan. Saat makhluk itu hanya beberapa meter darinya, Ivy menutup matanya rapat-rapat, mencoba menerima nasib yang mungkin akan menimpanya. "Apa aku akan mati?" batinnya.

Tiba-tiba terdengar suara retakan dan patahan tulang, suara yang begitu jelas membuat Ivy terperanjat. Dengan gemetar, ia membuka mata sedikit demi sedikit, dan pandangannya tertuju pada seseorang yang berdiri di hadapannya. Serigala itu terguncang kesakitan, tubuhnya seperti tercekik dan perutnya robek, darah mengalir bercampur cairan kental, membuat suara “Zerrrrt…” terdengar menjijikkan.

Ivy menutup mulutnya dan menahan napas, kedua tangannya menutupi wajahnya agar tidak berteriak. Tubuhnya gemetar hebat melihat pemandangan itu. Meskipun ia pernah membunuh beberapa orang, melihat langsung adegan seperti ini membuatnya takut dan hampir tidak bisa bergerak.

Sosok itu kemudian berjalan perlahan mendekati Ivy. Dengan suara gemetar, Ivy berbisik, “Siapa kau?”

“Jangan mendekat!” lanjutnya, matanya masih terpejam rapat, tubuhnya bergetar.

“I… Ivy?”

Suasana panik dan ketakutan Ivy perlahan berkurang ketika suara itu terdengar begitu akrab di telinganya. Perlahan, ia membuka matanya dan melihat sosok yang berselimut kabut hitam, mata bercahaya terang dihadapannya.

“Apa itu… kau Murray?” tanyanya dengan suara pelan, nyaris berbisik.

“I… iya. Ini aku,” jawab Murray, suaranya lembut tapi tegas.

Ivy menatapnya lebih dekat. Kabut tipis di sekitar tubuh Murray mulai menipis, dan ia yakin itu memang suaminya.

Ivy mencoba bangkit dan berlari ke pelukan Murray, tapi baru melangkah, kakinya hampir terjatuh. Beruntung Murray sigap menangkapnya, menahan tubuh Ivy jatuh dan memeluknya dengan erat.

“A, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?” Tanya Ivy panik sambil mengecek wajah Murray, takut ada luka atau cedera yang dialami suaminya.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Murray, menatap Ivy dengan mata lembut penuh kehangatan seperti biasanya. Perlahan, rasa tenang dan aman menyelimuti Ivy saat berada di dekatnya.

Murray memeluk Ivy sangat erat, menyandarkan wajahnya di tengkuk Ivy, dan berkata dengan suara lembut namun tegas, “Aku senang bisa menemukanmu. Kau tahu betapa takutnya aku saat mendengar kau dalam bahaya?”

“Murray…” suara Ivy serak, lembut, penuh haru.

Ivy merasa lega dan terharu, kehangatan Murray mengalir ke seluruh tubuhnya. Air mata kebahagiaan menetes di pipinya. Lebih dari apapun, Ivy merasa bersyukur memiliki Murray sebagai suaminya, pria yang selalu hadir di saat dia membutuhkan perlindungan dan cinta.

“Syukurlah, aku bisa menemukanmu! Apa dia menyakitimu?” tanya Murray, suara penuh kekhawatiran sambil tetap memeluk Ivy, matanya menatap tajam ke arah hutan di mana ancaman tadi muncul.

Bersambung !

***
✨ Pesan Penulis ✨

Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang