15.

111 4 0
                                        

BAB 15


Ivy masuk ke salah satu toilet perempuan di lantai itu. Bau pembersih lantai yang bercampur aroma klorin tipis memenuhi ruangan, sementara suara gemericik air dari keran di ujung membuat suasana terdengar lengang. Ia meraih beberapa lembar tisu dari dispenser, membasahinya sedikit di bawah air dingin, lalu mulai menyeka noda jus jeruk di blusnya. Namun, noda itu membandel, meninggalkan bayangan oranye samar yang tak mau hilang. Wajah Ivy mengernyit kesal. Dengan sedikit menghela napas, ia memutuskan masuk ke salah satu sekat kloset untuk duduk, berharap bisa membereskannya dengan lebih tenang.

Baru saja ia menempatkan dirinya di atas dudukan kloset, suara pintu toilet berderit, lalu dua pasang langkah masuk. Suara tumit sepatu mengetuk ubin yang licin bergema pelan. Ivy awalnya tak terlalu memedulikan—ia lebih fokus pada blusnya—hingga salah satu suara itu terdengar jelas.

“Apa kau sudah dengar berita baru, Danil?”

Nama itu langsung membuat Ivy menghentikan gerakannya. Matanya membesar, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Rasa penasaran mengalahkan niatnya untuk membersihkan noda. Perlahan, ia memiringkan tubuh, mencoba mengintip dari celah sempit pintu sekat, namun celah itu terlalu kecil. Setelah berusaha memiringkan kepala pada sudut yang tepat, ia akhirnya bisa melihat dua sosok yang berdiri di dekat wastafel: Melodi dan Mindi.

Melodi—teman dekat Jessica—pernah diperkenalkan padanya oleh Jessica sendiri. Mungkin Jessica berharap mereka bisa akrab, tapi pada kenyataannya, hubungan itu tidak pernah berkembang. Mindi, di sisi lain, bukanlah orang yang benar-benar ia kenal, meski Ivy tahu gadis itu sekelas dengan Melodi dan Jessica.

“Berita apa? Aku tidak dengar apa pun,” ucap Melodi, suaranya terdengar agak santai tapi jelas penuh rasa ingin tahu.

“Apa toilet ini nggak ada orang lain? Sekalian kita bicara,” tanya Mindi sambil menoleh ke kanan dan kiri, matanya menyapu setiap sekat.

Refleks, Ivy mengangkat kedua kakinya ke atas dudukan kloset. Sekat toilet itu hanya menutup setengah bagian bawah, jadi siapa pun yang menunduk bisa melihat kaki orang yang sedang di dalam. Beruntung, Melodi dan Mindi tidak memperhatikan lebih lanjut.

“Aku rasa cuma kita,” jawab Melodi, suaranya agak merendah.

“Baiklah, soal berita Danil tadi,” Mindi menatap serius. “Danil dan ketiga temannya sudah ditemukan, tapi…” Ucapannya menggantung di udara.

Melodi mengerutkan kening, wajahnya memancarkan ketidaksabaran. “Tapi apa? Jangan bikin aku penasaran!”

Ivy juga menegakkan punggungnya, matanya terfokus ke arah celah pintu, menanti lanjutan.

Mindi akhirnya menghembuskan napas sebelum berkata, “Dia ditemukan meninggal.”

Suasana hening sesaat. Melodi terbelalak. “Apa?! Kok bisa? Itu kecelakaan atau pembunuhan? Dan… di mana dia ditemukan?”

“Di tengah hutan Great Wood, kemarin sore,” jawab Mindi ragu. “Belum ada keterangan lebih lanjut, tapi… ada dugaan itu pembunuhan.”

“Ya Tuhan…” Melodi menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membulat, seolah mencoba memproses kabar yang baru ia dengar.

“Aku punya sesuatu yang lebih mengerikan,” bisik Mindi, kini nadanya lebih hati-hati.

“Apa?” desak Melodi, matanya tajam penuh penasaran.

“Katanya, ini ada hubungannya dengan kematian Jessica,” ucap Mindi, membuat napas Melodi dan Ivy sama-sama tercekat.

“Loh… kok bisa?” Melodi mengerutkan alis, ekspresinya tercampur antara kaget dan bingung.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang