13.

116 5 0
                                        

BAB 13


Ivy mencoba lagi. Tatapannya terkunci pada sebuah buku tebal berwarna cokelat di rak, tepat di depannya. Jaraknya tak lebih dari delapan puluh sentimeter, namun rasanya seperti jarak yang harus dijangkau dengan kekuatan tak kasat mata. Udara di perpustakaan tua itu terasa dingin dan tenang, hanya terdengar bunyi jarum jam tua berdetak di dinding dan suara samar angin dari jendela tinggi di sisi ruangan.

Dengan napas perlahan, Ivy mengucapkan mantra itu sekali lagi, suaranya nyaris seperti bisikan. Tiba-tiba—

BUUK!

Buku itu terlepas dari rak dan jatuh menghantam lantai kayu yang dingin. Suaranya memecah kesunyian ruangan. Ivy tersentak, matanya melebar, dan tubuhnya kaku di tempat. Mulutnya terbuka, namun tak ada satu kata pun keluar. Ia hanya menatap buku yang kini tergeletak di lantai dengan pandangan tak percaya.

Beberapa detik terasa seperti menit. Ia baru kembali sadar setelah mengedipkan mata beberapa kali. Tangannya, yang sedikit bergetar, perlahan ia angkat untuk menatap telapak tangannya sendiri.
“Mu… mustahil. Apa ini kebetulan? Aku harus mencobanya lagi!” gumamnya dengan suara yang bergetar oleh campuran rasa takut dan penasaran.

Ia menatap buku lain di rak seberang, mengatur napas, lalu mengucapkan mantra itu sekali lagi. Dan… buku itu jatuh. Kali ini Ivy tersenyum lebar, matanya berbinar. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena takut—melainkan kegembiraan yang sulit ia jelaskan. Rasanya seperti menemukan sesuatu yang selama ini hilang dalam hidupnya.

“Ini… luar biasa!” bisiknya sambil tersenyum cerah, matanya masih menatap buku yang jatuh itu.

Ia menoleh ke sekeliling, memastikan ruangan itu benar-benar kosong. Rak-rak tinggi dipenuhi buku tua, namun tak ada satupun bayangan manusia. Bahkan CCTV pun tak terlihat di sudut-sudut langit-langit perpustakaan itu. Dengan cepat, ia menyelipkan buku cokelat itu ke dalam bajunya. Kaos longgar yang ia kenakan membuatnya mudah menyembunyikan benda tersebut.

Ivy melangkah menuju pintu keluar. Saat melewati meja pengawas, ia melihat kursi di belakang meja itu kosong—Dizel tidak ada. Napasnya keluar lebih lega. Ia segera mengambil barang-barangnya dari loker, lalu melangkah keluar dari gedung perpustakaan tua itu.

Udara dingin kota Manchester langsung menyambutnya. Langit sore mulai memudar menjadi abu-abu, khas musim gugur. Saat ia menuruni tangga depan gedung, tiga pemuda berpakaian serba hitam berjalan menaiki tangga menuju pintu masuk. Salah satunya memiliki rambut yang mirip dengan Brayen, namun wajahnya terlihat lebih dewasa, dan tubuhnya sedikit lebih kecil. Pandangan mereka sempat beradu sepersekian detik. Laki-laki itu segera memalingkan wajahnya dan melangkah masuk, seolah tak mengenali Ivy. Tanpa berpikir panjang, Ivy melanjutkan langkahnya menjauh.

Keesokan harinya, suasana sekolah seperti biasa ramai dengan suara langkah kaki dan percakapan siswa yang memenuhi lorong. Brayen berjalan cepat di koridor, melewati deretan loker besi berwarna biru. Beberapa siswa menyapanya ramah, dan ia membalas dengan senyum singkat, namun tidak melambat. Ada sesuatu yang jelas membuatnya terburu-buru. Sesekali, matanya bergerak cepat ke kiri dan kanan, seperti mencari seseorang.

Hingga pandangannya tertuju pada Natali, yang sedang tertawa kecil bersama dua sahabatnya, Margaret dan Sementa. Begitu melihatnya, Brayen langsung menghampiri. Natali sempat mengangkat tangan hendak menyapa dengan ramah—bahkan hampir memanggilnya “Sayang”—namun belum sempat kata itu terucap, Brayen telah meraih pergelangan tangannya.

“Eh… Brayen?” seru Natali kaget, tapi ia tak sempat menahan langkahnya ketika Brayen menariknya menjauh.

Mereka berjalan cepat melewati beberapa siswa yang menoleh penasaran, hingga akhirnya tiba di taman belakang sekolah. Tempat itu sepi, hanya terdengar suara burung gereja yang hinggap di pohon maple tua dan desir angin yang menggoyangkan dedaunan.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang