BAB 35
"Tutup mulutmu, dasar jalang murahan! Seharusnya kau tahu batasmu, dan siapa lawanmu!" teriak Natali, suaranya penuh kemarahan saat melihat perlawanan Jesicca.
Elena tak berkata apa-apa, dia melangkah maju dengan wajah dingin dan mendorong Jesicca hingga terjatuh ke lantai-tepat di antara pecahan gelas kimia yang berserakan. Lengan dan bokong Jesicca terluka, darah mulai mengalir deras di lantai laboratorium yang dingin dan berbau kimia.
Jesicca, merasa terancam dan panik, segera meraih pecahan kaca di dekatnya. Dengan tatapan penuh amarah dan kebencian, dia mencoba menyerang Elena. Natali langsung mencoba menahan Jesicca, mereka saling dorong beberapa detik, hingga Elena datang membantu Natali mendorong Jesicca. Akibatnya, Jesicca terjatuh dalam posisi terlungkup, dan pecahan kaca menancap di perutnya. Suara rintihan kesakitan keluar dari mulutnya, darah mengalir deras membasahi lantai. Ivy yang mengintip dari balik jendela gemetar ketakutan, matanya melebar, napasnya tercekat.
Tanpa sengaja, Ivy menjatuhkan HP-nya. Suara itu membuat Natali dan Elena menoleh ke arah asal bunyi. Mereka panik sesaat, tapi Ivy dengan cepat menyingkir, bersembunyi di balik lemari agar tidak ketahuan.
"Jesicca?!" teriak Elena panik, langkahnya cepat menghampiri gadis itu. Tangan Elena gemetar saat menyentuh darah Jesicca, wajahnya pucat pasi. Natali terlihat lebih panik, wajahnya tegang dan matanya menatap Jesicca dengan ketakutan, seakan tidak berani bergerak.
"Apa... apa kau baik-baik saja?" tanya Elena, suaranya bergetar, tangan dan tubuhnya gemetar.
"Sebaiknya kita pergi! Percuma menolongnya, kita bisa masuk penjara!" ujar Natali panik sambil menarik pergelangan tangan Elena.
"Tapi... bagaimana dengan Jesicca?" tanya Elena, ragu dan ketakutan.
"Biarkan saja! Dia pasti selamat. Daripada kita yang masuk penjara-apa kau mau ikut masuk penjara?" balas Natali tegas, hanya dibalas gelengan kepala oleh Elena.
Elena dan Natali akhirnya meninggalkan laboratorium, namun di ambang pintu, Natali kembali masuk-bukan untuk menolong Jesicca, melainkan menjatuhkan lemari kaca yang berisi bahan kimia mudah terbakar. Lemari itu jatuh tepat di atas kabel listrik, memicu percikan api yang cepat membesar. Kebakaran pun dimulai sebelum mereka akhirnya pergi, memisahkan diri untuk menghilang dari tempat kejadian.
Sementara itu, Ivy menatap telepon umum di sudut koridor sekolah. Tangan kecilnya gemetar saat ia menelepon pemadam kebakaran dan ambulans. Hatinya dipenuhi kecemasan-dia tidak yakin apakah aksinya akan cukup membantu, tapi dia bertekad melakukan yang terbaik.
Setelah memastikan panggilan darurat tersambung, Ivy berlari secepat mungkin, mencari dirinya di masa lalu. Tujuannya jelas: mencegah dirinya di masa lalu pergi ke laboratorium. Namun itu tidak mudah. Dia harus berhati-hati agar tidak terekam CCTV, dan sering kali menggunakan kekuatan sihirnya untuk menjaga keamanan setiap langkahnya. Setiap kali menggunakan sihir, tubuhnya terasa lemah, energi seakan tersedot habis, membuat langkahnya semakin berat. Tapi tekadnya tetap membara-dia tidak boleh gagal.
Saat Ivy melewati gedung belakang sekolah, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya menangkap sosok seorang gadis berambut merah yang berjalan kebingungan di antara bayangan gedung. Ivy menundukkan badannya, bertopang pada lututnya untuk menahan kelelahan, napasnya dihirup dan dihembuskan dengan cepat, tubuhnya terasa lemas setelah berlari begitu jauh.
Elena menatap Ivy dengan mata terbelalak, terkejut melihat sosok yang muncul begitu tiba-tiba. Ia hendak memutar tubuhnya, mencari jalan lain untuk menghindar, namun sebuah kalimat yang terdengar tegas dan penuh rasa ingin tahu menghentikannya di tempat.
"Kenapa? Kenapa kau tidak menolongnya? Aku yakin kau orang baik," ucap Ivy, suaranya lembut tapi penuh penekanan.
Elena menoleh seketika, matanya menyapu ke arah suara itu, tapi sosok Ivy tidak terlihat. Gadis itu menghilang begitu cepat, meninggalkan Elena dengan perasaan bingung, panik, dan takut-seseorang telah menyaksikan tragedi yang terjadi, dan itu membuat hatinya berdebar tidak menentu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
