14.

102 3 0
                                        

BAB 14




---

Ivy berdiri di depan lemari kayu sederhana yang menempel di dinding kamarnya. Cahaya pucat dari langit Manchester pagi itu menyelinap melalui tirai tipis, menyoroti deretan seragam sekolah yang tergantung rapi. Ia menelusuri gantungan itu dengan pandangan penuh kebingungan.

“Di mana ya baju seragamku…?” gumamnya sambil menghitung. “Seingatku, aku punya tiga baju seragam ini, tapi… kenapa cuma ada dua? Apa lagi dicuci?” Suaranya terdengar kesal bercampur heran.

“Aku harus menanyakannya nanti ke Mama,” ia menambahkan, suaranya lebih pelan.

Tanpa berlama-lama, Ivy mengambil salah satu seragam yang masih tergantung, lalu memakainya. Setelah itu, ia mengambil baju ganti berupa kaos dan rok, memasukkannya ke dalam tas. Itu sudah menjadi kebiasaan sejak insiden terakhir—langkah berjaga-jaga kalau saja Natali atau gengnya kembali mengerjainya.

Sebelum meninggalkan kamar, pandangan Ivy sempat tertarik ke arah jendela. Di halaman belakang rumah, dedaunan kering berserakan di atas rumput basah sisa hujan malam. Matanya menatap fokus pada tumpukan daun itu. Bibirnya bergerak-gerak, mengucapkan kata-kata aneh yang tak dimengerti orang biasa. Jemarinya bergerak di udara, seakan mengatur sesuatu yang tak kasat mata.

Perlahan, dedaunan itu terangkat, berputar-putar di udara. Angin tipis berkumpul, membentuk pusaran kecil—tornado mini yang menari di tengah halaman. Ivy tersenyum puas, matanya berbinar. Namun kesenangan itu buyar saat alarm ponselnya berbunyi nyaring, mengingatkannya bahwa ia harus segera berangkat ke sekolah.

Ia menghentikan mantranya, dedaunan pun jatuh kembali ke tanah. Menatap telapak tangannya, ia berbisik penuh rasa bangga, “Tidak sia-sia aku bolos sekolah beberapa hari untuk mempelajari buku sihir ini. Sekarang… aku bisa mengendalikannya lebih baik.”

Ivy meraih tasnya, lalu memasang headset dan masker untuk menutupi bekas luka di wajahnya. Baru saja melangkah keluar kamar, ia terhenti. Matanya tertuju pada sebuah buku tua berwarna kecokelatan di atas meja. Buku yang ia curi dari perpustakaan beberapa hari lalu. Ia cepat-cepat meraihnya dan memasukkannya ke dalam tas, memastikan benda itu selalu bersamanya.

Menuruni tangga dengan langkah cepat, Ivy berhenti di anak tangga terakhir. Suara berisik dari dapur menarik perhatiannya. Dari pintu dapur, ia melihat ibunya, Linda, sedang sibuk mengaduk adonan kue. Perut ibunya yang besar karena hamil tua tampak bergerak setiap kali ia membungkuk sedikit.

Bukan kue untuk Ivy, tentu saja. Itu untuk merayakan ulang tahun suami barunya—pria yang Ivy benci. Rasa perih menusuk dadanya. Sebulan lalu aku ulang tahun yang ke-17… tapi dia melupakannya. Sekarang dia repot-repot mengingat ulang tahun pria bejat itu… batinnya getir.

Ivy berbalik menuju pintu, tapi tanpa sengaja berpapasan dengan Rouni di lorong. Pria itu berniat menyapa, tapi sebelum sempat membuka mulut, Ivy sudah melafalkan mantra singkat. Tiba-tiba kakinya tersandung oleh sesuatu yang tak terlihat, membuatnya terhuyung lalu jatuh ke lantai. Ivy berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun.

Linda buru-buru meninggalkan adonan kue dan berlari kecil untuk membantu suaminya, sementara Ivy membuka pintu depan dan melangkah keluar. Udara segar bercampur aroma lembap khas kota Manchester memenuhi hidungnya. Langkahnya ringan—berbeda dari biasanya. Ada semangat baru yang tumbuh di dalam dirinya, kekuatan yang kini ia genggam.

---

Setengah jam kemudian, Ivy tiba di sekolah. Gerbang sekolah yang besar menjulang di depannya, dan suasana pagi itu dipenuhi riuh rendah suara siswa yang baru datang. Ivy melangkah memasuki kelasnya dengan santai, langkahnya ringan namun tetap waspada.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang