30.

80 4 0
                                        

BAB 30




Ivy mendesah kasar, udara malam yang dingin menusuk tulang sambil ia memutuskan untuk berhenti memikirkan semua masalah itu. Memikirkan Rouni dan kekacauan hari ini hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Namun masalah baru muncul: ia bingung harus bermalam di mana. Pulang ke rumah bukan pilihan, mengingat insiden dengan Rouni tadi sore. Rasa takutnya—meski samar—membuatnya yakin pria itu bisa saja melaporkannya ke polisi. Ibunya mungkin akan mempercayai Rouni, jadi untuk sementara, rumah bukanlah tempat aman.

"Pria bejat seperti dia pantas menerima hal ini!" gumam Ivy dalam hati, rahangnya mengeras, matanya menatap gelap ke jalanan kosong di depannya.

Sambil berjalan perlahan, Ivy terus berpikir ke mana ia bisa menginap malam itu. Tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada hotel bintang lima di seberang jalan, tepat di pinggir taman. Gedung itu megah, lampu-lampu kuning hangat menerangi fasadnya, dan terlihat ramai meski malam telah larut. Sebuah ide muncul di kepala Ivy—ia bisa tidur di sana, menggunakan sihirnya untuk membuat para pegawai hotel tunduk dan tidak curiga.

Senyum tipis merekah di bibir Ivy. Ia tak pernah membayangkan akan menginap di hotel semewah itu; bahkan berani membayangkannya saja terasa mustahil. Namun dengan kekuatannya, semua yang mustahil bisa menjadi nyata. Bukankah impian Ivy sebenarnya sederhana? Namun ironisnya, hal sederhana itu terasa begitu sulit untuk dimiliki.

Dengan semangat baru, Ivy mulai menyeberang jalan menuju hotel, menunggu sejenak hingga lalu lintas sepi. Saat ia berdiri menunggu di tepi trotoar, suara notifikasi dari ponselnya memecah kesunyian. Ivy menoleh cepat dan melihat layar—pesan dari Brayen.

Ia membuka pesan itu dengan jantung berdebar. Pesan itu sederhana, hanya menanyakan kabarnya sekarang. Namun hal itu membuat hati Ivy tersentuh sekaligus merasa bersalah. Ia ingin tahu bagaimana ia terlihat di mata Brayen, ingin memahami apa yang dia pikirkan tentang dirinya. Di balik rasa penasaran itu, kerinduan Ivy menguasai dirinya. Ia ingin memeluk Brayen, mencium bibirnya, meski sadar pria itu mungkin sudah memiliki kekasih.

"Apakah aku sekotor itu?" gumam Ivy, matanya menatap layar ponsel seolah mencari jawaban.

Ia menyadari, pikiran-pikirannya terasa kotor. Banyak hal yang ia lakukan—menggunakan sihir untuk menyakiti orang lain, memata-matai rahasia mereka, bahkan melakukan hal-hal di luar nalar—semuanya membuatnya merasa bersalah dan kotor. Tapi alih-alih menyesal, ia malah berpikir untuk melangkah lebih jauh, daripada hanya setengah-setengah.

"Aku sudah kotor… kenapa tidak sekalian jatuh saja? Tidak masalah dipenuhi lumpur," bisiknya, suara lembutnya tertelan oleh hembusan angin malam Manchester yang dingin.

"Aku… apakah aku bisa jadi selingkuhan? Tapi, apakah dia mau memiliki kekasih buruk rupa seperti aku?" gumam Ivy sambil menatap layar ponselnya, matanya menyorot pesan dari Brayen dengan campuran rindu dan keraguan.

Sebenarnya, Ivy tidak begitu yakin bisa mendapatkan Brayen kembali, apalagi dengan wajahnya yang sudah rusak akibat insiden sebelumnya. Namun keinginannya begitu kuat, ia ingin mencoba mendekati Brayen lagi, meski hanya untuk sesaat, meski hanya untuk merasakan kembali kedekatan yang dulu pernah ada.

Dengan tangan gemetar, Ivy menekan tombol panggilan. Jantungnya berdebar tak karuan, dan perutnya terasa geli seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan. Ia gugup, tetapi ada sensasi aneh yang membuatnya menikmati detik-detik itu.

Beberapa detik berlalu, Ivy menunggu dengan napas tertahan, namun teleponnya tidak segera diangkat. Keraguan mulai merayapi pikirannya—apakah Brayen memang sengaja tidak ingin mengangkat panggilan ini? Saat ia bersiap untuk mematikan panggilan, suara berat namun familiar terdengar dari speaker.

"Hai Ivy, a… iya Ivy, ada apa? A… maaf lama ngangkat telponnya, tadi aku baru menemui ayahku."

Suara Brayen terdengar gugup, terdengar bergetar, dan setiap kata yang keluar membuat jantung Ivy terasa seperti ingin melompat dari dadanya. Perasaan senang yang aneh memenuhi tubuhnya, seakan ia sedang terbang di udara.

"Brayen, aku merindukanmu," ucap Ivy dengan suara bergetar, tapi tegas. Suasana menjadi hening di ujung telepon. Brayen terdiam, tidak bisa langsung menjawab.

"Aku…" suara Brayen mulai terdengar, namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara keras pecah di telinga Ivy. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menabraknya.

Tubuh Ivy melayang di udara, pandangannya masih mampu menangkap langit malam yang gelap dan jalanan yang ramai dengan lampu kota Manchester yang berkelap-kelip. Dalam sekejap, ia merasakan tubuhnya menabrak aspal keras, dan pikirannya mulai dipenuhi rasa takut—apakah ini saatnya ia mati? Namun detik berikutnya, tubuhnya seolah jatuh ke dalam kegelapan, dan semuanya terasa dingin hingga menusuk tulang.

Tangannya dan seluruh tubuhnya terasa kaku, suaranya seakan tertahan di tenggorokan, namun ia masih sadar dan bisa bernafas. Ketika Ivy membuka mata kembali, dunia yang ia lihat berbeda. Ia tidak lagi berada di jalan raya yang ramai, tapi di dekat taman dan hotel yang tadi ia tuju. Namun semuanya tampak berubah—salju putih menutupi setiap permukaan, udara terasa segar dan dingin, dan langit tampak cerah meski masih sedikit mendung. Seluruh lanskap tertutup salju yang indah, membuat suasana menjadi tenang, namun aneh.

"Aku… ada di mana? Apa aku sudah mati?" gumam Ivy, menatap sekelilingnya dengan mata terbelalak. Hatinya dipenuhi rasa takut, penasaran, dan kebingungan.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang