100

7 0 0
                                        

BAB 100

Beberapa jam kemudian, Murray telah pergi berburu, sementara Ivy menyibukkan diri merawat kebun. Udara sore yang segar menyelimuti wajahnya, suara burung berkicau dan daun-daun bergesekan dihembus angin kecil membuatnya merasa damai. Setelah selesai, Ivy pergi mencari kayu bakar di sekitar rumah.

Saat mengambil kayu, matanya menangkap sosok pria yang terbaring tidak jauh dari rumah. Tubuh pria itu tampak lemah dan tidak sadarkan diri. Penampilannya modern, usia sekitar tiga puluhan, rambut putih yang mengingatkan Ivy pada saat ia kehilangan seluruh energinya. Jantung Ivy berdegup kencang. Sekelebat ingatan tentang Cagatay muncul di benaknya.

Ivy terdiam sejenak. Sesuai ingatan sang ayah, dia memang pernah bertemu dengan Cagatay Cotton Ulusoy, sekitar pertengahan tahun 1322. Kini, pria itu muncul kembali di hadapannya, dalam keadaan yang mengingatkan Ivy pada masa ketika ia pertama kali tiba di zaman ini.

Awalnya Ivy ingin mengabaikannya, dendam terhadap pria itu masih membekas. Namun, setelah berpikir sejenak, ia memutuskan membawa pria itu pulang. Setibanya di rumah, Ivy merawatnya dengan penuh hati-hati. Ia tidak menggunakan sihir karena itu bisa membahayakan kesehatan pria itu.

Setelah menyelesaikan perawatan, Ivy segera memasak. Ia tahu Murray akan segera pulang, seperti biasanya, tepat waktu, apapun yang terjadi. Aroma masakan hangat menyebar di rumah, menambah ketenangan yang kontras dengan rasa khawatir yang masih tersisa di hatinya.

Tepat ketika Ivy meletakkan piring terakhir di meja, suara langkah berat terdengar di pintu. Murray telah tiba. Matanya membelalak saat melihat seorang pria tak dikenal berada di rumah mereka. Meskipun kemarahan menyala di wajahnya, Murray tetap menahan diri, tidak pernah bersikap kasar terhadap Ivy.

“Dia siapa?” tanya Murray, tatapannya tajam, penuh kecurigaan dan sedikit cemburu.

Ivy menoleh pada suaminya, kemudian menatap pria yang terbaring di atas tempat tidur, masih tak sadarkan diri. Suaranya nyaris berbisik saat berkata, “Dia itu ayahku, tahu.”

Murray terkejut, alisnya terangkat. “A… ayah katamu?!”

“Ya, dia Cagatay Cotton Ulusoy,” jawab Ivy, lalu kembali ke kegiatannya. Dengan sigap, ia menata makanan di atas meja, memasukkan semua masakan ke dalam mangkuk. Murray masih terpaku, kebingungan, sementara Ivy mulai kesal melihat kebingungannya.

“Kenapa Cagatay bisa ada di sini?” tanya Murray, suaranya terdengar tegas.

Ivy menatapnya dengan mata yang sedikit menyala karena kesal. “Pria itu terlalu terobsesi dengan mantra sihir kuno. Dia mempelajarinya sebagai pelampiasan karena dikekang orang tuanya. Tanpa sengaja, dia terlempar ke zaman ini karena menggunakan mantra terlarang perjalanan waktu. Apa kau sudah puas? Jangan bertanya apapun lagi!” ucap Ivy dengan nada tinggi, jelas menunjukkan kemarahan dan ketidaknyamanannya.

Murray mengangguk, mulai mengerti situasi Cagatay. Namun, satu hal tetap membingungkan hatinya: Ivy tampak membenci ayahnya sendiri. Saat Ivy marah karena terlalu banyak pertanyaan, Murray memilih diam, menghormati batasan istrinya.

Setelah Ivy mulai tenang, ia perlahan menceritakan masalah keluarganya kepada Murray. Ini pertama kalinya ia membicarakan masa lalunya, karena biasanya Ivy menghindari topik tersebut. Murray mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memaksanya bercerita.

Saat cerita selesai, Ivy tampak murung, menatap kosong ke luar jendela. Malam mulai turun, udara sejuk masuk melalui celah jendela. Tidak lama kemudian, Xia datang, membawa banyak barang untuk Ivy sebagai hadiah dari istrinya. Ivy menerima dengan senyum, hatinya hangat dan bersyukur.

Keesokan harinya, Xia berpamitan pulang. Tak lama setelah itu, Cagatay tersadar, meski tubuhnya masih lemah. Murray yang peduli, merawatnya dengan penuh perhatian. Ivy terlihat acuh, tapi Murray tetap sabar, sekaligus menjalin hubungan baik dengan ayah istrinya.

Seiring kondisi Cagatay membaik, Murray baru memberitahunya di mana mereka berada. Pria itu terkejut, sama seperti Ivy dan Murray saat pertama kali mengetahui zaman mereka sekarang. Saat Cagatay menyadari bahwa Ivy dan Murray berasal dari dua abad berbeda dari asalnya, ekspresinya berubah penuh keterkejutan dan kebingungan.

---

Murray juga memberitahu siapa sebenarnya Ivy, hal itu karena Ivy tak kunjung mengungkapkan identitasnya sendiri kepada Cagatay dan selalu bersikap acuh. Saat Ivy mengetahui hal itu, amarahnya memuncak kepada Murray. Namun yang lebih menyakitkan hatinya, Cagatay tidak mempercayainya begitu saja.

Hal itu wajar. Siapa pun pasti tidak akan mudah percaya jika menyangkut anaknya sendiri. Padahal saat itu, Cagatay belum menikah, bahkan tidak memiliki kekasih. Ivy menelan ludah, hatinya campur aduk antara kesal, gugup, dan ingin membuktikan dirinya. Ia mencari sesuatu yang bisa membuktikan kebenaran.

Matanya tertuju pada kalung dengan kunci mainan milik Cagatay yang terselip di meja. Ingatan Ivy tersambung: kalung kunci itu mirip dengan yang diberikan Cagatay padanya di masa depan, meski berbeda zaman. Dengan hati-hati, Ivy mengambil kalung itu dan menunjukkannya pada Cagatay.

Wajah pria itu berubah pucat. Matanya melebar, napasnya terhenti sesaat. “Itu… itu kunci saya?” gumamnya, suaranya nyaris bergetar.

Ivy mengangguk, menahan napas. “Iya, ayah. Kunci itu sama, meski berada di masa yang berbeda. Tidak mungkin dipalsukan. Aku… aku datang dari masa depan.”

Cagatay menelan ludah, tubuhnya gemetar setengah tak percaya. Namun setelah beberapa saat, senyum tipis muncul di wajahnya, campuran antara lega dan kebahagiaan. “Jadi… gadis ini… anakku… benar-benar datang dari masa depan?” pikirnya.

***

Malam itu, Cagatay berjalan cepat melewati halaman rumah, langkahnya berisik di atas salju tipis yang menutupi tanah. Kabut tipis melingkupi pepohonan, sementara udara dingin menusuk tulang. Ia mendekati pintu kayu dengan tergesa-gesa.

“Bak!” Pintu terbuka dengan keras, menimbulkan bunyi menggelegar yang memekakkan telinga.

Di dalam kamar, sepasang tubuh berhenti bergerak seketika. Mata mereka melebar, campuran antara kaget dan kesal. Seorang gadis muda yang sebelumnya berada di atas tubuh pria itu segera menunduk dan berlindung di belakangnya, menutupi hampir seluruh tubuhnya. Sementara pria muda itu cepat-cepat meraih selimut untuk menutupi mereka.

Cagatay menatap sepasang manusia itu dengan mata melotot, hampir tak percaya. Mata mereka yang besar menatapnya dengan campuran rasa takut dan malu. “APA YANG KALIAN LAKUKAN DI TENGAH MALAM?!” teriak Cagatay, amarahnya membahana, suaranya bergema di kamar kecil itu.

Murray menatap balik dengan tegas, suaranya mantap. “Anda tidak sopan, tuan!”

Cagatay mengangkat satu alis, menunjuk ke arah Murray dan Ivy dengan wajah memerah karena emosi. “Kau… kau berani bilang aku tidak sopan?! Kalian yang tidak waras!”

“Kenapa… kenapa kalian—belum menikah—melakukan hu…” Cagatay belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Dengan tenang tapi tegas, Murray memotongnya. “Kami sudah menikah.”

Ucapan itu membuat Cagatay terhenti, alisnya naik, bibirnya terkatup kaku. “A… apah?” gumamnya, suara penuh kekagetan.

Murray mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin pernikahan sederhana di jari manisnya. “Kami sudah menikah selama tiga tahun. Apa salah kami melakukan ini agar hubungan kami tetap hangat? Kami suami istri,” tegas Murray, matanya memancarkan kebanggaan sekaligus ketegasan.

Ivy tetap diam di belakang Murray, menunduk. Wajahnya memerah, pipinya panas. Ia merasa malu karena ayahnya memergokinya sedang bersama suaminya, dalam keadaan yang… terlalu pribadi. Matanya berkaca-kaca, campuran antara malu, kesal, dan sedikit lega karena Murray tegas membela mereka.

Cagatay terdiam, napasnya tersengal. Ia menatap kedua anak manusia itu, campuran perasaan marah, bingung, dan… perlahan, menerima kenyataan bahwa putrinya telah tumbuh dewasa, memiliki keluarga, dan membuat pilihan hidup sendiri.

---

Bersambung !

***
✨ Pesan Penulis ✨

Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️



SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang