Pesan Penulis
Halo, pembaca yang baik. Sebelum memulai, izinkan penulis menyampaikan sedikit hal. Cerita ini hanyalah sebuah karya fiksi. Jika di dalamnya terdapat perilaku yang buruk, mohon jangan ditiru, namun jika ada nilai yang baik semoga bisa diambil sebagai pelajaran.
Apabila terdapat kesalahan penyebutan nama, tempat, atau kesamaan dengan kehidupan nyata, itu murni kebetulan belaka. Penulis sama sekali tidak bermaksud menyinggung pihak manapun.
Selamat membaca, semoga Anda menikmati perjalanan cerita ini.
***
Bab 1
Empat pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun berlari terbirit-birit dari arah hutan lebat, napas mereka memburu dan pakaian seragam sekolah yang mereka kenakan sudah kotor, robek, dan bercak darah menutupi hampir seluruh bagian. Mereka menembus kabut tipis yang menggantung rendah di antara pepohonan, menuju sebuah mobil sedan mewah berwarna putih yang terparkir di pinggir jalan kecil yang nyaris tak terlihat.
Setelah sampai di mobil, mereka dengan tergesa-gesa membuka pintu, masuk, dan menyalakan mesin mobil. Suara mesin yang meraung bergema di tengah hutan yang hening, mengusik kesejukan malam Inggris yang dingin dan basah. Daun-daun basah yang tertiup angin berderak, dan ranting-ranting pohon bergesekan satu sama lain, menambah suasana tegang yang mengelilingi mereka.
Salah seorang dari mereka, tubuhnya masih bergetar ketakutan, menoleh ke teman-temannya dengan wajah pucat dan mata yang hampir tak percaya. "Apa kalian yakin meninggalkan dia di sini? Bagaimana jika dia benar-benar mati?" tanyanya dengan suara serak, hampir tenggelam di antara dentuman mesin mobil.
"Danil! Justru kalau kita membawanya, kita yang akan terkena masalah. Apa kau lupa apa yang sudah kita lakukan padanya hari ini?!" bentak Je, nadanya meninggi, kedua tangannya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih.
Danil menahan diri untuk tidak membalas. Di dalam hati, ia menggerutu, Kalian yang melakukannya, bukan aku! Tatapannya beralih ke Mak dan Hugo. Keduanya terdiam, wajah mereka kaku dan pucat, seolah menghindari beban yang menggantung di udara.
Hening menelan kabin mobil, hanya suara mesin yang menderu pelan. Mak, yang duduk di kursi penumpang depan, tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan berkata dengan nada datar namun penuh keyakinan, "Kalau untuk dia... aku rasa kita tak perlu khawatir. Kita pasti dilindungi oleh orang tua mereka. Bukankah mereka yang memerintahkan kita melakukan ini padanya ? Kalau mereka tidak melindungi kita, kita hanya perlu menyeret nama mereka."
Ucapan itu membuat Je, dan Hugo saling pandang sejenak, lalu napas mereka terasa lebih lega, seolah beban di dada sedikit terangkat. Namun bagi Danil, kata-kata itu justru seperti menekan dadanya lebih keras. Ia memalingkan wajah ke jendela, menyaksikan pepohonan hutan yang semakin menjauh, terbungkus kabut tipis malam. Rasa bersalah itu menelannya hidup-hidup. Meskipun tangannya sendiri tak pernah menyakiti dia, diamnya-hanya berdiri dan membiarkan-membuatnya merasa sama kotornya dengan mereka. Jemarinya masih bergetar di pangkuan, dan dalam hati ia tahu, dosa ini akan terus mengikutinya. Perlahan, mobil bergerak meninggalkan hutan, meninggalkan aroma basah tanah dan daun yang terinjak di udara malam.
Begitu suara mesin menghilang, hutan kembali tenggelam dalam kesunyian. Hanya suara dedaunan yang bergesekan diterpa angin sore, kicauan burung yang sesekali terdengar, dan dengungan serangga yang membentuk irama monoton. Namun, ketenangan itu pecah ketika terdengar suara isak tangis dari dalam hutan.
Begitu keempatnya pergi, hutan kembali sunyi. Angin malam berdesir di antara pepohonan tinggi, membawa aroma lembap tanah Inggris yang khas. Suara serangga malam berdengung lembut, dan kicauan burung yang terbang rendah menambah nuansa hening yang seolah menahan napas. Namun, tiba-tiba, suara isak tangis memecah kesunyian. Suara itu terdengar pilu, menusuk, seolah hati siapapun yang mendengarnya akan pecah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
