BAB 94
Masih menatap Murray. Dia terlihat senang saat melihat pria itu dalam keadaan baik-baik saja, meskipun ekspresi wajahnya tetap terlihat buruk. Tatapan itu menyimpan amarah yang belum reda, kekecewaan yang masih tertinggal, terutama terhadap Ivy.
“AKU MENCINTAIMU!” Suara teriakan Murray yang menggelegar membuat Ivy terlonjak kaget.
Pintu kayu toko roti yang setengah terbuka bergetar pelan akibat teriakannya. Aroma roti hangat bercampur dengan harum mentega memenuhi udara, namun suasana yang seharusnya nyaman itu mendadak berubah tegang.
Nyonya Loren dan Dion yang berada di belakang, sontak berlari ke arah suara itu. Begitu menyadari bahwa orang yang membuat keributan itu adalah Murray, mereka hanya berdiri terpaku. Nyonya Loren menyilangkan tangan di dada, seolah menimbang sesuatu, sementara Dion diam tak bersuara, hanya menonton dengan tatapan penuh tanda tanya.
“AKU SUNGGUH-SUNGGUH MENCINTAIMU DAN AKU SERIBU KALI LEBIH BAIK DARI KEKASIHMU! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN KAMU PERGI MENINGGALKANKU! KAU HARUS SADAR, SEKARANG KAU ADALAH ISTRIKU. KAU HANYA MILIKKU!”
Kata-kata Murray memantul keras di dinding toko. Beberapa pelanggan yang baru lewat di depan toko berhenti melangkah. Mereka saling berbisik, sebagian memandang dengan rasa ingin tahu, sebagian lagi hanya berdiri menonton layaknya pertunjukan.
Ivy merasakan wajahnya memanas, bukan hanya karena marah, tapi juga malu. Darahnya berdesir cepat, membuat urat-urat di pelipisnya menegang. Ia menatap Murray dengan mata melotot, bibirnya bergetar menahan amarah.
“Apa kau gila! Kenapa kau mengatakan hal konyol di toko orang!” ucap Ivy lirih, namun penuh tekanan.
Meski hatinya berkecamuk, ada sesuatu yang aneh bergetar di dalam dirinya. Seperti ada bunga yang mekar tiba-tiba di lubuk hatinya, meski ia mati-matian berusaha menutupinya.
“AKU TIDAK PEDULI!” bentak Murray lantang.
“AKU MENCINTAIMU, ELSIE COTTON!!” teriaknya lagi.
Suara itu menghantam jantung Ivy seperti palu. Nafasnya memburu, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari air panas. Ia merasa melayang sesaat, seakan seluruh dunia hanya dipenuhi suara Murray. Namun sekelebat ingatan kelam tentang masa lalunya menyambar, membuatnya jatuh kembali ke bumi dengan perasaan buruk yang menusuk.
Perasaan senang itu seketika berganti menjadi getir. Dengan wajah memerah karena malu dan kesal, Ivy meraih lengan Murray dengan kasar, menyeretnya keluar dari toko. Sepatu mereka beradu dengan lantai kayu, meninggalkan tatapan penasaran orang-orang di dalam.
Mereka berjalan cepat menembus jalan sempit di belakang toko, hingga sampai ke tempat yang lebih sepi, jauh dari tatapan mata orang lain. Hanya ada suara angin yang menyapu dedaunan, serta aroma tanah basah yang tertinggal setelah hujan semalam.
“Murray, berhentilah berbicara omong kosong!” ucap Ivy dengan suara bergetar, penuh kekesalan.
“Apanya yang omong kosong, Ivy? Karena kenyataannya AKU MENCINTAIMU!” Murray menekankan kalimat itu, suaranya dalam dan penuh penegasan.
“DAN AKU TIDAK MAU BERHENTI, SAMPAI KAU MENERIMA CINTAKU!” teriaknya lagi, suaranya menggema di antara dinding bangunan kosong di sekitar mereka.
Amarah Ivy meledak. Tangannya bergerak cepat, menampar pipi Murray dengan keras. Plak! Suara tamparan itu terdengar jelas di udara yang hening.
“BERHENTI BERTERIAK!” seru Ivy, napasnya tersengal karena emosi.
Murray terdiam sejenak. Rasa panas menyebar di pipinya, namun tubuhnya tetap berdiri tegak. Ia menatap Ivy, kali ini bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan lembut yang penuh kesungguhan. Seolah tamparan itu tidak berarti apa-apa baginya. Justru sorot matanya membuatnya terlihat seperti seorang pria sejati yang tulus pada perasaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
