BAB 93
“Ya, aku tahu. Terima kasih sudah perhatian padaku!”
Murray tersenyum hangat, matanya menatap Ivy dengan lembut.
Mendengar itu, Ivy langsung menatap Murray tajam, kedua alisnya berkerut rapat. “SIAPA YANG PERHATIAN DENGANMU, HAH! DASAR PRIA BODOH!” bentaknya dengan suara meninggi.
Namun, wajahnya sendiri justru menampakkan kebingungan. Di balik tatapan keras itu, Murray bisa melihat jelas kecemasan yang tak bisa disembunyikan Ivy. Wajah gadis itu memerah, bibirnya bergetar tipis menahan sesuatu yang tak bisa diucapkan. Murray justru merasa senang, karena dari sorot mata itu ia tahu: Ivy peduli.
“Hahaha… istriku lucu sekali,” ucap Murray, tawa ringan keluar dari bibirnya, namun tatapannya tetap hangat.
“Aku bukan istrimu!” Ivy balas dengan nada ketus, lalu berpaling agar Murray tidak melihat rona merah yang merayap di pipinya.
Sesaat ia memperhatikan Murray lebih saksama. Pakaian pria itu penuh debu, terlihat lebih kotor dari biasanya, dan di beberapa bagian tubuhnya tampak luka goresan yang masih baru. Ivy terdiam, kemudian dengan gerakan cepat ia mengambil kain bersih dan ramuan sederhana dari lemari kayu.
“Duduk,” katanya singkat, nada suaranya terdengar tegas tapi penuh kepedulian.
Murray menurut. Ivy membersihkan luka-lukanya dengan hati-hati, sesekali meniup pelan bekas goresan agar tidak terlalu perih. Setelah selesai, ia menyuruh Murray makan. Saat Murray menyantap makanan sederhana itu, Ivy menyiapkan air hangat di tungku perapian untuk pria itu mandi. Uap tipis mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan aroma kayu basah yang terbakar.
Murray sebenarnya tidak pernah meminta perlakuan seperti itu, tapi Ivy tetap melakukannya. Ada rasa cemas di wajahnya, takut jika Murray mandi dengan air dingin maka esok harinya ia akan jatuh sakit. Air sungguh dingin akhir-akhir ini, seperti air yang baru saja keluar dari lemari es. Ivy tidak bisa membiarkannya.
“Ini, gajimu.” Ucap Nyonya Loren, menyerahkan beberapa keping perak ke tangan Ivy.
Suara koin yang beradu terdengar nyaring di telinga Ivy. Ia menatap koin-koin itu dengan heran, menghitung cepat jumlahnya. Lima belas keping perak—lebih banyak dari biasanya.
“Nyonya, ini… apa tidak salah?” tanyanya hati-hati.
“Sudah, tidak apa. Anggap saja uang lemburmu,” jawab Nyonya Loren sambil tersenyum singkat.
Ivy mengangguk paham, lalu menyimpan uang itu di saku bajunya. Beberapa hari ini, pekerjaannya memang lebih berat. Dora sedang hamil tua dan butuh banyak istirahat. Dion memilih merantau ke kota, sementara suami Nyonya Loren sibuk membantu membangun rumah anak perempuannya. Alhasil, hanya Ivy dan Nyonya Loren yang mengurus seluruh adonan roti dan toko.
Senja pun tiba. Langit berwarna oranye keemasan, dan udara dingin mulai menusuk kulit. Ivy membantu Nyonya Loren menutup toko: menurunkan papan kayu penutup jendela, memadamkan api tungku roti, dan memastikan pintu terkunci rapat. Setelah semuanya selesai, ia berpamitan untuk pulang.
Baru saja melangkah keluar, Ivy terhenti. Di seberang jalan yang mulai gelap, berdiri seorang pria dengan senyum khasnya. Murray. Ia melambaikan tangan, matanya berbinar saat melihat Ivy.
“Ivy!” panggilnya dengan suara penuh semangat.
Ivy menahan napas sesaat, lalu berjalan mendekati Murray. “Kenapa kau ke sini?” tanyanya dengan nada datar, meski hatinya bergetar.
“Tentu saja untuk menjemput istriku,” jawab Murray sambil tersenyum lebar.
Kata-kata itu membuat wajah Ivy langsung merona. Ia buru-buru menunduk, membuang pandangannya ke arah lain agar Murray tidak melihat pipinya yang memerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
