BAB 90
Keesokan harinya, udara pagi masih gelap dan dingin. Kabut tipis menyelimuti halaman rumah kecil itu, dan dari cerobong dapur terlihat asap tipis mengepul, menandakan ada yang sedang memasak di dalam. Seperti biasa, Ivy sudah bangun lebih dulu. Ia sibuk di dapur, menyiapkan sarapan sederhana serta bekal untuk dirinya dan Murray. Aroma roti hangat dan sup sayuran tipis mengisi ruangan, memberi sedikit kehangatan di pagi yang menusuk.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini Murray sudah bangun lebih cepat. Rambutnya masih sedikit berantakan, matanya terlihat sayu karena baru saja terbangun, namun ia duduk di kursi sambil memperhatikan gerak-gerik istrinya. Ivy yang sudah selesai menata makanan di meja mendekatinya, lalu menatap wajah suaminya dengan ragu.
“Apa sebaiknya kamu berhenti saja dari pekerjaan itu?” tanya Ivy dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, namun jelas menyiratkan kekhawatiran.
Murray menoleh, lalu menjawab singkat, “Tidak. Pekerjaan ini gajinya lumayan.”
Nada suaranya tegas, membuat Ivy terdiam sejenak. Senyum di wajahnya meredup, berganti dengan guratan sedih yang sulit ia sembunyikan.
Melihat raut itu, Murray segera menarik napas panjang, berusaha melembutkan sikapnya. Ia kemudian menjelaskan dengan tenang, “Sebentar lagi musim dingin. Kita harus membeli kayu bakar, menyiapkan makanan, dan baju hangat. Kita memerlukan banyak uang untuk bertahan hidup.”
Kata-kata itu membuat Ivy membeku. Ia pernah mendengar dari Rayon dan Nyonya Loren bahwa musim dingin di tempat itu bisa berlangsung lebih dari dua bulan. Laut bisa membeku, dan jalanan tertutup salju. Tanpa persediaan yang cukup, bertahan hidup bukanlah hal mudah.
Ia tahu suaminya benar. Murray sedang bersikap dewasa dan berpikir jauh ke depan. Namun entah kenapa, dadanya tetap terasa sesak. Ada perasaan bersalah yang menghantui. Ivy menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. “Kalau saja aku tidak membawanya ke desa ini… mungkin dia tidak perlu bersusah payah seperti ini.” batinnya.
“Apa yang kamu katakan memang benar, Murray. Tapi… aku tetap merasa sedih,” gumam Ivy lirih dalam hati.
Ia lalu memaksakan senyum hangat, meski matanya masih sayu. “Baiklah, aku pergi kerja dulu, ya,” ucapnya sambil mengambil keranjang kecilnya.
“Hati-hati di jalan,” jawab Murray. Suaranya lembut, dan senyum tipisnya mencoba menguatkan Ivy.
Ivy hanya membalas dengan anggukan lemah, sebelum melangkah keluar menuju toko roti tempatnya bekerja.
Sore harinya, saat Murray pulang dari pekerjaannya, ia melintasi jalan pasar desa yang ramai. Suara pedagang memanggil pembeli bercampur dengan teriakan anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. Udara mulai lebih dingin, angin membawa aroma kayu bakar dan roti hangat yang baru keluar dari oven.
Langkah Murray tiba-tiba terhenti di depan sebuah toko pakaian. Pandangannya terpaku pada sebuah baju hangat berwarna merah yang dipajang di etalase. Baju itu tampak sederhana namun indah, kainnya tebal dan hangat, seolah dirancang khusus untuk menghadapi musim dingin yang segera datang. Murray terdiam, matanya sedikit melembut, membayangkan Ivy mengenakan baju itu.
“Itu baju hangat, kan?” gumamnya lirih.
Ia berdiri sejenak, lalu menarik napas panjang. “Ah iya… sebentar lagi musim dingin. Jadi wajar kalau orang-orang mulai menjual pakaian hangat. Hm… aku harus membelikan beberapa untuk Ivy.” Suaranya pelan, namun mengandung tekad.
Murray kemudian melangkah masuk ke toko itu. Suasana dalamnya hangat, penuh dengan deretan baju wol berwarna-warni. Ia langsung menghampiri seorang penjual yang sedang merapikan kain.
“Permisi, Tuan. Berapa harga baju ini?” tanyanya sambil menunjuk baju merah tadi.
"Dua puluh koin perak," ucap si penjual dengan nada datar sambil menepuk-nepuk kain tebal baju hangat itu.
"Ya ampun… mahal sekali," batin Murray, matanya sedikit melebar. Ia merogoh kantong kulit yang tergantung di pinggangnya. Suara koin beradu terdengar nyaring, namun jumlahnya jelas tidak cukup untuk membeli lebih dari satu. Bahunya sedikit merosot, rasa kecewa menyelinap di wajahnya.
Niat awal Murray adalah membeli beberapa baju hangat untuk Ivy, agar gadis itu tidak kedinginan saat musim dingin panjang tiba. Tapi kini ia sadar, uang yang dibawanya hanya mampu membeli satu. Sebuah rasa tidak berdaya menusuk dadanya. Ia merasa gagal menjadi kepala rumah tangga.
“Ini konyol,” Murray mendesah dalam hati, matanya redup. “Aku ingin memberinya lebih dari satu… tapi membeli satu saja aku kesulitan. Ah… tidak apa. Aku harus bekerja lebih keras lagi.”
Ia menghela napas panjang, hampir seperti desahan kasar yang tak sengaja lolos dari bibirnya. Lalu menatap si penjual dengan sorot mata mantap, menutupi keraguan yang ada di dadanya.
“Aku ambil yang ini,” ucapnya, menunjuk baju hangat berwarna merah tua yang sejak tadi diperhatikannya.
Dalam hati ia berbisik, "Semoga dia menyukainya."
“Ivy, aku pulang.” Suara Murray terdengar serak namun hangat saat ia menutup pintu kayu rumah mereka. Udara sore sudah menusuk kulit, angin membawa aroma asin dari laut yang mulai membeku di kejauhan.
“Ya, selamat datang.” Ivy yang sejak tadi duduk manis di meja makan, segera bangkit. Ia berlari kecil sambil tersenyum cerah, gaun sederhana yang dipakainya sedikit berkibar. Senyumnya seolah menyinari ruangan, membuat Murray yang lelah seharian bekerja seakan lupa dengan dingin yang menusuk tulangnya.
“Ayo duduk, makanlah dulu. Aku tahu kau pasti lapar,” ujar Ivy lembut.
Murray hanya menjawab dengan deheman kecil, wajahnya memerah entah karena udara dingin atau karena senyum Ivy yang begitu tulus. Saat Ivy hendak berbalik, Murray menahan langkahnya.
“Ivy…” panggilnya pelan.
Ia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya—setangkai bunga liar berwarna ungu dan merah, kelopaknya sedikit kusut, namun justru terlihat alami dan indah. Bunga seperti itu jelas tidak dijual di desa. Murray pasti memetiknya sendiri, mungkin saat perjalanan pulang. Ivy tertegun. Bunga itu sederhana, namun terasa begitu berharga.
“Bunga ini… untukku?” tanyanya ragu, matanya berbinar.
“Iya. Apa kau suka?” Murray menatapnya penuh harap.
Senyum Ivy merekah, matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku suka. Terima kasih, Murray.”
Murray ikut tersenyum lebar, dadanya hangat. Namun ia belum selesai. Dari kantong kertas lusuh yang ia bawa, Murray mengeluarkan sesuatu lagi.
“Dan… ini. Aku belikan untukmu.”
Ivy terkejut. Kedua tangannya refleks menerima barang itu, lalu menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. “Baju hangat? Untukku?” suaranya bergetar, tak percaya.
“Ke… kenapa kau membelikan ini? Ini pasti mahal!” nada Ivy meninggi, matanya menajam meski ada rasa bingung.
Murray sempat terdiam, wajahnya kehilangan sedikit cahaya. Namun ia cepat tersenyum lagi.
“Itu karena kau adalah istriku. Sudah sewajarnya aku memenuhi kebutuhan hidup istriku.”
Ucapan itu membuat Ivy hampir tersedak udara. Jantungnya berdegup begitu cepat, seakan ingin meloncat keluar dari dadanya. Darahnya berdesir, mengalir panas ke pipinya yang tiba-tiba memerah. Ada sesuatu yang bergejolak jauh di lubuk hatinya, perasaan yang selama ini ia tekan.
“Kau… kau menganggapku istrimu?” tanyanya dengan suara gemetar, nyaris berbisik.
“Ya. Kita kan sudah menikah.” Murray mengatakannya dengan tenang, mantap. Tatapannya lurus, tak goyah sedikitpun.
Perut Ivy serasa tergelitik, hatinya bergemuruh. Entah itu rasa senang atau justru takut. Apakah aku pantas…? pikirnya. Ia sadar, dirinya bukan gadis baik. Tangannya pernah berlumuran darah, masa lalunya kelam. Bagaimana mungkin ia layak untuk Murray—pria yang begitu baik, bak malaikat?
Dengan cepat ia mencoba mencari celah untuk menghindar dari perasaan itu.
“Tapi… kau tahu kalau aku punya kekasih. Dan bukankah kau… menyukai Elsie Cotton?” ucap Ivy, suaranya bergetar, namun tajam.
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romance"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
