BAB 104
***
Beberapa hari kemudian, suasana di ruang kerja Ivy terasa tegang.
"Kau lama sekali! Apa kau tahu dia sudah menunggu kedatanganku lebih dari 20 tahun?!" teriak seorang pria tua, tatapannya menusuk penuh amarah.
Ivy menatap pria itu. Ia adalah Adalgiso. Wajah dan sikapnya sama persis seperti terakhir kali Ivy melihatnya, seolah waktu tidak memengaruhinya sedikit pun.
"Dia melewatkan banyak hal karena kutukanmu!" jelas Adalgiso, nadanya tajam.
Sosok yang dimaksud adalah Taki, pria yang dulu kekuatannya disegel oleh Ivy. Kini, Taki hidup sebagai pustakawan setelah dipecat dari pekerjaannya. Kehidupannya berat, banyak orang menjauhinya karena ia tak lagi memiliki kekuatan sihir.
Beruntung, Taki kini memiliki Violet sebagai istri yang setia, serta dukungan penuh dari Adalgiso. Ivy tersenyum tipis, lega karena Taki tidak lagi menderita, walau ia tahu bahwa Taki tak menyadari bahwa semua ini berkat bantuannya. Saat ini, Taki tertidur lelap karena kelelahan, dan Ivy merasa lega karena tidak harus menghadapi tatapan marahnya secara langsung.
"Aku minta maaf. Aku ingin datang lebih cepat, tapi apa dayaku?" ujar Ivy pelan, suaranya penuh penyesalan.
Ivy merasakan berat di hatinya karena datang terlambat. Sihir waktu telah membawanya ke tahun yang berbeda dari rencana semula. "Ini juga sulit untuk kami, karena datang ke tahun ini saja sudah butuh perjuangan," tambahnya, menunduk.
"Ah… sudahlah. Sebaiknya kau pergi!" ucap Adalgiso dengan nada kesal, namun tidak terlalu keras.
Ivy mengangguk, sekilas menatap Taki yang masih tertidur di atas sofa. Kemudian ia keluar dari toko buku, menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya.
Di luar, Murray masih menunggu, menggendong Aiden. Ivy tersenyum tipis melihat keduanya. "Apa sudah selesai urusannya?" tanya Murray.
Ivy mengangguk. "Ya," jawabnya singkat.
"Baiklah, ayo jalan," ucap Murray, lalu mereka berdua melangkah menyusuri jalan utama kota Semidio. Jalanan tampak sama seperti dulu—padat namun rapi, modern tapi masih mempertahankan nuansa klasik. Suasana sore menenangkan, sinar matahari lembut menembus celah-celah bangunan, menciptakan bayangan yang menenangkan.
Murray mendesah kasar. "Aku pikir kita bisa kembali beberapa tahun setelah menghilang dari asrama, tapi ternyata malah pergi ke 20 tahun di masa depan," keluhnya.
Ivy menatap suaminya, alisnya berkerut. "Hem… Kau tak berniat melakukan ritual penjelasan, kan?" tanyanya, suaranya terdengar lelah.
"Emangnya kenapa?" balas Murray, penasaran.
"Oh ayolah sayang, aku sudah lelah. Aku tidak mau lagi melakukan hal semacam itu. Lagipula Aiden masih terlalu kecil," keluh Ivy, menatap bayi mereka yang mulai bergerak-gerak di gendongan Murray.
Murray tersenyum, meski terlihat sedikit kesal dengan keluhan istrinya. "Iya, iya… sesuai katamu, sayang," ucapnya, lalu mengecup lembut pipi Ivy.
"Jangan terlalu dekat, nanti Aiden bangun," tegur Ivy sambil menahan tawa lembut saat Aiden mulai menggeliat.
Murray hanya bisa mengedipkan mata, pura-pura kesal, lalu berkata pada Aiden, "Dengar nak, kau harus tumbuh cepat supaya ayahmu bisa lebih dekat dengan ibumu!"
Ivy tersenyum masam, geli melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka sampai di rumah megah milik kakek Ivy, Alan Ulusoy. Beberapa penjaga menghalangi jalan mereka, raut wajah skeptis dan ketidakpercayaan terlihat jelas. Beberapa bahkan bersikap kasar, memancing amarah Murray.
Tanpa pikir panjang, Murray melampiaskan amarahnya, mendorong penjaga hingga halaman rumah menjadi kacau. Saat Alan Ulusoy keluar, wajahnya memerah oleh kemarahan, namun ia terdiam ketika Ivy memperkenalkan diri sebagai cucunya yang hilang 20 tahun lalu.
Beberapa orang lain mencoba mengaku sebagai cucunya, membuat situasi semakin kacau. Ivy yang tak ingin repot-repot menjelaskan tentang identitasnya menatap Alan Ulusoy dengan tegas. “Tunjukkan ruang rahasia milik Cahaya,” pintanya. Ruangan itu hanya bisa dibuka oleh keturunan Cagatay yang sah, dan Ivy memiliki kuncinya—kalung dengan liontin hitam yang ayahnya berikan. Itu adalah kunci yang dapat membuktikan siapa dia sebenarnya.
Alan Ulusoy menatap Ivy dengan mata terbuka lebar, campuran antara keterkejutan dan kekaguman. Ia tahu, tidak ada pilihan lain selain mengizinkannya. Tes DNA? Itu mudah dipalsukan dengan sihir, seperti kasus Elsie Cotton palsu yang pernah terjadi.
Ivy melangkah mantap menuju ruangan itu. Suasana di sekitarnya hening, hanya terdengar derap langkahnya di lantai kayu. Udara terasa hangat, namun tetap segar dari cahaya pagi yang menembus jendela-jendela rumah megah itu. Tidak ada yang menghalangi, tidak ada mantra yang melawan—semuanya berjalan mulus. Ivy membuka pintu, melangkah masuk dengan tenang, seolah ruangan itu memang menunggunya.
Beberapa menit kemudian, saat Ivy keluar, tiba-tiba asap membubung dan api mulai menjilat ruangan rahasia itu. Alan menatap dengan mata terbelalak, suaranya hampir tersedak. “Apa yang kau lakukan!?” teriaknya, panik.
Ivy menatap Alan dengan pandangan dingin tapi tenang. “Apakah kau tahu? Karena buku-buku sihir terlarang itulah anakmu tidak pernah kembali dan terus diburu banyak orang!” ucapnya, nadanya berat tapi pasti. Alan terdiam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Sebenarnya, Ivy tidak membakar buku-buku itu. Semua buku dan benda keramat lainnya sudah ia pindahkan ke ruang rahasia miliknya sendiri. Ia membakar ruangan ayahnya hanya sebagai sandiwara, untuk menakut-nakuti siapa pun yang mencoba menguasai ruang itu. Tujuannya jelas: mencegah buku-buku kuno itu jatuh ke tangan yang salah. Ivy tidak ingin bumi berada dalam bahaya karena mantra kuno yang disimpan ayahnya.
Setelah urusan dengan Alan selesai, Ivy dan Murray bersiap untuk kembali ke rumah keluarga Murray, membawa Aiden bersama mereka. Alan Ulusoy menatap mereka, raut wajahnya berubah lembut namun tetap tegas. Ia ikut, dengan alasan ingin lebih dekat dengan keluarga mereka. Sebenarnya, Alan tidak ingin kehilangan Ivy lagi. Di masa depan, ia bertekad berada di dekat cucunya, kemanapun wanita itu pergi. Ivy dan Murray hanya tersenyum, tak keberatan dengan kehadirannya. Kini Alan dapat hidup dengan tenang—dia telah menemukan cucunya yang hilang, dan yang lebih menggembirakan, dapat bertemu cicitnya.
Saat mereka tiba di kediaman keluarga McKellen, suasana berubah menjadi tegang. Semua mata tertuju pada Murray yang berdiri di halaman. Beberapa anggota keluarga yang lebih tua menatapnya dengan ragu, sebagian bahkan menahan napas. Selama bertahun-tahun, mereka mengira Murray telah hilang, lenyap tanpa jejak. Namun saat melihat rambut peraknya yang khas keluarga McKellen, keraguan itu sirna. Tidak ada lagi keraguan—pria itu adalah Murray, anak keluarga McKellen.
Murray kini telah tumbuh menjadi pria yang gagah dan kuat, aura kepercayaan dirinya memancar dari setiap gerakannya. Kehadirannya di sisi Ivy, wanita dari keluarga Ulusoy yang terkenal dan bereputasi baik, membuat hubungan kedua keluarga itu semakin erat. Semenjak saat itu, keluarga Ulusoy dan McKellen menjalin ikatan yang sangat dekat.
Kabar tentang ditemukannya cucu kandung keluarga Ulusoy menyebar cepat, seperti hembusan angin di seluruh Semidio. Negeri itu bersukacita, karena Alan Ulusoy telah menantikan momen ini selama lebih dari 40 tahun. Kini, cucunya tidak hanya ditemukan, tetapi telah menikah dan memiliki anak.
Semua konflik mereda. Ivy dan Murray akhirnya berdamai dengan keluarga mereka. Mereka hidup nyaman, damai, dan bahagia. Namun perjalanan mereka belum benar-benar berakhir—masih ada orang-orang yang menginginkan sesuatu dari Ivy, termasuk penyihir tua, Churchill Babington. Pengikutnya yang setia tidak akan menyerah, dan obsesi mereka terhadap kekuatan waktu tidak akan pernah padam.
Meski demikian, untuk saat ini, Ivy dan Murray dapat menarik napas lega. Mereka telah melindungi keluarga, anak mereka, dan rahasia masa lalu. Dunia mereka aman—setidaknya untuk sekarang.
*TAMAT*
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romance"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
