BAB 49
Tiba-tiba, sekelompok orang berjubah putih muncul dari lorong samping dan menyerang para orang misterius yang ingin menangkap Ivy. Suasana kacau seketika; suara benturan, teriakan, dan sihir membuat udara sekitar panas dan bergetar. Dalam kekacauan itu, Ivy memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Brayen yang masih terkulai tak sadarkan diri.
Hanya dalam waktu lima menit, orang-orang yang mengejar mereka luluh lantak. Beberapa terluka parah, sementara yang lain melarikan diri dengan tubuh remuk.
“BRAYEN!!!” teriak Ivy, suaranya pecah oleh rasa panik dan cemas, sambil menyalurkan energi sihir untuk mencoba menyembuhkan kekasihnya.
“Tenanglah, dia hanya pingsan. Tapi jika kami terlambat, mungkin dia sudah… meninggal!” ucap salah satu anggota berjubah putih, suaranya dingin namun tegas, penuh kewaspadaan.
Ivy menatap tajam sekelompok orang itu, matanya berkilat oleh amarah dan rasa ingin tahu. “Siapa kalian?!” serunya, menuntut jawaban.
Pria yang berbicara tadi menyingkap jubahnya perlahan, wajahnya tampak tua dan berkerut, lebih tua dari yang Ivy bayangkan. Matanya dingin, penuh wibawa, menatap langsung ke mata Ivy. “Kami utusan keluarga Ulusoy. Tugas kami adalah membawamu ke Semidio, tapi kau tidak hadir pada waktu yang telah ditentukan,” ujarnya dengan nada tegas, seolah menegur sekaligus memberi perintah.
“Namaku Adalgiso,” lanjut pria itu, suaranya berat. “Usiaku mungkin tujuh puluh tahun. Dan kau akan memanggil kami sesuai protokol Ulusoy di masa depan.”
Ivy terdiam, berusaha mengingat semua informasi tentang keluarga Ulusoy. Dan benar, ia menyadari siapa Adalgiso—pria tua ini adalah bagian dari organisasi besar yang selama ini bergerak di balik bayangan. Sebuah rasa kagum dan sedikit takut menyelimuti hatinya.
“Aku minta maaf,” ujar Ivy singkat, suaranya rendah dan tulus. Ia merasa bersalah karena membuat situasi ini menjadi kacau. Namun di hatinya, pertanyaan terus menggelayuti: siapa sebenarnya orang-orang misterius yang mengejar mereka? Apa tujuan mereka? Tapi tidak ada yang mau menjawab.
“Sebenarnya, apa yang kalian sembunyikan?” tanya Ivy lagi, kali ini dengan nada tegas tapi hati-hati.
“Kalau kau ingin tahu, maka kau harus mencarinya sendiri,” jawab salah satu wanita dari kelompok berjubah putih itu, menatap Ivy dengan serius. Wanita itu bernama Violet; parasnya cantik, postur tubuhnya kuat, dan aura kepercayaan dirinya membuat Ivy sedikit terintimidasi.
Ivy menahan napas sejenak, lalu menoleh ke arah Brayen yang masih terkulai. Kekhawatiran menghimpit hatinya, takut sesuatu terjadi pada kekasihnya. Salah satu anggota berjubah putih, seorang pria muda bernama Taki, mendekat.
Taki, meski terlihat biasa dan tubuhnya tidak terlalu besar, memancarkan aura sihir yang kuat. Ivy bisa merasakannya dari energi yang terpancar saat pertarungan tadi. Dengan tenang, Taki menawarkan bantuannya untuk menyembuhkan Brayen. Ivy mengangguk pasrah; ia tidak ingin Brayen terluka lebih parah, meski hatinya tetap waspada.
Taki mengeluarkan tongkat kayu seukuran sumpit, sedikit lebih panjang. Ia mulai membaca mantra, dan sinar terang memancar dari ujung tongkatnya. Cahaya itu merambat lembut ke tubuh Brayen, menembus luka-lukanya, hingga dalam sekejap mata darah berhenti mengalir dan luka Brayen tertutup sempurna. Ivy menatap dengan campuran lega dan kagum, hatinya lega melihat Brayen pulih.
Setelah selesai, Taki mengeluarkan botol bening berisi cairan hijau dari sakunya. Ivy menatap dengan waspada, rasa curiga dan ketidaknyamanan muncul kembali. Saat Taki hendak memberi cairan itu pada Brayen, Ivy menahan tangannya.
“Cairan apa yang kau berikan padanya?!” tanyanya tegas, matanya menyala oleh kewaspadaan.
“Ini hanya ramuan obat. Sangat baik untuknya,” jawab Taki, menatap Ivy tanpa tersinggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
