BAB 51
Ya, ayo. Kau tak hanya punya waktu sedikit sekarang!" tambah Violet dengan nada tegas.
Mendengar itu, semua orang langsung bergegas menuruni tangga menuju lantai bawah. Suasana menjadi tergesa-gesa, langkah kaki terdengar bergema di dinding batu yang dingin. Ivy yang semula masih bersama Nari akhirnya melepaskan diri, lalu cepat-cepat mendekati Taki.
"Taki!" panggil Ivy, suaranya terdengar cemas.
Taki menoleh cepat. "Ya?"
"Kita… mau pergi ke mana lagi?" tanya Ivy sambil menatapnya penuh tanda tanya.
"Tentu saja ke Semidio. Itu memang tujuan kita, bukan?" jawab Taki singkat.
Namun ia segera menambahkan dengan nada lebih serius, "Tapi sebelum itu, kita harus berteleportasi dulu ke kota Heraklion. Dari sana baru kita bisa masuk ke negeri Semidio."
Ivy terdiam sejenak. Nama kota itu terasa asing di telinganya, seolah bukan nama tempat di dunia yang ia kenal.
‘Kota Heraklion? Aku bahkan belum pernah mendengar nama itu di Inggris,’ batin Ivy bingung.
Tak mau terus dihantui rasa penasaran, ia memberanikan diri bertanya, "Kota Heraklion itu… ada di mana, Taki?"
Taki menatapnya sebentar, lalu menjawab tenang, "Kota itu berada di pinggir wilayah Benua Utara. Ukurannya kecil, penduduknya pun tak banyak. Orang lebih mengenalnya sebagai kota wisata, terutama di musim panas. Pemandangan di sana indah sekali, jadi wajar kalau kau belum pernah mendengarnya."
Ivy mengangguk pelan, meski hatinya masih penuh tanda tanya. "Baiklah… ayo kita pergi," ucapnya akhirnya.
Taki segera mempercepat langkahnya menuruni tangga. Ivy mengikutinya, namun sempat melirik ke arah Nari untuk mengucapkan salam perpisahan singkat. Saat tiba di lantai bawah, ia menyaksikan sesuatu yang membuatnya tertegun. Salah satu dari rombongan Taki masuk ke dalam sebuah ruangan aneh. Pintu ditutup rapat, dan ketika terbuka kembali, orang itu sudah lenyap.
Jantung Ivy berdebar tak menentu. Saat gilirannya tiba, rasa takut menghantam. Ia berdiri ragu di depan pintu, jemari tangannya sedikit gemetar.
“Tenang saja,” bisik Taki menenangkan. “Kau hanya perlu diam. Setelah ini, kau akan sampai di kota Heraklion.”
Ivy menghela napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk. Ruangan itu kosong, gelap, dan sunyi. Saat pintu perlahan menutup, cahaya terakhir pun sirna. Seketika tubuhnya terasa sangat berat, seolah bumi menariknya ke dalam. Gravitasi berputar, menekan tubuhnya dari segala arah. Ivy merasa kepalanya pusing, pikirannya kacau.
Tiba-tiba pintu terbuka lagi. Cahaya terang menyambutnya, dan gravitasi kembali normal.
“Ivy! Apa kau baik-baik saja?” suara Violet terdengar jelas, penuh kekhawatiran.
Ivy mengangkat kepalanya perlahan, pandangannya kabur. Ia melihat Violet berdiri di depannya, wajahnya cemas. Ivy hanya mampu menggeleng pelan, tubuhnya masih lemas. Violet segera meraih lengannya, membantu Ivy keluar dari ruangan itu dengan hati-hati.
Saat ia benar-benar keluar, pandangannya langsung terpesona. Mereka kini berada di tempat yang sama sekali berbeda—sebuah bangunan megah bergaya mansion kuno, dengan pilar-pilar besar, langit-langit tinggi, dan lampu kristal berkilauan. Lantai marmer yang mengilap memantulkan cahaya lilin, sementara udara di dalamnya berbau harum kayu dan wangi bunga kering.
Namun bukan hanya kemegahan yang membuat Ivy terpana. Tempat itu juga dipenuhi banyak orang—atau mungkin bukan sepenuhnya manusia. Mereka memiliki bentuk menyerupai manusia, tapi ada sesuatu yang aneh pada mereka: mata berkilat merah, telinga runcing, atau kulit pucat keperakan. Ivy merasakan bulu kuduknya meremang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
