BAB 9
Hubungan mereka mulai renggang ketika Ivy semakin sering menghabiskan waktu bersama Natali, Elena, Sementa, dan Margaret di tahun pertama sekolah menengah atas. Bukan karena permusuhan, bukan pula karena saling benci, melainkan jarak yang secara diam-diam tumbuh di antara mereka. Kelas yang berbeda membuat Ivy dan Jessica jarang duduk di meja perpustakaan yang sama atau bercakap di sudut koridor sekolah seperti dulu. Sementara itu, Jessica mulai dekat dengan teman barunya, Melodi—gadis yang duduk di bangku yang sama di kelas yang berbeda.
Semua berjalan biasa-biasa saja, hingga enam bulan lalu, ketika hari itu berubah menjadi neraka. Beberapa menit sebelum tragedi, Ivy masih sempat melihat Jessica tertawa lepas bersama seorang remaja pria bernama Leo di depan laboratorium. Leo—kekasih Jessica—adalah siswa senior yang cukup populer di sekolah. Senyum Jessica saat itu begitu hangat, seakan dunia tak menyimpan ancaman apa pun. Ivy tak sempat memerhatikan lebih lama, karena ia sedang terburu-buru menemui guru kimia, Nyonya Vivian.
Guru itu menyerahkan setumpuk buku siswa, meminta Ivy menaruhnya di laboratorium. Tanpa banyak bertanya, Ivy menurut. Hujan rintik yang membasahi kaca jendela sekolah membuat udara dingin merayap masuk melalui celah pintu. Ivy bergegas menuju laboratorium, memegang buku-buku itu erat di dadanya. Namun begitu pintu terbuka, bukan kesunyian ruangan yang menyambutnya, melainkan dinding api yang mengamuk.
Rak berisi zat kimia mudah terbakar telah menjadi pusat kobaran. Api menjalar cepat, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan, mengubah udara menjadi panas yang menusuk kulit. Asap tebal menyelimuti pandangan, membuat mata Ivy perih dan sulit bernapas. Di tengah kekacauan itu, ia melihatnya—Jessica—tergeletak di lantai, tubuhnya dikelilingi genangan merah yang tak semestinya ada.
"Iya Tuhan…" bisik Ivy, suaranya pecah. Ia segera berlari, lututnya gemetar, tangannya terulur untuk menarik tubuh sahabatnya. Tapi Jessica terlalu berat, atau mungkin Ivy terlalu lemah. Nafasnya tersengal-sengal, panas dari api membakar kulitnya.
Mereka hampir mencapai pintu ketika takdir memutuskan untuk mengunci harapan terakhir itu. Sebuah lemari logam yang sudah terbakar runtuh, menimpa mereka. Besi panas menghantam tubuh, menjepit mereka di lantai. Api menjilat kulit, rasa sakitnya begitu tajam, seperti disayat dari dalam. Ivy ingin berteriak, tapi suaranya tersedak asap. Dunia berputar, dan kemudian—gelap.
Saat ia membuka mata, ia berada di rumah sakit. Cahaya lampu putih menyilaukan, bau antiseptik menusuk hidung. Tubuhnya terbungkus perban, sebagian wajahnya terasa kaku dan nyeri. Dokter berkata, bekas luka itu tak akan hilang tanpa operasi besar. Dan yang lebih menghancurkan, kakinya patah parah—mengubur mimpinya menjadi balerina.
Dunia Ivy runtuh. Ia kehilangan masa depannya, bukan hanya sahabatnya. Dan seperti belum cukup, ibunya sama sekali tidak menunjukkan kepedulian. Tatapan dingin sang ibu seolah mengatakan bahwa luka Ivy adalah aib, bukan penderitaan.
Lalu datang tuduhan—kejam dan menusuk lebih dalam daripada api. Semua orang di sekolah percaya ia yang membunuh Jessica. Hanya ada mereka berdua di laboratorium saat itu, dan luka tusukan dalam di perut Jessica—yang menembus organ vital—menjadi bahan bisik-bisik keji di setiap lorong sekolah.
Meski pada akhirnya, bukti tak cukup untuk menjatuhkannya. Kesaksian Nyonya Vivian, Melodi, Leo, dan bahkan kedua orang tua Jessica membersihkan namanya. Sidang memutuskan bahwa Jessica meninggal akibat kebakaran, sementara luka di perutnya diklaim berasal dari serpihan kaca botol kimia yang pecah. Tapi keputusan hakim tak mampu membungkam mulut-mulut yang sudah menempelkan cap “pembunuh” di dahinya.
Sejak hari itu, Ivy merasa seluruh dunia memusuhinya. Tatapan jijik di lorong sekolah, bisikan kotor di belakangnya, bahkan langkah kaki yang sengaja menjauh saat ia lewat. Keheningan rumah pun tak menjadi pelarian. Ibunya tak pernah bertanya bagaimana perasaannya. Tak pernah memeluknya. Tak pernah sekalipun berkata ia percaya pada putrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romance"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
