84.

6 0 0
                                        

BAB 84



“Hanya ada satu kasur,” ucap Ivy lesu saat mereka melangkah memasuki kamar kayu sederhana itu. Lampu lilin di dinding memantulkan cahaya temaram, membuat bayangan mereka menari-nari di lantai kayu yang retak-retak. Bau kayu yang hangat dan sedikit apek memenuhi udara, menciptakan suasana yang sederhana namun aman.

Ivy menoleh ke arah Murray, matanya yang lelah menatap pria itu dengan ragu. “Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya pelan, nada suaranya menandakan kebingungan sekaligus kelelahan.

Murray tersenyum lembut, suaranya tenang tapi penuh perhatian. “Tidurlah di atas kasur. Aku akan tidur di lantai.”

Ivy mengerutkan keningnya, memastikan jawaban itu bukan sekadar basa-basi. “Apa kau serius?”

“Ya. Aku serius,” jawab Murray dengan nada tegas, seakan ingin meyakinkan Ivy bahwa ia benar-benar tak keberatan.

Mendengar itu, Ivy menundukkan pandangannya. Hatinya tersentuh sekaligus merasa bersalah. Semua kebaikan Murray membuatnya merasa tidak enak hati. “Maaf, Murray. Karena aku, kau jadi kesulitan.”

Murray menggeleng, menatapnya lembut. “Tidak. Ini bukan salahmu. Kau jangan merasa bersalah.”

Ia lalu menggeser tubuhnya, memberi ruang agar Ivy bisa menempati kasur. Ivy menuruti, berbaring dengan perlahan di atas kasur, mencoba menenangkan diri untuk tidur. Namun matanya tetap terbuka, pikirannya terus melayang pada Murray yang terbaring di lantai dingin dan kasar beberapa meter darinya.

Ia menatap sosok pria itu yang meringkuk dengan satu tangan dijadikan bantal. Wajah Murray yang memerah dan tubuhnya yang tampak lelah membuat Ivy merasa khawatir. Desahan kasar keluar dari bibirnya. “Murray, tidurlah di atas kasur bersamaku. Aku tidak mau bertanggung jawab jika kau sampai sakit,” ucapnya dengan suara lembut tapi tegas.

Mendengar itu, Murray terkejut dan langsung duduk, menatap Ivy dengan mata melebar. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Ivy sudah menggeser tubuhnya, membuka ruang di kasur.

“Apa kau serius, Ivy?” tanya Murray, suaranya terdengar berat dan bercampur rasa gugup.

“Ya,” jawab Ivy singkat, matanya menatap Murray dengan lembut.

Murray perlahan naik ke kasur. Jantungnya berdetak cepat, pipinya memerah, dan rasa canggung begitu kuat sehingga ia tidak bisa langsung memejamkan mata. Tubuhnya terasa panas, pikirannya kacau. Alih-alih tidur, ia hanya menatap langit-langit kamar kayu yang gelap, mencoba menenangkan diri.

Beberapa menit berlalu, kesunyian kamar hanya diisi derak kayu dan suara nafas mereka. Murray sudah mencoba menutup mata, tapi rasa kantuk seakan lenyap digantikan gelombang perasaan yang bergejolak di dadanya. Akhirnya, bosan dan gelisah, ia memanggil dengan suara pelan.
“Ivy?”

“Apa kau sudah tidur?” terdengar jawaban Ivy dari sisi kasur, suaranya lemah dan hampir tersamar.

“Kenapa?” tanya Ivy, matanya masih tertutup rapat. Ternyata, Ivy juga belum tidur, meskipun beberapa menit telah berlalu sejak Murray naik ke kasur.

Murray menelan ludah, mencari topik pembicaraan yang ringan untuk mengusir kebosanan dan rasa gelisahnya. Tiba-tiba, ingatan masa lalu menerpa—saat ia masih kecil, disembuhkan oleh seorang gadis di taman. Gadis itu begitu asing, namun wajahnya tetap membekas hingga dewasa.

“Apa… dulu kau pernah bertemu dengan anak kecil berambut perak seperti ku?” tanya Murray pelan, sedikit canggung.

Punggung Ivy menegang sebentar, lalu ia menjawab dengan suara serak sambil mencoba tetap berbaring. “Pernah. Aku pernah bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sangat tampan di taman.”

Murray menatap punggung Ivy dengan mata melebar. Kaget sekaligus senang, campur aduk perasaannya membuat dada terasa hangat.

Ivy melanjutkan, suaranya masih serak dan lirih, “Karena dia sangat tampan, aku sangat ingin menciumnya… tapi aku tidak melakukannya. Jika benar-benar terjadi, aku mungkin dijebloskan ke penjara karena tuduhan pelecehan seksual pada anak di bawah umur.”

Murray terduduk lebih tegak, menatap Ivy dengan mata yang melebar, jantungnya berdetak lebih cepat. Suaranya bergetar saat mengucapkan kata-kata itu. “Kau… kau ingin menciumnya?”

Ivy diam, tidak menatapnya, matanya tetap tertutup. Sunyi beberapa detik membuat suasana terasa tegang, hanya terdengar nafas mereka di kamar yang hangat tapi remang.

Murray mencoba memanggil Ivy lagi, tapi kali ini Ivy bersuara lebih tegas, nada seraknya bercampur sedikit kesal. “Murray, jangan ajak aku bicara lagi. Aku mau tidur.”

Tubuh Ivy sedikit bergetar kelelahan, suara pelan itu menunjukkan bahwa tubuhnya benar-benar lelah setelah perjalanan panjang seharian. “Tubuhku sudah lelah karena seharian berjalan,” ucapnya lirih.

“A… baik,” jawab Murray, meski hatinya berdebar dan wajahnya memerah.

Meskipun Ivy berbicara dengan nada kasar, senyum manisnya tetap terpatri di wajah Murray. Ia menoleh ke langit-langit kamar lagi, bergumam pelan, setengah tersipu, setengah tak percaya pada dirinya sendiri, “Ivy… mau mencium ku?”

***

Pagi harinya, cahaya matahari menembus jendela kayu kamar, menciptakan garis-garis lembut di lantai. Murray menatap lurus ke depan dengan kantung mata yang menghitam, beberapa kali ia menguap lemah, menandakan bahwa tubuhnya masih sangat mengantuk. Dalam hati, Murray bergumam pelan, “Karena ucapan Ivy semalam, aku jadi tak bisa tidur.”

Tiba-tiba, langkah ringan terdengar di ambang pintu. Rayon muncul, wajahnya terlihat serius tapi tenang, sambil menatap Murray dan Ivy. “Apa kalian yakin akan pergi secepat ini?” tanyanya dengan nada penuh perhatian.

Ya, Murray dan Ivy memang telah sepakat untuk segera berangkat menuju desa terdekat. Tujuannya bukan hanya mencari informasi tentang wilayah sekitar, tetapi juga untuk menemukan pekerjaan agar mereka bisa bertahan hidup. Cara itu mereka pilih untuk menghemat energi sihir yang terbatas.

“Ya, kami yakin, Tuan. Kami tidak mungkin terus-menerus merepotkan Tuan,” jawab Murray, mencoba terdengar tegas meski suaranya masih sedikit serak karena kurang tidur.

Pada saat itu, Ivy muncul dari kamar. Penampilannya sedikit berbeda dari biasanya. Ia masih mengenakan gaun tidur tipis yang dipakai semalam, namun kini dilapisi jubah tebal pemberian Rayon. Rambut putihnya kini diwarnai hitam dengan arang, sehingga penampilannya tampak lebih biasa bagi orang-orang di zamannya. Ivy sengaja menutupi warna asli rambutnya agar tidak menimbulkan salah paham. Murray pun rambutnya ikut diwarnai hitam tadi pagi oleh Ivy, sehingga keduanya kini tampak serasi.

“Yasudah. Jika kalian ada masalah atau butuh bantuanku, temui saja aku. Aku akan ada di sini,” ujar Rayon sambil menepuk bahu Murray dengan ringan, tatapannya tajam namun penuh rasa tanggung jawab.

Ivy membungkuk sedikit sebagai tanda hormat, matanya menatap Rayon dengan penuh rasa terima kasih. “Baik, Tuan. Terima kasih sudah membantu kami,” ucapnya lembut.

“Ya, sama-sama,” jawab Rayon. Suasana menjadi hangat sejenak, sementara sinar matahari pagi menyorot wajah mereka, menambah kesan damai meski ada kecemasan tersisa.

Murray melangkah mendekat, dan keduanya bersalaman. Saat berpelukan, Rayon menundukkan kepala sedikit dan berbisik, “Jaga istrimu. Jangan sampai dia diganggu pria lain.”

Murray mengangguk tegas, wajahnya merah karena malu dan kegugupan, namun matanya penuh tekad. “Ya, Tuan!” serunya mantap setelah mereka melepaskan pelukan.

Bersambung !

***
✨ Pesan Penulis ✨

Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang