52.

58 2 0
                                        

BAB 52


Dalam mitologi Yunani, ada sebuah dunia wabah yang terletak jauh di dalam perut bumi. Dunia itu disebut dunia bawah, atau Hades, sesuai dengan nama dewa penguasanya—Dewa Hades. Sebagian orang menganggapnya sekadar mitos, sekadar cerita pengantar tidur yang dilebih-lebihkan. Namun, ada pula yang percaya jika Kota Hades benar-benar ada. Mereka yang mampu melihat garis tipis pemisah antara dunia manusia dan dunia bawah, sudah pasti bukanlah manusia biasa.

Sejarah mencatat beberapa kota tersembunyi yang akhirnya ditemukan dan terbukti nyata keberadaannya. Salah satunya adalah kota purba Urkesh, yang dahulu menjadi pusat peradaban Hurrian di Timur Dekat. Konon, kota itu disebut sebagai tempat asal para dewa primordial. Sama seperti Urkesh, negeri Semidio juga menyimpan misteri besar. Negeri itu luar biasa, dipenuhi dengan hal-hal yang mustahil dijelaskan oleh logika manusia, namun hingga kini masih tersembunyi rapat di bawah bayangan dunia.

Negeri Semidio terletak jauh di bawah tanah kota Heraklion, dilindungi oleh lingkaran sihir kuno yang telah bertahan selama ribuan tahun. Karena perlindungan itu pula, kota ini tidak pernah ditemukan, tetap tersembunyi seolah-olah dilenyapkan dari peta dunia. Luasnya tak masuk akal—tiga puluh kali lebih besar dari kota Heraklion sendiri.

Di dalamnya, hidup para siluman, penyihir, dan makhluk-makhluk aneh lain yang oleh manusia biasa hanya dianggap mitos atau dongeng belaka. Semua penghuni negeri itu disebut dengan satu nama: Semidio. Nama itu diberikan oleh Cedric Rodriguez, yang artinya “manusia setengah dewa.”

Orang-orang Semidio memilih hidup terasing di bawah tanah demi melindungi diri mereka. Mereka sadar, jumlah manusia normal di atas bumi semakin banyak, jauh melebihi jumlah mereka. Padahal, kekuatan Semidio sebenarnya lebih unggul, lebih tajam dari manusia biasa. Namun, jumlah mereka hanya empat persen dari populasi manusia. Dalam kondisi seperti itu, konfrontasi hanya akan membawa kehancuran. Karena itu, mereka memilih bersembunyi. Apalagi tidak semua Semidio memiliki kekuatan. Sebagian kecil di antara mereka justru lemah, bahkan lebih lemah dari manusia biasa. Bersembunyi menjadi pilihan paling aman bagi semua.

Dahulu, para Semidio hidup berdampingan dengan manusia di dunia yang sama. Tetapi pada tahun 1322, segalanya berubah. Seorang pria muda bernama Cedric Rodriguez melakukan perjalanan ke wilayah Heraklion. Ia datang dengan tujuan menjelajah, sekaligus memperluas bisnis kecil yang dimilikinya. Dengan bantuan para penyihir, Cedric membangun ruangan bawah tanah yang luas, sebuah fondasi pertama yang kelak menjelma menjadi negeri Semidio.

Cedric Rodriguez sendiri bukanlah orang sembarangan. Ia lahir dari keluarga kaya raya di Inggris. Meskipun keluarganya bukan bangsawan, nama mereka terkenal di kalangan atas karena kekayaan dan pengaruhnya. Cedric tidak hanya mewarisi harta orang tuanya, tapi juga membangun usahanya sendiri—peternakan, lahan sewa, dan beberapa properti lain yang memberi keuntungan.

Ketampanan dan kecerdasannya membuat Cedric dielu-elukan di kalangan elit. Ia sering terlihat bersama wanita bangsawan, dan banyak dari mereka jatuh hati padanya. Namun di balik kehidupan sosial yang penuh kemewahan itu, Cedric menyimpan rasa haus akan pengetahuan dan petualangan.

Saat usia Cedric Rodriguez genap 28 tahun, tepat pada tahun 1322, ia memulai ekspedisi ke wilayah Heraklion. Ia berniat menjelajah sekaligus membangun bisnis baru di tanah asing itu. Namun, saat itu Heraklion masih begitu sunyi. Penduduknya bisa dihitung dengan jari—hanya sekitar lima orang, hidup berjauhan satu sama lain, menempati rumah-rumah kayu sederhana yang tampak rapuh di tengah hutan belantara. Kabut tipis sering menyelimuti pepohonan raksasa, membuat wilayah itu seperti dunia yang terpisah dari peradaban. Suara burung malam dan serangga menjadi musik yang mengiringi perjalanan panjang Cedric menembus hutan yang seolah tak berujung.

Dalam ekspedisi itu, tak disangka Cedric bertemu dengan seorang wanita bernama Ana. Pertemuan itu terjadi begitu tiba-tiba, di sebuah sungai kecil yang alirannya berkilauan terkena cahaya matahari senja. Cedric nyaris tak percaya melihat ada sosok perempuan secantik itu di tengah hutan liar. Rambut hitam Ana tergerai, basah oleh percikan air, matanya berkilau bagai lautan dalam yang menyimpan rahasia. Tatapan Cedric seketika terperangkap, hatinya berdegup lebih cepat, seolah seluruh tubuhnya diguncang pesona wanita misterius itu.

Sejak saat itu, Cedric berusaha mendekati Ana dengan berbagai cara. Ia sering membawa hadiah—kain halus, perhiasan perak, bahkan makanan lezat—hanya untuk melihat senyum tipis Ana. Namun semakin lama, rahasia besar terbuka. Suatu hari, di tepi sungai yang sama, Cedric melihat tubuh Ana berubah. Kakinya berganti menjadi ekor bersisik keperakan, berkilau di bawah cahaya bulan. Ana bukan manusia biasa, melainkan seorang Siren, makhluk setengah ikan yang selama ini hanya ia dengar dalam dongeng.

Tak hanya Ana, kemudian Cedric mulai menyadari ada banyak makhluk aneh lain yang tinggal tersembunyi di wilayah itu—manusia setengah hewan, penyihir, dan sosok-sosok yang kekuatannya jauh melampaui manusia. Ia memberi nama mereka Semidio, dari bahasa Italia yang berarti “setengah dewa”, sebab kemampuan mereka memang luar biasa.

Namun Cedric adalah pria yang mengutamakan logika. Ia mencintai kedamaian dan menghindari hal-hal berisiko. Maka begitu tahu kebenaran tentang Ana, ia memutuskan untuk menjauh. Ada rasa takut yang menghantui pikirannya—takut jika hubungan dengan Ana menyeretnya ke dalam bahaya. Menurutnya, menjauh adalah pilihan paling tepat, baik untuk dirinya maupun untuk Ana.

Tapi yang tak ia sadari, di saat ia berusaha melupakan, justru Ana semakin tenggelam dalam perasaan cinta yang berubah menjadi obsesi. Ia meninggalkan kaumnya, melukai wanita lain yang mendekati Cedric, bahkan mengorbankan harga dirinya demi tetap berada di sisi pria itu. Cinta Ana bukan lagi sekadar rasa, melainkan kebutuhan.

Hingga suatu hari, saat Ana mengandung anak Cedric, semua berubah. Pria itu, meskipun dingin dan penuh pertimbangan, tak bisa menutup mata. Ia menerima Ana secara sah, bukan karena cinta, melainkan karena tak ingin keturunannya lahir tanpa pengakuan. Cedric memang bukan lelaki yang baik, namun ada satu hal yang tak pernah ia abaikan: darah dagingnya sendiri.

Masa kehamilan Ana bukanlah masa yang mudah. Ia sering menderita dehidrasi parah dan kelaparan. Bukan karena Cedric tak mampu menyediakan makanan, melainkan karena tubuh Ana hanya mampu bertahan dengan ikan segar laut dan air asin yang berasal dari samudera. Sementara itu, musim dingin datang lebih cepat dari biasanya. Laut membeku berminggu-minggu, membuat para nelayan enggan melaut. Angin menusuk, membawa aroma asin yang pahit, dan desa kecil itu seperti mati perlahan. Cedric rela membayar mahal siapa saja yang berani menangkap ikan untuk Ana, tapi hanya segelintir yang berani menerima, dan itupun tak bisa setiap hari.

Di tengah penderitaan itu, Ana semakin terasing. Kaum siren yang biasanya melindunginya telah bermigrasi ke laut hangat di Asia dan Afrika, mencari kehangatan yang tak bisa diberikan perairan Heraklion. Ana tak mampu mengikuti mereka, tubuhnya terlalu berat oleh kandungan. Ia hanya bisa menunggu, bertahan, dan berharap.

Malam itu, di tengah musim dingin yang membekukan, jeritan panjang Ana menggema di ruangan kecil bawah tanah tempat Cedric menampungnya. Cahaya obor bergetar di dinding batu, udara lembap bercampur dengan bau darah dan keringat. Cedric berdiri tegang di sudut ruangan, wajahnya pucat, tangannya mengepal kuat. Ia tak pernah membayangkan harus melihat Ana dalam kondisi begitu rapuh, tubuhnya gemetar di antara rasa sakit yang tak tertahankan.

Dua tangisan bayi akhirnya terdengar, memecah malam yang beku. Cedric menunduk, menatap dua sosok mungil di pelukan Ana yang kelelahan. Satu bayi tampak sempurna—tubuh kecilnya hangat, wajahnya mirip Cedric. Namun bayi satunya lagi lahir dengan kondisi cacat, tubuhnya tidak sempurna, dan nafasnya lemah. Hatinya terasa terbelah, antara lega dan cemas.

Ana menangis, air matanya jatuh membasahi pipi pucatnya. Ia menatap Cedric dengan sorot mata penuh harap, seolah ingin berkata bahwa kedua anak itu adalah segalanya baginya. Cedric menarik napas panjang, lalu mendekat. Ia menamai kedua bayi itu Chaiden dan Chayton, meski dalam hatinya ada keraguan besar tentang masa depan mereka.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang