61.

67 4 0
                                        

BAB 61


Ivy keluar dari lingkaran cahaya itu. Ia perlahan melepas penutup kepalanya, rambutnya tergerai sedikit berantakan setelah perjalanan sihir yang singkat. Wajahnya tampak pucat diterangi cahaya lilin toko tongkat sihir yang berkelip redup. Vivian yang sedari tadi menegangkan tubuh dengan tongkat sihir terarah ke arah lingkaran, langsung menghela napas lega. Rasa waswas yang sempat menjerat dadanya seketika hilang berganti dengan keterkejutan.

"IVY!" serunya, matanya melebar, ekspresinya antara lega dan bingung.
"Bagaimana kau bisa kemari? Bukannya aku sedang ada di asrama saat ini," lanjutnya, suaranya sedikit bergetar karena belum sepenuhnya percaya.

Ivy melangkah mendekat. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang samar namun menyembunyikan sesuatu. "Aku… meminta izin pada guru agar bisa kemari…" katanya pelan. Suaranya terdengar tenang, padahal jelas itu hanya kebohongan yang terucap. Vivian menatapnya dengan penuh percaya, bahkan sedikit lega, seolah alasan sederhana itu cukup menenangkan hatinya.

"Baiklah, jadi kenapa kau kemari? Apa tongkat itu bermasalah?" tanya Vivian, suaranya penuh harap, matanya melirik sekilas ke arah tongkat yang pernah ia serahkan pada Ivy.

"Tidak, tongkat itu baik-baik saja," jawab Ivy singkat. Ia tidak ingin membuang waktu. Dari balik jubah hitamnya, Ivy menarik sebuah buku tua yang kulitnya sudah usang dan berdebu. Ia mengangkatnya sedikit, menunjukkannya pada Vivian dengan tatapan serius. "Itu."

Vivian mendekat setapak, pupil matanya menyempit saat mengenali benda itu. "Ini… novel apa?" tanya Ivy, suaranya datar namun penuh rasa ingin tahu.

Begitu melihat jelas buku yang ada di tangan Ivy, Vivian langsung terdiam sesaat, lalu menarik napas panjang. Wajahnya berubah; ekspresi kaget berganti dengan kelegaan sekaligus kehati-hatian. "Aaah, ternyata tentang buku itu," ucapnya pelan, seakan berbicara pada diri sendiri.

"Itu bukan novel, tapi buku ramalan tentang masa depan," lanjutnya sambil menatap Ivy dengan serius.

"Buku, ramalan?" Ivy mengernyit, wajahnya tak menyembunyikan rasa bingung.

"Ya," Vivian mengangguk perlahan, kedua tangannya meremas ujung jubahnya tanpa sadar. "Tapi buku itu cacat. Buku itu tidak bisa dikendalikan. Dia meramal orang-orang sesukanya, seolah buku itu memiliki jiwa sendiri. Selain itu, semua ramalannya hanya empat puluh persen kebenarannya." Vivian menatap kosong pada buku itu, seakan ingatan lama kembali menghantamnya. "Itu artinya, masa depan bisa berbeda jauh dari apa yang buku itu ramalkan. Itu sebabnya aku ingin membuangnya kemarin."

Ivy memandang buku itu lama, jemarinya sedikit gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya. "Itu artinya, ramalannya bisa saja tidak terjadi?" tanyanya lirih.

"Iya." Vivian menatap Ivy dengan sorot penuh kesungguhan. "Seperti yang kau ketahui, masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti kebenarannya. Itu bisa saja berubah dari ramalan yang ada di dalam buku, tergantung apa yang kamu lakukan hari ini. Ramalan hanyalah prediksi atau perkiraan tentang masa depan seseorang, belum tentu benar-benar terjadi. Tapi tetap saja, itu juga bisa menjadi kenyataan. Kembali lagi, itu semua bergantung pada diri kita sendiri."

Ivy mengangguk pelan, matanya meredup. "Begitu ya…" gumamnya. Dalam benaknya, sekilas muncul bayangan mantra terlarang yang pernah ia temukan—mantra yang mampu membawanya kembali ke masa lalu atau bahkan pergi ke masa depan. Namun, ketakutan menahannya. Ia takut terperangkap di tahun yang salah, atau malah merusak tatanan kehidupannya sendiri.

"Memangnya, kenapa?" tanya Vivian, menatap Ivy penuh rasa ingin tahu.

"Tidak, aku hanya heran saja," jawab Ivy dengan ragu, tatapannya sedikit menghindar. Ia enggan menceritakan apa yang baru saja ia temukan dalam buku itu. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas tenang.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang