BAB 94
"tidak ada. Kau sempurna, Murray. Hanya aku yang tidak pantas untuk pria sebaik dirimu!" teriak Ivy dalam hati, meski bibirnya tetap terkunci rapat.
"APA KARENA KAU MASIH MENCINTAI KEKASIHMU?" tanya Murray lagi, kali ini dengan nada lebih tegas. Namun Ivy masih terdiam.
Cahaya lampu di ruangan itu terasa temaram, menyorot wajah Ivy yang kini memerah. Matanya berair, seakan sebentar lagi ia akan menangis. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan matanya yang bergetar. Murray menatapnya dengan tatapan tajam, seolah ingin menggali isi hati Ivy hingga ke dalam.
Tak kuasa, Ivy memalingkan wajahnya. Namun Murray tak membiarkannya larut dalam diam. Ia melangkah maju, tubuh tingginya membayangi Ivy yang tampak rapuh. Jemari pria itu mendarat di bahu Ivy, hangat sekaligus menekan. Suaranya berat, penuh keyakinan, "DENGAR, IVY. AKU SERIBU KALI LEBIH BAIK DARI KEKASIHMU! AKU YAKIN MAMPU MEMBUATMU BAHAGIA!"
Ivy terkejut, tubuhnya menegang. Matanya yang masih berair kini berani menatap Murray, meski dengan keraguan. Nafasnya tercekat, dada berdesir menahan gejolak. "Apa kau masih bisa mencintaiku… jika kau tahu masa laluku?"
Ia menunduk lagi, lalu dengan suara bergetar, pecahlah kalimat yang ia tahan begitu lama. "AKU INI BURUK RUPA, DAN AKU ORANG YANG SANGAT JAHAT, MURRAY!"
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Pipinya basah, wajah putihnya kini kusut oleh rasa sakit. Nafasnya terengah, tangannya gemetar hingga ia berusaha menggenggam roknya sendiri untuk menahan rasa goyah itu. Bayangan masa lalu menari di benaknya—bayangan penyiksaan, darah, dan wajah-wajah yang lenyap di tangannya.
Dengan parau ia melanjutkan, "Demi mendapatkan wajah yang mulus… aku mengorbankan segalanya. Termasuk membuat diriku menjadi mandul! Kau tahu apa artinya itu? Kau tidak akan pernah punya keturunan jika menikah denganku. Aku juga sudah tidak perawan, aku juga sudah membunuh banyak orang! Tanganku penuh darah, dosaku terlalu banyak… aku tidak pantas untukmu, Murray. Aku orang yang jahat."
Kata-kata itu menggema di udara. Ruangan seakan membeku. Murray terdiam kaku, seperti patung, matanya menatap Ivy tanpa berkedip.
Ivy terisak pelan, lalu dengan lirih ia menambahkan, "Kau bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku…"
Namun tiba-tiba Murray bangkit dari kebekuannya. Ia meraih Ivy, mendekapnya dengan kuat, begitu erat hingga Ivy merasa sesak. Ivy sempat terkejut, tubuhnya terhimpit dada pria itu, namun tak bisa bergerak karena pelukan Murray terlalu kokoh.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU YANG LAIN!" suara Murray menggema, penuh keyakinan. "Yang kucintai adalah KAMU, hanya KAMU! Bahkan jika dunia membencimu, aku tetap mencintaimu. Aku tidak peduli dengan masa lalumu, jadi jangan pernah berpikir aku akan menjauh darimu!"
Ivy terdiam, tubuhnya melemas dalam pelukan itu. Ia mendongak, menatap wajah Murray dari jarak dekat. Jantungnya berdegup kencang, nyaris meledak oleh derasnya perasaan yang meluap di dadanya. Ada cinta, ada ketakutan, ada luka—semuanya bercampur jadi satu. Pria di hadapannya ini membuat Ivy hampir tak bisa bernapas, bukan karena pelukan semata, melainkan karena ketulusan cinta yang ia rasakan dari Murray.
"Kumohon, cintai aku, Ivy… sebagaimana aku mencintaimu," ucap Murray, suaranya lirih namun sarat dengan permohonan yang sungguh-sungguh.
Sebelum Murray melanjutkan kata-katanya, Ivy dengan tiba-tiba membekap mulut pria itu dengan bibirnya. Ciumannya lembut, namun terasa panas, seolah ia mencurahkan segala gejolak yang selama ini ia tahan. Murray terdiam, membeku. Jantungnya berdegup keras, tubuhnya kaku, tak menyangka Ivy akan melakukan itu.
Ivy terus mengecup, meski nafasnya mulai berat. Saat hampir kehabisan oksigen, ia melepaskan ciuman itu. Bibirnya masih bergetar, matanya menatap Murray lekat-lekat. Napasnya memburu, wajahnya merah, sementara Murray masih terpaku dengan tatapan yang sulit dimengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
