BAB 85
"Apa yang kau bicarakan dengan Rayon ?" tanya Ivy pelan, matanya menyipit menatap Murray dengan penuh selidik.
Murray menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis, senyum yang tampak dipaksakan karena wajahnya masih terlihat letih. "Tidak, bukan apa-apa," jawabnya lirih.
Ivy menahan pandangan curiganya, namun tidak berkata apa-apa lagi. Beberapa detik kemudian ia memilih melangkah lebih cepat, mendahului Murray. Angin pagi menerpa wajahnya, membuat helaian rambut hitamnya yang diwarnai arang bergoyang lembut. Di hadapan mereka terhampar padang rumput luas yang seakan tak berujung. Permukaan tanah bergelombang bak ombak membeku, dihiasi titik-titik bunga liar berwarna kuning dan ungu yang tertiup angin. Dari kejauhan, garis horizon tampak berwarna biru pucat, menyatu dengan langit yang masih diselimuti kabut tipis.
Tak lama, Ivy akhirnya terduduk di atas rerumputan. Bahunya naik-turun cepat, napasnya terengah. Keringat mengalir di pelipisnya, membasahi kulitnya yang pucat. Tubuhnya yang kurus tampak semakin ringkih, membuat Murray ikut merasakan sesak hanya dengan melihatnya.
"Bisa... bisa kita istirahat sebentar?" pintanya dengan suara bergetar.
Murray menunduk menatapnya, hatinya terasa berat. Rasa iba menyeruak dalam dirinya, melihat Ivy berusaha tegar padahal tubuhnya sudah kelelahan. Anehnya, dirinya sendiri masih kuat melangkah meski mereka sudah berjalan setengah hari.
"Kau sangat kelelahan ya?" tanyanya lembut, suaranya penuh rasa kasihan.
Ivy hanya mengeluarkan deheman singkat sambil mengangguk pelan.
"Hem..."
Murray lalu tersenyum kecil, meski matanya tampak sendu. "Kalau kamu lelah, kamu bisa minta aku menggendongmu."
Ivy menatapnya dengan mata ragu, seolah tak percaya. "Kau mau menggendongku?" tanyanya, heran melihat tubuh Murray yang kurus. Ia takut berat badannya justru menyulitkan pria itu.
"Ya. Kita harus cepat melewati tempat ini sebelum gelap," jawab Murray mantap. Ia segera berjongkok di depan Ivy, siap menundukkan punggungnya. "Padang rumput pasti berbahaya saat malam hari."
Ivy masih ragu sejenak, namun tatapan Murray yang bersungguh-sungguh membuatnya luluh. Perlahan ia naik ke punggungnya, melingkarkan tangan di leher Murray, dan menyandarkan kepala di bahu pria itu. Saat itu telinganya menangkap detak jantung Murray yang berdentum cepat, membuatnya berpikir itu hanyalah karena kelelahan.
"Apa aku berat?" tanya Ivy, setengah malu.
Murray menghela napas, suaranya lemah tapi tulus. "Tidak kok. Kamu ringan."
Jawaban itu membuat pipi Ivy merona, senyum samar merekah tanpa sadar. Di matanya, Murray bukan hanya lelaki yang lembut dan penuh perhatian, tapi juga sosok yang gigih, keras kepala dalam tekad, namun tetap hangat. Hal itu membuat Ivy merasa aman, nyaman... sekaligus bersalah. Sekilas ia teringat pada Brayen—dua pria dengan sifat yang mirip, namun berbeda cara menghadapi dunia.
Rasa bersalah mencengkeram dadanya. Semua kebaikan Murray terasa seperti beban yang membuatnya merasa dirinya adalah manusia paling buruk. Perlahan ia berbisik di telinga pria itu, "Kenapa kau baik sekali, Murray... Kau tahu, ini membuatku merasa sangat buruk."
Beberapa hari kemudian, setelah menempuh perjalanan panjang melewati padang rumput, hutan kecil, dan jalan berbatu yang melelahkan, akhirnya mereka tiba di desa yang dimaksud Rayon. Ivy dan Murray berdiri tegak di depan gerbang kayu sederhana yang menjadi pintu masuk.
Desa itu kecil, tenang, dikelilingi ladang hijau dan pohon kelapa yang bergoyang tertiup angin laut dari kejauhan. Rumah-rumah berdinding kayu berdiri rapat, asap tipis mengepul dari cerobong atap, menandakan para penghuni baru saja menyalakan tungku untuk memasak. Beberapa anak kecil berlarian di jalan tanah, tertawa riang tanpa menyadari ada dua orang asing sedang mengamati mereka dari pintu gerbang.
Murray menatap sekeliling dengan mata berbinar campur lega. "Kita sudah sampai di sini... Sekarang kita harus apa?" tanyanya dengan suara parau setelah perjalanan panjang.
"Sebaiknya kita mencari pekerjaan," ucap Ivy sambil menoleh pada Murray. Senyum lemah muncul di wajahnya, meski sorot matanya terlihat letih.
"Kalau kita punya pekerjaan, itu artinya kita bisa mendapatkan uang. Kita bisa menyewa kamar dan membeli beberapa makanan dari uang itu," lanjut Ivy dengan suara pelan.
"Menurutmu, pekerjaan apa yang bisa kita lakukan?" tanya Murray, menatap Ivy dengan keraguan.
"Entahlah… mungkin pekerjaan kasar," jawab Ivy sembari merapikan baju lusuh yang ia kenakan.
Mendengar itu, Murray terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak. Bayangan Ivy bekerja kasar, mengangkat beban atau melakukan hal-hal berat, membuat hatinya tidak tenang.
"Bagaimana kalau kau menggunakan sihirmu? Mungkin kita bisa mendapatkan uang tanpa harus bekerja," ucap Murray akhirnya, nada suaranya terdengar penuh harap.
Namun Ivy segera menggeleng lemah. Tatapannya tajam, meski bibirnya bergetar menahan kegelisahan. "Tidak! Bagaimana jika ada yang melihatnya? Kita bisa dalam bahaya nantinya. Kau kan tahu sendiri, pada zaman ini para penyihir sangat dibenci semua orang. Jika mereka tahu kita penyihir, mereka bisa saja membakar kita hidup-hidup."
"Jadi… kau mau bekerja kasar?" tanya Murray ragu, suaranya seperti bergetar.
"Ya. Tidak ada pilihan," jawab Ivy. Senyumnya mengembang, meski terlihat dipaksakan. Seolah ia ingin meyakinkan Murray bahwa dirinya baik-baik saja.
Murray hanya diam. Sorot matanya meredup, layu, menunjukkan jelas bahwa ia tidak menyukai keputusan itu.
"Baiklah, mari kita mulai mencari pekerjaan," ucap Ivy berusaha ceria.
"Hem…" Murray hanya bergumam lemah.
"Nanti, kita ketemu lagi di tempat ini ya," kata Ivy.
"Iya," balas Murray singkat.
Ivy berjalan menjauh sambil memainkan jari-jarinya, senyum samar tetap terlukis di wajahnya. Murray memperhatikannya, lalu tanpa sadar ikut tersenyum.
"Ivy," panggilnya tiba-tiba.
Ivy segera membalikkan badan. Rambutnya yang tergerai tertiup angin sore, wajahnya memerah karena terkejut sekaligus penasaran. "Ya?"
"Hati-hati di jalan," ucap Murray lembut. Tatapannya penuh arti, hangat, seperti selimut yang melindungi.
Untaian kata itu membuat dada Ivy terasa hangat, seolah ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya. Ia tersenyum manis, lalu menjawab, "Iya, kau juga."
Setelah itu Ivy berbalik, langkahnya ia percepat. Dalam hatinya ia bergumam, "Kenapa rasanya kami sudah seperti pasangan kekasih sungguhan?" Namun segera ia menepis pikiran itu dan tersenyum getir. "Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja."
Senja mulai turun. Langit berwarna jingga keemasan, sementara bayangan panjang pepohonan menjuntai di jalan desa yang mulai sepi. Ivy berlari kecil, langkahnya ringan meski tubuhnya letih. Nafasnya memburu, namun hatinya bersemangat saat mendekati tempat terakhir ia bertemu dengan Murray.
"Murray!" seru Ivy sambil melambaikan tangan. Senyumnya merekah, matanya berbinar penuh rasa lega.
Murray yang sedang menunggu di sana menoleh cepat. Begitu melihat Ivy, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tulus. "Ivy!" balasnya dengan nada penuh kegembiraan.
Saat Ivy sampai di hadapannya, gadis itu hampir terengah. Ia menepuk dadanya pelan lalu berkata dengan suara bergetar karena kelelahan sekaligus gembira, "Aku sudah mendapatkan pekerjaan!"
"Sungguh? Aku juga mendapatkan pekerjaan!" sahut Murray cepat, wajahnya berbinar. Sorot matanya seakan berkata bahwa ia sama bahagianya dengan kebahagiaan Ivy.
"Di mana kau bekerja?" tanyanya dengan nada penuh penasaran.
"Di sana," jawab Ivy sambil menunjuk sebuah toko roti yang terlihat sedang ditutup pemiliknya karena hari mulai gelap. Bau roti panggang yang masih tersisa samar-samar terbawa angin sore. Ivy tersenyum manis, lalu menambahkan, "Aku bekerja sebagai pembuat roti. Lalu, bagaimana denganmu?"
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
