26.

82 3 0
                                        

BAB 26


"Sudah kukatakan, BUKAN AKU!" teriak Ivy, suaranya pecah penuh amarah.
Suara itu menggema di dalam ruangan yang remang-remang, memantul di dinding batu tua yang dingin. Ketegangan di udara terasa begitu pekat, seakan waktu berhenti. Ivy melangkah maju, matanya menyala penuh kebencian, mendekati Sementa yang terbaring di lantai dengan napas terengah. Sementa berusaha merangkak menjauh, telapak tangannya bergetar di lantai yang dingin, tapi langkah Ivy jauh lebih cepat dan mantap.

Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa inci, Ivy menundukkan wajahnya, berbisik dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk meremang.
“Kalian ingin tahu siapa pelaku yang sebenarnya? Baik. Aku, Elsie Cotton, akan membongkar siapa yang membunuh Jessica, dan aku akan membalas perlakuan kalian… dengan cara yang jauh lebih sadis dari yang kalian bayangkan. Tunggu saja.”

Nada suaranya bukan sekadar ancaman, tapi seperti vonis yang tak bisa dibatalkan. Wajah Sementa seketika memucat, matanya melebar, bibirnya bergetar tanpa suara. Ia gemetar seperti anak kecil yang baru saja melihat hantu. Ivy, tanpa menoleh lagi, berbalik dan melangkah pergi. Entah bagaimana, seiring kepergiannya, semua barang-barang pribadi Ivy yang tadi tertinggal juga menghilang begitu saja—seakan lenyap ditelan udara.

Sore itu, langit Manchester mulai menggelap. Awan kelabu bergantung rendah, menahan hujan yang bisa turun kapan saja. Ivy berjalan pulang perlahan, tubuhnya masih lemah karena sakit. Nafasnya berat, langkahnya terhuyung, tapi matanya tetap menatap ke depan. Saat mendekati rumah, ia terhenti—di sana, tepat di depan pintu, tergeletak sebuah kotak paket yang sangat dikenalnya. Kotak ancaman.

Paket itu tampak sama seperti sebelumnya: kusam, sudut kardusnya penyok, dengan coretan tinta hitam berisi kata-kata keji yang menusuk mental. Di dalamnya, Ivy tahu, selalu ada barang-barang aneh dan menjijikkan—seperti pesan dari seseorang yang ingin merusaknya perlahan.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Tubuhnya tegang, seolah mengumpulkan sisa keberanian. Tanpa ragu, ia berjalan mendekat, mengambil kotak itu, dan kali ini langsung membuangnya ke tong sampah besar di depan rumah—tak peduli siapa pun yang melihat.

Begitu pintu rumah terbuka, aroma menusuk hidung menyambutnya. Bau alkohol yang pekat bercampur udara dingin dari luar. Ivy langsung tahu. Siapa lagi kalau bukan ayah tirinya—meski menyebut pria bejat itu “ayah” terasa seperti menghina kata itu sendiri. Bau itu saja sudah cukup memicu ingatan buruk yang selama ini ia tekan; ingatan tentang sentuhan kotor dan perlakuan menjijikkan darinya.

Mata Ivy menyipit, rahangnya mengeras. Ia melangkah masuk lebih dalam, tiap injakan terasa berat tapi penuh amarah. Lorong rumah itu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi papan lantai berderit. Saat ia mendekati kamar ibunya, suara samar mulai terdengar—suara rendah, berat, dan tak senonoh. Semakin dekat, semakin jelas, dan darah Ivy mulai berdesir panas.

Tapi yang membuatnya semakin murka adalah saat ia menyadari sesuatu. Suara itu bukan milik ibunya.
Langkahnya semakin cepat. Amarah menguap menjadi api yang membakar setiap sarafnya. Dengan dorongan sihir, ia menghantam pintu itu hingga terbuka lebar—terlalu keras, hingga engselnya patah dan pintu terjengkang miring.

Pemandangan di dalam kamar membuat perut Ivy mual. Rouni—pria paruh baya yang seharusnya hanya menumpang di rumah ibunya—sedang di atas tubuh seorang wanita yang sama sekali tak ia kenal. Keduanya telanjang, bergulat di atas ranjang dengan posisi yang… menjijikkan. Keringat bercampur bau alkohol memenuhi udara. Rambut kusut wanita itu menutupi setengah wajahnya, sementara Rouni, dengan tubuhnya yang bau dan berurat, bergerak tanpa rasa malu sedikit pun.

Amarah Ivy melonjak. Ibunya sedang hamil tua, dan pria itu… melakukan ini di kamar ibunya sendiri?
"Apa yang kau lakukan di sini?" geram Ivy, suaranya nyaris pecah karena menahan emosi.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang