63.

67 2 0
                                        

BAB 63




Seorang pria tua dengan janggut putih lebat berdiri tegap di depan jendela besar yang berbingkai emas kusam. Dari balik kaca jendela itu tampak lima gedung pencakar langit menjulang, seolah menjadi tiang penyangga negeri Semidio. Langit sore berwarna kelabu, dan cahaya matahari yang redup hanya mampu menyorot samar ke dalam ruangan luas itu. Tirai tebal dari beludru merah bergoyang pelan diterpa angin, sementara bau kayu tua dan debu bercampur menjadi aroma khas yang memenuhi udara.

Pria tua itu berbalik perlahan. Tatapannya tajam dan penuh wibawa, menembus kegelapan ruangan yang hanya diterangi beberapa lilin besar di sudut dinding. Di hadapannya berdiri seorang pria lain, sama-sama tua namun sedikit lebih muda darinya. Sesaat kemudian, tongkat kayu yang digenggamnya dihentakkan ke lantai marmer. Suara dentumannya menggema, membuat suasana ruangan seolah lebih berat.

“Apa gadis itu sudah bisa membuka ruangan itu?” suara pria tua itu keluar dingin, sarat dengan rasa sinis dan penuh tuntutan.

“Belum, Tuan Babington. Cucu saya… belum bisa membukanya.” Jawaban itu lirih, namun tegas, keluar dari mulut Alan Ulusoy.

Alan Ulusoy—kepala keluarga Ulusoy, salah satu keluarga penyihir paling terpandang dan kaya raya. Usianya sudah senja, rambutnya memutih, namun sorot matanya masih penuh dengan wibawa seorang pemimpin. Banyak orang masih menaruh hormat padanya, kecuali pria tua yang kini berdiri di hadapannya.

Churchill Babington. Itulah nama pria yang menatap Alan dengan mata yang bagai pisau berkarat—tajam sekaligus penuh hinaan. Ia adalah perwakilan tertinggi bangsa penyihir, seorang tokoh politik yang disegani karena kekuatannya di masa muda dan kontribusinya yang tak terhitung. Kini tubuhnya renta, kulit wajahnya berkeriput seperti kantong kulit usang, namun ambisi dan arogansinya tidak pernah surut.

“Apa kau bercanda?!” seru Churchill sambil mengetuk lantai dengan tongkat hitamnya. Suaranya memantul di dinding batu dan atap ruangan yang tinggi. “Sudah sepuluh tahun sejak dia ditemukan! Tapi sampai hari ini, dia bahkan belum bisa membukanya? Kau pikir ini lelucon, Alan?”

Alan terdiam. Rahangnya mengeras, matanya sedikit menunduk. Setiap kata Churchill menusuk hatinya, bukan hanya karena mempermalukannya, melainkan juga karena membicarakan cucunya—satu-satunya harapan yang tersisa setelah kehilangan putra yang ia cintai.

Topik itu selalu menjadi luka. Semua berawal ketika putranya, Cagatay Cotton Ulusoy, menghilang secara misterius. Desas-desus beredar: ada yang bilang ia diculik, ada yang berbisik ia melarikan diri, ada pula yang percaya ia tersesat di zaman yang tak diketahui. Alan Ulusoy menolak mendengar gosip itu, tapi setiap kali nama anaknya disebut, dadanya terasa seperti diremas.

Namun, suatu hari ia mendengar kabar bahwa putranya kembali ke negeri Semidio. Kabar yang sempat membuatnya hampir menangis lega. Anaknya ikut berperang, berdiri di samping Siren Hugo, membawa kekuatan besar yang menggetarkan dunia sihir. Ia menolong bangsa Siren, mengangkat nama keluarga Ulusoy kembali ke puncak kejayaan. Tapi kebahagiaan itu singkat. Putranya jatuh sakit setelah pertempuran besar itu, dan sebelum Alan sempat menemuinya, segalanya telah terlambat.

Satu-satunya kabar baik yang tersisa hanyalah kenyataan bahwa putranya meninggalkan seorang anak perempuan. Mendengar itu, Alan merasakan secercah cahaya dalam hatinya yang hancur. Ia bersumpah akan menemukan cucunya dan menjaganya, meski harus melawan dunia.

Namun, tak lama setelah ia berhasil menemukan sang cucu, Churchill Babington datang dengan sekelompok pengikut setianya. Mereka membawa sebuah kepala patung batu berusia ratusan tahun. Retakan memenuhi permukaannya, lumut dan debu menempel, namun Alan tak bisa menahan air mata saat menyadari wajah yang dipahat itu—wajah putranya.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang