Bab 75
"Tidak! Kau pasti bohong!" bentak Elsie Cotton dengan mata membelalak, wajahnya memerah karena amarah bercampur panik. Nafasnya memburu, seakan dadanya terlalu sempit untuk menahan gejolak yang bergolak di dalam dirinya.
"Terserah, mau percaya atau tidak. Toh, itu juga tidak akan menguntungkan bagiku," ucap Ivy tenang, namun sorot matanya tajam, penuh dengan keyakinan yang tidak bisa digoyahkan.
Tak ingin Elsie Cotton terus mengusiknya, Ivy mengangkat kedua tangannya perlahan. Udara di ruangan itu berubah dingin, angin berputar membawa suara-suara samar yang tak jelas dari arah kegelapan. Bayangan hitam merambat di lantai, seolah hidup, kemudian melompat menyergap Elsie Cotton. Gadis itu terhempas dan terseret oleh kekuatan gaib yang muncul entah dari mana. Ia berusaha meronta, jemari mungilnya mencakar udara kosong, namun sia-sia. Sihir Ivy terlalu kuat, melilit tubuhnya seperti rantai tak kasat mata.
"Le-lepaskan aku! Tolooong!" teriak Elsie Cotton, suaranya pecah, penuh ketakutan. Ia menjerit hingga tenggorokannya terasa perih, namun jeritan itu hanya memantul di antara dinding dingin dan kosong, tak ada seorang pun yang datang menolong.
Sementara itu Ivy tetap berdiri tegak di tengah lingkaran simbol yang sudah rusak akibat keributan tadi. Keringat dingin menetes di pelipisnya, namun wajahnya tetap dingin tanpa belas kasihan. Dengan gerakan terukur, ia memperbaiki garis-garis simbol yang tergores, jarinya menelusuri tiap ukiran dengan penuh kehati-hatian. Cahaya samar mulai merembes dari simbol itu, menandakan kekuatan kembali pulih.
Begitu semuanya selesai, Ivy menarik napas panjang. Kali ini ia membaca mantra dengan suara lantang, tegas, dan penuh keyakinan. Tidak ada lagi keraguan dalam nada bicaranya. Tekadnya bulat: kembali ke masa lalu, mencegah kekasihnya meminum ramuan pelupa. Demi itu, Ivy rela melakukan apa saja, bahkan jika harus menantang takdir.
"χρυσό πουλί, σε παρακαλώ πήγαινε με στο παρελθόν," serunya, suaranya menggema hingga membuat udara di sekeliling bergetar.
Garis-garis simbol menyala terang. Cahaya itu semakin kuat, menyilaukan, hingga ruangan yang semula dipenuhi bayangan kini berubah bagai samudra cahaya putih. Ivy perlahan tenggelam ke dalam sinar itu, tubuhnya memudar seperti ditelan kabut bercahaya.
Tanpa disadari Ivy, seseorang berlari masuk ke dalam lingkaran itu. Sosok itu begitu cepat, hanya siluet gelap yang sempat tertangkap cahaya sebelum akhirnya lenyap bersamanya.
Sesaat kemudian, cahaya itu padam. Hening. Ruangan kembali dingin dan remang. Mantra yang mengikat Elsie Cotton pun lenyap. Tubuhnya terlepas dari jeratan bayangan, ia terjatuh tersungkur di lantai.
Gadis itu terdiam beberapa detik, matanya masih kosong, dadanya naik turun cepat. Rasa syok masih membekap pikirannya—fakta yang baru saja ia terima, bahwa dirinya bukan cucu kandung Alan Ulusoy, masih menusuk hatinya dengan getir. Namun kini ia kembali terguncang, melihat dengan mata kepala sendiri Ivy menghilang bersama seseorang yang cukup ia kenali.
"Ke... kemana mereka pergi...?" ucap Elsie Cotton dengan suara bergetar, hampir tak terdengar. Jemarinya meremas ujung bajunya sendiri, tubuhnya gemetar hebat, dan sorot matanya dipenuhi rasa takut bercampur tanda tanya besar.
***
Ivy terduduk lesu di tanah berumput, tubuhnya lunglai seolah semua tenaga telah tersedot habis. Mata Ivy terbuka lebar, bergetar seakan hendak melompat keluar dari wajahnya saat menatap pemandangan yang terbentang di hadapannya. Nafasnya terengah, tubuhnya gemetar, dan keringat mengalir deras dari pori-porinya, menetes membasahi leher dan pelipis. Putus asa begitu jelas terpancar di wajahnya.
Di depannya, hutan lebat menjulang. Pohon-pohon raksasa berdiri gagah, dedaunan hijau berkilau diterpa cahaya matahari yang terik namun hangat. Burung-burung berkicau berpasangan di dahan, seolah merayakan kehidupan yang damai. Angin sejuk membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Langit begitu cerah, biru tanpa awan, dan udara segar merayapi kulit dengan lembut.
Pemandangan itu, bagi orang lain, mungkin menenangkan. Namun tidak untuk Ivy. Ia hanya bisa merasakan kekosongan. Hatinya bergetar hebat saat menyadari kenyataan pahit—ia tidak berhasil sampai di waktu yang diinginkannya. Dunia di sekitarnya masih tampak terlalu “muda,” penuh kehidupan yang baru saja memasuki musim panas. Padahal yang ia incar adalah awal musim gugur, ketika langit lebih pucat, dedaunan mulai gugur, dan saat dimana Brayen dicekoki ramuan hijau itu.
Inilah resiko dari sihir hitam yang belum sempurna. Perjalanan waktu yang ia lakukan selalu membawa kemungkinan untuk tersesat di tahun yang tidak bisa diprediksi.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Ivy dengan seluruh tenaga, suaranya melengking, bergema memantul di pepohonan. Sekelompok burung yang bertengger kaget dan terbang berhamburan, sayap-sayap mereka menciptakan riak suara di udara.
Ivy berteriak sekali lagi, tapi kali ini suaranya pecah, penuh getar. Tubuhnya bergetar, dan air mata yang ia tahan akhirnya jatuh deras, membasahi pipinya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, lalu menangis tersedu, bahunya naik turun.
"Hiks… Aaa… hu… huuu… hiks…" tangisnya pecah, sesekali ia memukul dadanya sendiri yang terasa begitu sakit, seakan ingin mengeluarkan semua luka dari dalam.
Namun tangisannya terhenti saat sebuah suara muncul di belakangnya.
"Ki… kita ada di mana?" suara itu membuat Ivy membeku.
Dengan cepat ia menyeka air matanya, meski wajahnya masih basah dan matanya sembab. Perlahan ia menoleh ke belakang, dan matanya membelalak. Tepat di belakangnya berdiri seorang pria dengan rambut perak berkilau, berantakan tertiup angin, menatapnya dengan tatapan bingung. Mata pria itu tajam, namun penuh tanda tanya. Ia adalah Murray.
"Kau… kenapa kau ada di sini?" geram Ivy, suaranya serak namun penuh amarah.
Murray sedikit mengernyit, alisnya merajut rapat. Nada bicara Ivy yang kasar menyulut emosinya. Wajahnya mengeras, sorot matanya berubah dingin.
"Aku hendak menolong Elsie dari wanita jahat seperti kau!" katanya lantang.
Ucapan itu bagai pisau menoreh hati Ivy. Senyumnya yang sinis muncul, tapi mata merahnya menyimpan kilatan amarah.
"Kau bilang aku jahat?" ucapnya, nadanya rendah namun penuh kemarahan yang ditahan.
"Ya! Terus apa?!" jawab Murray tegas, matanya tak berkedip menatap Ivy.
"Aku melihatnya dengan jelas, bagaimana kau menyiksa Elsie dengan sihir hitammu!" Murray menekankan kata-katanya, suaranya penuh keyakinan, mengingat kembali pertengkaran Ivy dengan Elsie Cotton palsu beberapa menit lalu.
Ivy berdiri perlahan, tubuhnya tegang, wajahnya merah padam. Napasnya berat, suaranya gemetar saat ia berteriak, "Apa kau melihat kejadian itu dari awal?!" Matanya membara menatap Murray. "Apa kau tidak lihat siapa yang menyulut api terlebih dahulu?! Atau matamu telah buta karena terlalu mencintai gadis itu!"
Kemarahan Ivy meluap, tapi di balik itu tersimpan keputusasaan. Ia tidak hanya marah pada Murray, tapi juga pada nasib yang seakan mempermainkannya tanpa ampun.
Murray membuka mulut, hendak menjawab, tapi belum sempat sepatah kata pun keluar, Ivy mengangkat tangannya cepat. Mantra meluncur dari bibirnya, membuat suara Murray terkunci seketika. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar.
Ivy menatapnya dengan sorot mata tajam, penuh dendam dan luka, lalu berteriak, "Gadis itu yang menyerang lebih dulu!"
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
