BAB 17
Beberapa jam kemudian, Ivy sudah berdiri di depan rumahnya. Malam telah merambat jauh; udara dingin menusuk tulang, memaksa uap napasnya keluar dalam semburat putih setiap kali ia menghela napas. Meski kunci rumah ada di genggamannya, ia enggan membuka pintu. Dari balik kaca jendela besar ruang tamu, cahaya hangat lampu menyorot keluar. Suara tawa dan percakapan ramai terdengar samar. Di dalam, rumah dipenuhi tamu—teman dan keluarga yang sebagian besar hanya wajah asing bagi Ivy.
Ia menurunkan pandangan, lalu melangkah ke bangku kayu di teras. Duduk di sana selama beberapa menit, ia memandangi jalanan yang sepi dengan tatapan kusut. Pipinya terasa dingin, dan ujung jarinya mulai kebas. Pintu depan tiba-tiba terbuka, menimbulkan derit kecil, lalu seorang gadis keluar sambil merapatkan jaket wolnya.
“Hei, kenapa kau tidak masuk?” tanya gadis itu sambil memiringkan kepala, suaranya datar namun penuh rasa ingin tahu.
Gadis itu adalah Jini, anak kedua dari Rouni. Usianya 24 tahun—hanya terpaut sedikit dari Ivy—dan saat ini ia berkuliah sambil bekerja paruh waktu di sebuah kafe di pusat kota. Tidak seperti Linda, Rouni, atau Ivy, Jini tidak tinggal di rumah ini. Ia menyewa apartemen bersama pacarnya selama hampir empat tahun, sebuah hal yang dianggap lumrah di lingkungan mereka. Hubungan Jini dengan Rouni bisa dibilang baik, meski tidak hangat. Hal yang sama berlaku pada Ivy—tidak pernah dekat, bahkan Ivy cenderung menjaga jarak dari siapa pun yang berhubungan dengan Rouni, termasuk ibunya sendiri.
Anak pertama Rouni, Sea, bahkan lebih jauh lagi. Tinggal di luar negeri dan jarang sekali berkomunikasi, hubungan mereka nyaris beku.
Ivy hanya menatap sekilas ke arah Jini, bibirnya bergerak membentuk kata yang dingin. “Bukan urusanmu, Jini.”
Tanpa menunggu respons, ia berdiri dan melangkah masuk ke rumah. Suara pintu yang tertutup pelan menjadi jawaban terakhirnya. Jini hanya memajukan bibir bawahnya, seolah memberi isyarat ‘terserah saja’, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi.
Begitu kaki Ivy menjejak lantai ruang tamu, denting gelas dan tawa riuh yang tadinya mengisi udara seketika meredup. Seolah seseorang memutar tombol volume hingga nyaris mati. Semua mata menoleh padanya—beberapa dengan tatapan datar, beberapa lainnya dengan rasa ingin tahu yang dingin. Aroma wangi kue cokelat dan sampanye memenuhi ruangan, tapi bagi Ivy, semua itu hanya terasa pengap dan menusuk hidung.
Di tengah kerumunan, ibunya berdiri dengan gaun merah yang terlalu mencolok, senyum terlukis rapi di bibirnya. “Ivy, sayang,” panggilnya dengan nada manis yang terdengar begitu artifisial di telinga Ivy. “Ayo, bergabunglah. Kita sedang merayakan ulang tahun Rouni.”
Rouni, dengan kemeja biru dan wajah yang dibuat seramah mungkin, melambaikan tangan kecil ke arahnya. Tatapannya hangat, seperti sosok ayah yang baik—tapi hanya Ivy yang tahu, itu bukan tatapan yang tulus. Ada sesuatu yang bersembunyi di balik sinar matanya, sesuatu yang membuat Ivy ingin memalingkan wajah.
Ivy menatap mereka sebentar, lalu tanpa sepatah kata, ia berbalik. Tumit sepatunya menjejak anak tangga kayu, satu demi satu, dengan bunyi yang terdengar lebih keras dari biasanya. Ia tak menoleh lagi meski merasakan puluhan pasang mata menancap di punggungnya.
Keheningan itu menggantung beberapa detik setelah ia menghilang di tikungan tangga. Lalu, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, musik kembali mengalun, gelak tawa terdengar lagi, dan suara gelas beradu memenuhi udara. Ibunya juga kembali larut dalam percakapan, seakan Ivy hanyalah bayangan yang lewat tanpa arti.
Di dalam kamarnya, Ivy duduk di tepi ranjang, cahaya lampu redup memantulkan siluetnya di dinding. Ingatan sore tadi muncul begitu saja—tatapan penuh kasih dari kedua orang tua Natali, mantan sahabatnya, saat mereka menyambut Natali pulang. Senyum tulus itu, genggaman hangat, dan cara mereka memperlakukan putri mereka seolah dunia berputar demi kebahagiaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
