Bab 25
Ivy menatap sosok yang baru saja berbicara. Sosok itu adalah Brayen. Pria itu duduk tepat di kursi di samping kasur tempat Ivy berbaring. Pandangannya terarah penuh pada Ivy, tatapannya sulit diartikan—ada kekhawatiran di sana, tapi Ivy tak yakin apakah itu tulus atau hanya sekadar basa-basi.
“Kau bisa melihatnya, kan?” ucap Ivy dengan nada dingin.
Nada suaranya memotong hening yang menggantung di ruangan itu. Ia sedikit kesal karena Brayen menatapnya seperti itu, seolah-olah menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Menurutnya, itu hanya membuat situasi jadi konyol. Terlepas dari rasa kesalnya, Ivy juga merasa malu. Ia baru menyadari bahwa masker yang biasa menutupi wajahnya tak lagi dipakai—kemungkinan telah dilepaskan oleh dokter saat ia dibawa ke ruangan ini.
Perlahan, Ivy mengangkat tangan dan menutupi bagian wajahnya yang dipenuhi bekas luka bakar. Brayen memang sudah melihatnya sedari tadi, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya mengenai luka itu. Pandangannya tetap tenang, tidak menghakimi. Dia adalah tipe pria yang mengerti batasan, tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
“Kenapa kau bisa pingsan? Apa kau telat makan? Apa kau sakit?” tanya Brayen, nadanya kali ini terdengar sedikit tergesa, namun tetap lembut.
Ivy hanya diam, menundukkan pandangan. Ia enggan menjawab pertanyaan dari pria yang dulu pernah mencampakkannya. Di dadanya, rasa kesal bercampur dengan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Diamnya Ivy membuat Brayen terlihat sedih; kekecewaan itu tergambar dari sorot matanya yang meredup.
“Dokter bilang tekanan darahmu sangat rendah. Itu membuat tubuhmu lemas... sepertinya kau memang telat makan,” ucap Brayen lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan, seakan kehilangan semangat.
Ivy tetap tak menatapnya. “Kenapa kau begitu perhatian padaku? Kau bahkan tidak mau pergi meskipun aku sudah mengusirmu.”
“Itu karena aku—” ucapannya terhenti ketika terdengar suara pintu terbuka.
Keduanya serempak menoleh. Dari pintu, masuklah Natali. Gadis itu melangkah masuk dengan sepatu hak tipis yang bunyinya memecah kesunyian ruangan. Tatapannya menusuk Ivy penuh sinis, tapi begitu melihat Brayen, suaranya berubah menjadi manis.
“Sayang... ayo kita pulang,” ujarnya lembut, nyaris dibuat-buat.
Brayen hanya mengangguk pelan. Ia sempat menoleh pada Ivy dan berkata, “Aku pulang dulu... dan kau harus menjaga kesehatanmu.”
Tanpa menunggu respon, ia pergi bersama Natali, meninggalkan Ivy sendirian. Namun pikiran Ivy tetap tertinggal pada ucapan Brayen yang belum selesai tadi.
“Apa yang ingin dia katakan?” gumamnya lirih.
Tak lama setelah kepergian mereka, seorang dokter masuk. Ia adalah dokter sekolah di akademi elit itu—seorang pria paruh baya yang biasanya hanya datang jika ada siswa yang sakit, karena memiliki pekerjaan utama di luar sekolah. Penampilannya rapi, dengan jas putih yang terlipat rapi di bagian lengan, dan aroma antiseptik samar yang terbawa bersama langkahnya.
Ia menanyakan kondisi Ivy, dan gadis itu menjawab singkat bahwa dirinya sudah merasa lebih baik. Dokter kemudian memberikan hasil diagnosis sementara: Ivy mengalami kelelahan berat dan kekurangan asupan makan. Bukan penyakit yang serius, namun tetap tidak boleh diremehkan. Ia menyerahkan beberapa obat, memberi pesan singkat untuk istirahat.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter itu pamit meninggalkan ruang UKS. Ivy pun harus segera pulang karena jam sekolah telah usai. Ia berjalan cepat menuju kelasnya untuk mengambil barang-barangnya. Koridor sekolah tampak sepi—terlalu sepi. Cahaya matahari sore menembus jendela besar, memantulkan bayangan panjang di lantai yang mengilap. Suara langkah kakinya bergema, memantul di dinding batu tua. Semua kelas kosong, pintu-pintu tertutup rapat, dan ruangan lainnya pun tak berpenghuni. Untuk sesaat, Ivy mengira ia satu-satunya orang yang tersisa di sekolah itu.
Namun, begitu melangkah masuk ke kelasnya, ia langsung melihat Margaret dan Sementa di sana. Keduanya berdiri di dekat meja bagian belakang, menatap Ivy dengan tatapan tajam penuh sinis, bibir mereka melengkung membentuk senyum mengejek.
Ivy menahan diri, hanya melirik sekilas, lalu melangkah cepat menuju mejanya. Tangannya bergerak lincah meraih tas dan buku, berniat pergi tanpa menimbulkan keributan. Tapi harapannya buyar. Begitu ia berbalik hendak keluar, suara langkah mereka terdengar mendekat. Margaret dan Sementa berjalan angkuh, wajah mereka menampilkan kesombongan seolah memiliki kuasa penuh di ruangan itu. Dalam hitungan detik, mereka sudah berada tepat di belakangnya. Ivy tetap berusaha mengabaikan, menatap ke depan seakan mereka hanyalah bayangan tak berarti.
Namun tiba-tiba, rasa sakit menusuk kulit kepalanya. Sementa menarik rambutnya dengan kasar, membuat Ivy terpekik tertahan.
"Dasar wanita murahan! Berani sekali kau pura-pura sakit demi mencari perhatian kekasih orang lain!" hardik Sementa sambil mendorong Ivy ke depan.
Tubuh Ivy terhuyung, menabrak sisi meja dengan bunyi keras, lalu jatuh ke lantai berdebu. Rasa nyeri menjalar di punggungnya. Dengan wajah meringis, ia mengusap bagian tulang belakangnya yang terasa perih, lalu menatap dua gadis itu dengan mata penuh amarah. Ada dorongan kuat untuk membalas, untuk menghajar mereka saat itu juga.
"Aku tidak menggoda siapa pun! Aku memang sakit! Dasar gila!" Suaranya meninggi, membuat gema di dalam kelas kosong itu.
Kemarahan Ivy justru membuat Margaret semakin tersulut. "Kau… berani melawan!" geramnya.
Margaret melangkah cepat, sepatu hak rendahnya mengeluarkan suara menghentak di lantai. Tanpa ragu, ia menendang paha Ivy, lalu menginjak perutnya dengan tekanan penuh. "Rasakan ini, dasar jalang!" serunya dengan nada penuh kebencian.
"Aaau…!" Ivy meringis, rasa sakit memaksanya tertekuk.
Kesabaran Ivy habis. Dengan sisa tenaga, ia merapalkan mantra sihir yang begitu familiar di benaknya. Sekejap kemudian, tubuh Margaret terhempas ke belakang, melayang beberapa meter sebelum menghantam meja dan jatuh keras ke lantai. Tubuhnya terkulai tak bergerak.
Sementa terperanjat, matanya melebar melihat kejadian itu. Namun ia sama sekali tak berpikir itu sihir. Baginya, Ivy hanya mendorong Margaret dengan kekuatan tak terduga. Meski begitu, rasa angkuh masih bercokol di wajahnya. Ia belum puas, belum selesai menindas Ivy.
Dengan napas terengah, Ivy memaksa dirinya berdiri. Sorot matanya menusuk ke arah Sementa. “Apa masalah kalian? Kenapa kalian terus menggangguku!?”
“Itu karena kau pantas mendapatkannya!” jawab Sementa lantang, suaranya menggema di ruangan hening itu.
Ia melangkah maju, menatap Ivy dengan sorot penuh benci. “Kau yang menyebabkan kebakaran di laboratorium, kan? Kau juga yang membunuh Jessica… dan berani menggoda Brayen.”
Kata-kata itu membuat Ivy tertegun sejenak, tidak percaya dengan tuduhan yang diucapkan dengan keyakinan mutlak itu. Bagaimana mungkin Sementa begitu yakin? Padahal Ivy sendiri adalah korban dari peristiwa kebakaran itu. Rasa marah membuncah, mendidih di dalam dirinya.
Tanpa ia sadari, hawa dingin merambat di udara. Asap hitam pekat merayap keluar dari tubuhnya, mengepul seperti kabut malam. Warna matanya berubah—gelap pekat seperti langit Manchester saat hujan badai. Angin bertiup kencang dari arah jendela yang tak tertutup rapat, membuat rambut Ivy terangkat, berayun liar di udara.
Sementa yang melihat perubahan itu langsung pucat pasi. Napasnya tersengal, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan gerakan kaku. Namun baru saja ia akan berbalik, sesuatu menghentakkan tubuhnya ke belakang. Ia jatuh terhempas ke lantai, benturan itu mengeluarkan bunyi nyaring yang memantul di seluruh ruangan.
“AAAH!” jeritnya histeris.
"Sudah kukatakan… BUKAN AKU!" teriak Ivy, suaranya menggema berat, penuh amarah yang memuncak.
Bersambung !
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
