BAB 64
Beberapa jam kemudian, di rumah megah bertingkat sepuluh milik keluarga Ulusoy. Cahaya lampu kristal berkilauan indah, namun suasana di ruang utama justru mencekam. Hening yang menusuk pecah ketika Alan Ulusoy, dengan wajah merah padam oleh amarah, melempar sebuah guci keramik besar ke lantai. Suara pecahan menggelegar, bergema hingga ke sudut-sudut ruangan, serpihannya berhamburan, seakan menjadi saksi bisu ledakan emosinya.
Di hadapannya, Velvet—wanita berparas cantik yang selama ini ia anggap menantunya—meringkuk ketakutan di lantai marmer yang dingin. Rambut panjangnya berantakan, wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat. Air matanya jatuh tanpa henti, membasahi pipinya yang kini basah oleh tangis. Sesekali, bahunya terguncang oleh isakan lirih, seakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap.
Alan menatapnya tajam, tatapan yang tidak lagi menyimpan kasih sayang seorang ayah mertua. Yang terpancar hanyalah kecurigaan, kebencian, dan amarah yang membara. Aura pria tua itu begitu menekan hingga para pelayan yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka ingin menolong Velvet, tapi rasa takut menahan langkah mereka. Semua orang tahu, Alan Ulusoy bisa menjadi pria paling kejam ketika marah.
"Wanita sampah! Jika terbukti kau membohongiku selama ini, aku tidak segan-segan membunuhmu!" suaranya meledak, berat dan penuh ancaman. Kata-kata itu menghantam Velvet bagaikan cambuk, membuat tangisnya semakin pecah.
Setelah mengucapkannya, Alan berbalik dengan cepat. Langkahnya berat, menghentak lantai marmer, meninggalkan Velvet yang masih terisak di lantai. Tak ada secuil pun rasa bersalah di wajahnya. Yang ada hanya kebencian dan kegelisahan yang semakin membara.
Bukan soal ruangan rahasia yang membuat Alan marah besar, melainkan keraguan yang kini menggerogoti keyakinannya. Fakta bahwa Elsie Cotton—cucu yang ia rawat dengan sepenuh hati—tidak bisa membuka ruangan terlarang itu, membuat semua orang mulai meragukan garis keturunannya. Jika benar Elsie bukan darah daging Cagatay Cotton Ulusoy, maka semua pengorbanan Alan selama ini adalah sia-sia.
Pikiran itu membuat dadanya kembali sesak. Hatinya yang tua bergejolak antara amarah, penyesalan, dan ketakutan akan kebenaran.
Di tempat lain, Ivy berdiri di balik jendela besar ruang kelas, memandang jauh ke arah panorama kota Semidio yang terhampar. Dari balik kaca bening itu, ia bisa melihat gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, seakan hendak menembus langit goa raksasa yang menaungi kota. Lima bangunan megah yang berdiri gagah, menempel kokoh pada atap goa, bagaikan pilar raksasa yang menyangga dunia.
Lima gedung itu bukan sekadar bangunan, melainkan lambang kekuatan lima bangsa terbesar di Semidio. Bangsa penyihir yang jumlahnya paling banyak, manusia serigala dengan kekuatan buas mereka, bangsa Siren yang misterius, dan vampir—yang meski jumlahnya hanya lima ribu jiwa, namun dihormati karena keabadian dan kekuatan luar biasa.
Mata Ivy berkilat takjub, sekaligus diliputi rasa penasaran. Ada kekaguman dalam tatapannya, namun juga secuil kecemasan yang sulit ia pahami. Bangsa vampir, dengan keistimewaan mereka, bahkan memiliki wilayah khusus yang tidak boleh dimasuki bangsa lain. Bukankah itu luar biasa, atau justru menakutkan?
"Nona Ulusoy!"
Suara tegas memanggilnya, memecah lamunannya. Ivy tersentak, buru-buru merapikan duduknya di kursi kayu panjang. Tangannya meremas ujung rok seragamnya, mencoba menenangkan diri. Ia menoleh ke arah guru yang berdiri di depan kelas, sosok berwibawa dengan tatapan tajam yang membuatnya merasa diperhatikan.
All Dominik—pria paruh baya dengan wajah keras, dahi berkerut dalam, dan sorot mata tajam bagai belati—berdiri di depan kelas. Suaranya yang berat menggema di antara dinding batu ruang belajar, menambah kesan mengintimidasi. Dialah guru mantra sihir, sosok yang terkenal galak dan tegas.
“A… iya, Tuan,” jawab Ivy dengan nada gugup. Suaranya bergetar samar, jemarinya saling menggenggam erat di atas meja. Sosok All Dominik membuatnya teringat pada Tuan Imron, guru lamanya di sekolah terdahulu, yang selalu membuat suasana belajar menjadi menakutkan.
“Bisakah kau mempraktikkan mantra yang baru saja aku ajarkan?” perintah Dominik, suaranya tak memberi ruang untuk menolak.
“Baik, Tuan,” jawab Ivy dengan cepat. Ia menarik napas panjang, berusaha berkonsentrasi. Kata-kata mantra yang baru saja dia dengar terus ia ulang dalam benaknya, seolah takut melupakannya.
Namun sebelum ia sempat mengucapkan apapun, Dominik mengerutkan kening lalu menghentikan Ivy.
“Diam dulu! Kau… di mana tongkat sihirmu?” Suaranya meninggi, membuat seluruh siswa di kelas spontan menoleh ke arah Ivy.
Bisikan-bisikan kecil segera merebak. Sejumlah murid menutup mulut dengan tangan sambil menahan tawa, sebagian lain saling berbisik dengan tatapan meremehkan.
Ivy menggertakkan gigi, mencoba menahan sakit hati yang perlahan menggerogotinya. Tatapan dinginnya mel sweeping ke arah mereka semua, namun di dalam hati ia berucap, “Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini… tapi tetap saja, mengapa rasa ini begitu menyakitkan?”
Lalu pandangannya terhenti pada seorang remaja laki-laki yang tidak ikut tertawa. Hugo Murray McKellen. Ia hanya duduk tenang di bangkunya, mata abu-abu kebiruan yang indah itu menatap Ivy lurus, tanpa ekspresi jelas. Tatapan itu dalam, penuh misteri, membuat Ivy sulit menebak isi pikirannya.
“Saya lupa membawanya, Tuan,” ucap Ivy akhirnya dengan jujur. “Dan… tidak ada yang memberi tahu saya bahwa pelajaran hari ini harus membawa tongkat sihir.”
Jawaban polos itu justru memancing tawa meledak dari seluruh kelas. Bahkan All Dominik sendiri ikut terbahak, suaranya terdengar kasar dan menyakitkan telinga. Satu-satunya yang tidak ikut tertawa hanyalah Hugo Murray McKellen, masih dengan tatapan yang tak berubah.
“Hahaha… bagaimana bisa kau masuk sekolah ini? Apa kau masuk dengan menyogok?” sindir Dominik, nadanya terdengar lebih sebagai tuduhan.
Ivy terdiam. Dadanya terasa sesak, matanya perlahan memanas. Dalam hatinya ia menggerutu, “Aku bahkan tidak ingin ada di sini. Aku hanya ingin berada di samping Brayen…” Kenangan tentang sosok lelaki itu membuatnya semakin merindu. Sudah beberapa hari mereka terpisah, dipisahkan oleh jarak, benua, bahkan dunia yang berbeda.
Dominik melanjutkan, sinis, “Hal dasar untuk menjadi penyihir adalah selalu membawa tongkat sihir. Kau pikir, penyihir bisa menggunakan sihir tanpa tongkat?”
“Tidak bisa!” tegasnya, dengan nada penuh keyakinan.
“Ya, bisa.” Suara Ivy terdengar lantang, menusuk keheningan sesaat di ruang itu.
Dominik menyipitkan mata. “Jangan omong kosong, nona. Apa kau ingin mempermalukan dirimu lebih jauh lagi?” ejeknya, diiringi tawa meremehkan para siswa.
Namun Ivy tak bergeming. Ia mengangkat tangannya, menatap lurus ke depan, lalu dengan suara tegas melafalkan mantra dalam bahasa kuno:
“χρυσό πουλί, βοήθησέ με.”
Seketika ruangan bergemuruh. Cahaya emas menyala dari lantai, menyebar seperti gelombang air, memantulkan sinar di wajah setiap siswa. Rak-rak kayu bergetar, dan perlahan, semua buku di ruangan itu terangkat ke udara. Mereka berputar-putar, seolah menari mengikuti alunan mantra Ivy.
Suasana berubah hening. Cahaya itu perlahan meredup, dan buku-buku kembali turun, mendarat rapi ke tempat semula seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Mata setiap orang membelalak. Rahang-rahang terkatup tanpa kata. Ruang kelas yang tadi riuh penuh tawa kini tenggelam dalam keterkejutan mendalam.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
