BAB 102
Setelah urusan mereka selesai, Ivy, Murray, dan Cagatay pun pulang. Rumah mereka kini terasa lebih hangat setelah perjalanan panjang itu, dan senyum kepuasan terpancar di wajah masing-masing. Tentu saja, mereka menerima imbalan yang cukup besar atas pekerjaan mereka—uang itu akan sangat membantu kehidupan sehari-hari mereka di masa depan.
Beberapa bulan kemudian, Cagatay akhirnya memutuskan untuk kembali ke masa depan. Ia sempat mengajak Ivy dan Murray untuk ikut bersamanya, namun keduanya menolak dengan halus. Mereka tahu perjalanan itu akan menguras habis tenaga Cagatay, dan mereka tidak ingin membebani ayah Ivy lebih jauh. Maka, Cagatay pun menjelajahi waktu sendirian, meninggalkan Ivy dan Murray dengan doa dan harapan agar mereka tetap aman.
Setahun kemudian, Ivy dan Murray memutuskan untuk memulai perjalanan waktu mereka sendiri. Setelah melakukan persiapan panjang, mulai dari mental, fisik, hingga mantra sihir penjelajah waktu, mereka siap menghadapi tantangan. Sinar mantra yang memancar dari tangan mereka menyelimuti tubuh mereka, dan dengan satu hentakan energi, keduanya tersedot ke tahun 1409.
Di sana, negeri Semidio telah tumbuh menjadi kota yang ramai dan padat, meski tidak sebesar Semidio di abad ke-23. Jalan-jalan sempit dipenuhi rumah-rumah berjajar rapat, orang-orang berlarian membawa barang dagangan, dan suara riuh pasar memenuhi udara. Negeri itu mungkin ditempati ribuan orang, namun ruangnya sempit—tidak ada yang tahu bahwa goa Semidio bisa diperluas atau diperkecil hanya oleh Ivy, Murray, dan Cagatay. Kekuatan manusia biasa takkan mampu melakukannya.
Ivy dan Murray menetap beberapa bulan di sana, menggunakan waktu untuk mengumpulkan energi mereka sekaligus menikmati suasana baru. Hutan hijau yang mengelilingi Semidio, sungai yang berkelok, dan udara segar memberikan sensasi liburan yang tenang bagi keduanya.
Di masa itu, mereka bertemu dengan penyihir dari bangsa Siren. Sosoknya berbeda dari manusia biasa, dengan rambut berkilau dan mata yang memancarkan cahaya lembut. Banyak penduduk menghindarinya karena takut akan perbedaan, namun Ivy dan Murray tidak peduli—bagi mereka, semua manusia sama, yang membedakan hanyalah amal dan niat baik.
Keajaiban terjadi ketika penyihir Siren itu mengobati Ivy. Ivy awalnya ragu, tapi dia membiarkan ritual itu dilakukan. Penyihir itu hanya membaca beberapa mantra, dan semuanya selesai dalam lima belas menit. Ivy dan Murray mengamati setiap gerakannya dengan seksama, sempat meragukan hasilnya, namun empat minggu kemudian, Ivy benar-benar hamil. Kegembiraan dan haru meluap dari keduanya.
Karena hal itu, mereka memutuskan tinggal lebih lama di Semidio agar bayi mereka tetap aman. Ivy dan Murray tidak melupakan jasa penyihir Siren itu; untuk menghargai bantuannya, mereka memberinya kekayaan dan nama baik. Murray bahkan membantu Siren itu memperluas negeri Semidio, dan ia memastikan semua orang tahu jasa penyihir itu. Tindakan itu membuat Siren tersebut tercatat dalam sejarah sebagai awal kebangkitan bangsa Siren.
Beberapa bulan kemudian, Ivy melahirkan anak pertama mereka, seorang bayi laki-laki yang sehat dan kuat. Suasana rumah dipenuhi tawa, tangisan bahagia, dan rasa syukur. Hanya seminggu setelah kelahiran sang anak, Ivy dan Murray kembali melakukan perjalanan waktu. Kali ini mereka melompat sepuluh tahun ke masa lalu, ke saat Ivy baru berusia tujuh tahun.
Mereka memutuskan tinggal beberapa hari di masa itu. Energi sihir mereka masih aman, dan mereka tumbuh semakin kuat seiring waktu. Ivy memiliki tujuan khusus: menemui ayahnya, Cagatay, di Landen, karena ia tahu kesempatan itu mungkin satu-satunya untuk bertemu dan memperbaiki hubungan mereka.
***
"Apa kau yakin ingin menemuinya sendiri?" Tanya Murray, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.
Ivy menoleh, menatap mata suaminya yang saat ini tengah menggendong Aiden, bayi mereka yang baru berusia beberapa minggu. Kulitnya masih kemerahan, tubuhnya mungil dan rapuh, dan Murray menjaga setiap gerakan anak mereka dengan hati-hati.
"Iya. Aku harus melakukannya sendiri," ucap Ivy, senyum lembutnya mencoba menenangkan hati Murray. "Percayalah, aku baik-baik saja."
Murray mengangguk pelan, memperbaiki posisi Aiden di gendongannya agar lebih nyaman. "Baiklah, aku akan berjalan-jalan bersama Aiden," katanya, wajahnya mengekspresikan campuran lega dan khawatir.
Ivy menghela napas, lalu melangkah maju menuju rumah sederhana yang telah menjadi tempat tinggalnya selama lebih dari tujuh belas tahun. Pohon-pohon kecil di halaman rumah berayun lembut diterpa angin, sementara sinar matahari sore menembus celah daun, menciptakan bayangan yang menenangkan.
Saat Ivy sampai di depan pintu, ia mengetuknya perlahan. Tidak lama kemudian, pintu terbuka, menyingkap sosok yang wajahnya tak asing lagi bagi Ivy—Cagatay. Wajahnya kini lebih tua, lebih berpengalaman, namun tetap menimbulkan rasa hangat di hati Ivy.
"I… I… Ivy?!" ucap Cagatay, terkejut, matanya melebar.
"Apa kabar, ayah?" jawab Ivy, suaranya lembut, namun penuh rasa rindu.
Cagatay terdiam sejenak, seakan mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini nyata. Kemudian, tanpa ragu, ia meraih Ivy dan memeluknya erat. Ivy membalas dengan pelukan hangat, hatinya meluap-luap oleh perasaan yang sudah lama ia pendam.
Setelah puas berpelukan, Cagatay tersenyum dan mempersilakan Ivy masuk. Rumah itu terasa sama seperti dulu—hangat, rapi, dan sederhana—memberi Ivy rasa nyaman yang berbeda dari masa kecilnya ketika ibunya telah menikah dengan pria lain yang ia benci.
Langkah Ivy terhenti ketika matanya menangkap foto keluarga di dinding. Ia menatap ibunya dalam foto itu—wanita cantik yang senyumannya selalu diingat Ivy. Kerinduan yang lama tertahan pun muncul kembali.
"Dimana ibu?" tanya Ivy, suaranya pelan, nyaris bergetar.
"Dia sedang bekerja," jawab Cagatay, menatap Ivy dengan lembut, lalu menambahkan, "Dan dirimu di tahun ini sedang tidur. Apa kau ingin melihatnya?"
Cagatay tersenyum harap, matanya penuh keinginan agar Ivy menemui ibunya di masa lalu. Namun Ivy menunduk, sedikit ragu. "Tidak. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan ayah," ucapnya, menambahkan senyum tipis untuk meyakinkan Cagatay.
Cagatay menahan sedikit sedih di matanya, namun ia menghargai keputusan Ivy. "Baiklah, maka kita bicara," ucapnya lembut.
Percakapan mereka pun dimulai. Ivy mulai membicarakan tentang kehidupan kesehariannya, dia juga bertanya apa yang ayahnya lakukan belakangan ini. Hingga akhirnya Ivy bertanya “Ayah…” suara Ivy terdengar ragu-ragu. “Kalau kita… kembali ke masa lalu dan mencoba mengubah sesuatu… misalnya menyelamatkan seseorang yang seharusnya meninggal, apa yang akan terjadi?”
Cagatay menoleh, menatap putrinya dengan mata penuh perhatian. Ia menghela napas panjang, sebelum akhirnya mulai menjelaskan dengan nada yang tenang, namun bercampur ketegasan ilmiah.
“Ruang dan waktu bukanlah garis lurus yang sederhana, Ivy,” ucapnya. “Mereka lebih seperti jaringan multidimensi yang saling bertautan. Setiap peristiwa yang terjadi meninggalkan jejak di seluruh jaringan itu. Apa yang kita sebut sebagai ‘masa depan’ bukan sekadar konsekuensi linear dari masa lalu, melainkan hasil dari rangkaian takdir yang sudah terstruktur, tertulis dalam apa yang bisa kita sebut sebagai ‘matrix kosmik’.”
Ivy menatapnya bingung, mencoba mencerna kata-katanya.
“Kalau kamu mencoba mengubah masa lalu,” lanjut Cagatay, “meski sekadar hal kecil, kamu akan menciptakan percabangan waktu yang tidak seharusnya ada. Percabangan itu akan menimbulkan ketidakseimbangan, paradoks temporal yang dapat menghancurkan aliran sebab-akibat. Misalnya, jika kamu menyelamatkan seseorang yang seharusnya meninggal, efek domino yang dihasilkan bisa menghapus peristiwa-peristiwa penting lainnya—bahkan bisa merenggut nyawa orang lain yang awalnya selamat. Dunia akan mencoba menyeimbangkan kembali, seringkali dengan cara yang jauh lebih brutal dan tidak terduga.”
Ivy menelan ludah, jantungnya berdegup lebih cepat.
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
