BAB 18
"Entahlah, aku tidak begitu dekat dengannya. Dia juga anak yang nakal… aku agak malas datang ke pemakamannya."
Suara itu terdengar santai, seolah topik yang mereka bahas hanyalah cuaca.
"Hei, jangan bicara begitu," sahut seorang siswa lain dengan nada setengah menegur, meski tanpa benar-benar marah.
Percakapan itu berlanjut. Mereka terus membicarakan Danil—kadang terdengar begitu peduli, namun di sela-sela itu, mereka juga mengungkit aib Danil dan teman-temannya semasa hidup. Kalimat-kalimat itu meluncur tanpa beban, padahal bagi Ivy, semua itu terdengar kejam. Lidah mereka ringan, tapi kata-kata yang keluar terasa seperti serpihan kaca yang menusuk.
Ivy menghela napas pelan. Ia tak ingin telinganya terus disuapi racun semacam itu. Dengan gerakan santai namun penuh maksud, ia berdiri dari kursinya. Kursi itu bergeser sedikit, menimbulkan bunyi gesekan pelan di lantai kayu kelas. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah keluar.
Udara di koridor sekolah terasa lebih dingin dibanding di dalam kelas. Langkah Ivy melambat saat ia menuju ujung lorong, ke arah pintu laboratorium sains. Begitu tiba di depannya, ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada siapa pun. Koridor itu sepi, hanya terdengar suara kipas ventilasi tua yang berderit pelan. Setelah yakin aman, ia membuka pintu dan masuk.
Cahaya lampu putih menyinari ruangan itu dengan dingin. Bau zat kimia tipis bercampur aroma logam memenuhi udara. Ivy menelusuri ruangan dengan tatapan tajam—papan tulis di dinding belakang, meja-meja panjang yang masih menyisakan bekas goresan cutter, serta lemari kaca berisi tabung reaksi, sebagian berdebu.
Dan di sanalah kenangan itu menyeruak. Ruangan ini mengembalikan ingatannya pada malam mengerikan itu—saat ia menemukan Jessica, tubuhnya bersimbah darah, terbaring di lantai bersamaan dengan kobaran api yang melahap bagian belakang ruangan. Suara retakan kaca, panas yang mencekik, dan bau hangus yang menusuk hidung… semua itu kembali membanjiri kepalanya.
Ivy menelan ludah. Napasnya menjadi berat. Ia mengerjap cepat, mencoba mengusir bayangan bagaimana lemari penyimpanan gelas kaca itu pernah menimpanya, membuat tubuhnya terhuyung. Rasa sakitnya masih ia ingat jelas, seolah kejadian itu baru berlangsung kemarin. Hatinya terasa seperti diiris tipis-tipis—perlahan tapi pasti.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Harapannya sederhana: sedikit tenang. Namun, hatinya tetap berdebar tak karuan. Ia menatap sudut-sudut ruangan, matanya mencari sesuatu. CCTV. Ia mencoba mengingat di mana posisi alat itu dulu terpasang.
"Seingatku, dulu pernah ada di sana," gumamnya lirih sambil menatap sudut dekat ventilasi. "Tapi kenapa sekarang tidak ada? Bahkan saat persidangan… itu juga tidak ditemukan."
Pikirannya mulai berputar—terlalu banyak hal yang tidak masuk akal. Tapi fokusnya mendadak buyar ketika ia mendengar suara langkah kaki memasuki laboratorium.
Suara itu ia kenal. Ia bahkan tak perlu menoleh.
Brayen.
Pria itu melangkah masuk, penampilannya seperti biasa mencolok. Rambutnya yang berwarna terang memantulkan cahaya lampu, wajahnya tetap membawa ketampanan yang dulu pernah membuat Ivy jatuh hati.
"Kenapa kau terus menggangguku!" seru Ivy, suaranya terdengar tajam, meski hatinya bergetar.
Dalam hatinya, Ivy sebenarnya merindukan pria itu. Namun, setiap kali melihat Brayen, luka lama kembali menganga. Ia masih mencintainya, meski kebersamaan mereka sudah lama berakhir. Ia ingin membenci Brayen—Tuhan tahu ia sudah mencoba—tapi kebencian itu tak pernah benar-benar tumbuh. Ia tahu, jika ia berada terlalu lama di dekatnya, tembok yang ia bangun akan runtuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
