BAB 36
Satu bulan setelah gadis itu mulai masuk sekolah, dunia di sekelilingnya terasa hampa. Semua yang dulu tersenyum padanya, memujanya, dan menemaninya kini menjauh. Tatapan yang dulu ramah berubah menjadi sinis, penuh hina dan kebencian. Beberapa teman bahkan menudingnya sebagai pembunuh, meskipun pihak kepolisian telah menyatakan bahwa gadis itu tidak bersalah. Kata-kata mereka menggantung di udara, tajam seperti pisau yang menusuk hati, seakan luka lama yang ia sembunyikan kini diolesi garam.
Suasana sekolah yang seharusnya memberinya hiburan malah menambah luka di dalam dadanya. Koridor yang ramai terdengar seperti tawa mengejek, dan sorot mata teman-temannya menusuk lebih dalam daripada kata-kata apa pun. Gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk, masker menutupi wajahnya, namun tak bisa menutupi rasa sakit yang membakar dari dalam.
Saat jam istirahat tiba, semua murid bergegas ke kantin, tertawa, bercanda, dan menikmati cerahnya siang di luar kelas. Gadis itu duduk sendirian di bangku yang sepi, menunduk, dan menyentuh kulit wajahnya yang masih terasa perih di bawah masker. Rasa tidak nyaman itu tetap ada, meski luka fisik sudah kering. Sakit itu terasa abadi, menempel pada setiap tarikan napasnya.
Tangannya menggenggam ujung rok seragamnya, jari-jari terkepal erat, dan air mata mulai menetes. Marah, kesal, benci—semua emosi itu bercampur menjadi satu, membakar hatinya hingga terasa hampa. Ia hanya bisa menangis, merasakan dunia yang menolaknya tanpa ampun.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, gadis itu hanya ingin pergi secepat mungkin, menghilang dari tatapan orang-orang yang penuh kebencian. Namun saat ia melewati gang sempit di antara gedung tua sekolah dan toko-toko kosong, langkahnya terhenti. Tiba-tiba, sesuatu yang dingin dan kuat menutup mulutnya. Tangannya ditahan, tubuhnya diseret, dan dalam sekejap ia terperangkap di dalam mobil gelap yang tidak ia kenal.
Jantungnya berdegup kencang, matanya segera ditutup sehingga dia tidak bisa melihat dan tangannya di ikat. Mesin mobil menyala, dan mobil itu melaju meninggalkan gang yang sepi. Gadis itu hanya bisa menatap kosong, perasaan takut dan penasaran bercampur menjadi satu. Siapa yang membawanya? Apa tujuan mereka? Dan mengapa ia, gadis yang hanya ingin dilupakan dunia ini, menjadi sasaran?
Di luar, langit mulai memerah oleh senja, tapi di dalam mobil, suasana begitu gelap dan menyesakkan. Gadis itu menunduk, menggenggam masker di wajahnya, dan bersiap menghadapi sesuatu yang belum pernah ia bayangkan.
Gadis itu berusaha sekuat tenaga melepaskan diri, suaranya pecah saat berteriak. "Tolong! Lepaskan aku!" Namun yang terdengar hanya tawa—suara kasar dan dingin, bergema di dalam mobil sempit yang gelap. Tawa itu membuat jantungnya berdegup kencang, rasa takut dan panik merayap ke setiap ujung tubuhnya.
Dari tawa mereka, gadis itu menyadari sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang: mereka semua adalah laki-laki muda. Suara-suara itu terdengar riang, bahkan seperti bercampur dengan kegembiraan jahat, bukan kepedulian. Gadis itu mencoba menatap ke sekeliling, tapi matanya ditutupi dan tangannya di ikat, yang ada hanya kegelapan di dalam mobil membuatnya sulit mengenali berapa banyak orang yang ada. Yang pasti, lebih dari dua.
Tangan-tangan kasar menahan tubuhnya, menarik dan mendorongnya tanpa belas kasihan. Satu di antara pria itu menempel terlalu dekat di sisinya, membuat gadis itu merasa tersudut. Mereka tidak peduli pada teriakan dan permohonan gadis itu, tidak terganggu sama sekali oleh rasa takutnya. Malah sebaliknya, matanya menyala jahat, menatap tubuh gadis itu dengan maksud yang membuat perutnya mual.
Gadis itu semakin lemah, suara teriakannya mulai serak. Air matanya yang berceceran kini hampir kering, dan kepanikan yang menyelimuti tubuhnya perlahan berubah menjadi keputusasaan yang menusuk dada. Setiap kali ia mencoba melawan, tangan-tangan kasar kembali menahannya, membuat tubuhnya gemetar. Detik-detik terasa panjang, dan dunia di sekelilingnya seperti menyempit, hanya ada tawa para pria muda itu dan rasa takut yang menjeratnya.
Tiba-tiba, mobil berhenti dengan hentakan keras. Gadis itu terpental sedikit ke depan, napasnya tercekat. Pintu mobil dibuka dengan kasar, cahaya luar menyilaukan matanya. Tangannya masih dipegang erat, namun ada jeda sejenak dari pria-pria yang menyekapnya. Satu kain yang menutupi wajahnya ditarik perlahan, membuatnya menahan napas.
Matanya membelalak saat melihat sosok-sosok di hadapannya. Wajah-wajah itu begitu familiar—siswa yang sama dengannya di sekolah. Ketakutan, panik, dan syok menyebar bersamaan, membuat jantungnya seolah berhenti sejenak. Ia ingin berteriak, namun suaranya tersedak oleh campuran rasa takut dan tidak percaya. Para siswa itu menatapnya dengan mata yang sulit dibaca, ada campuran antara lelucon, kesal, dan bahkan sedikit rasa bersalah.
"Turun!" teriak seorang remaja laki-laki berusia sekitar 17 tahun, menarik rambut gadis itu lagi.
"Tidak, Je! Aku mohon, lepaskan aku!" gadis itu berteriak, suaranya pecah dan penuh ketakutan. Namun Je hanya tertawa sinis, menariknya lebih kasar ke arah jalan gelap di luar mobil. Suasana malam di sekitar terasa mencekam, bayangan pepohonan bergerak di bawah cahaya lampu mobil, menambah rasa terjebak yang semakin menyesakkan dada gadis itu.
"Diam, Ivy! Kami cuma diminta Natali untuk ‘mengajarimu’ sedikit. Kalau mau marah, marahlah padanya… itu pun kalau kau berani!" suara tawa Je bergema di antara pepohonan, menimbulkan rasa takut yang mencekam di dada Ivy.
Ivy merasa marah, tapi tubuhnya terasa lumpuh. Dia hanya bisa meringis kesakitan, menahan jeritan, dan terus memohon agar Je melepaskannya.
Tiga pemuda lain berjalan tepat di belakang Je dan Ivy—Danil, Hugo, dan Mak. Hugo dan Mak tampak bersenang-senang, senyum lebar tak lepas dari wajah mereka. Sementara Danil terlihat gelisah dan tidak nyaman dengan kejadian itu.
"Tolong… a… ampuni aku…" Ivy memohon lagi, suaranya nyaris pecah. Dia berteriak sekuat tenaga, berharap ada yang mendengar, tapi hutan yang sunyi hanya menelan jeritannya.
Danil menatap rekan-rekannya dengan cemas, jelas tidak setuju dengan cara mereka, namun dia tetap diam, tak berani menghentikan mereka.
"Teriak saja sekeras yang kau mau, di sini takkan ada yang mendengar!" Je tertawa lagi, suaranya menyayat hening hutan sambil terus menyeret Ivy lebih dalam ke dalam bayangan pepohonan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
