22.

93 4 0
                                        

BAB 22





Ivy menatap ke luar jendela mobil, melihat deretan toko dan pejalan kaki yang bergerak di bawah langit Manchester yang mendung. Mobil yang ia tumpangi perlahan mendekati halte bus di tepi jalan, lampu-lampu kota memantul di genangan air sisa hujan. Ia meraih tasnya, bersiap untuk turun.

Namun, saat mobil berhenti, tangan Leo tiba-tiba terulur dan menahan pergelangan tangannya. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya, nada suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.

Wajah Leo saat itu benar-benar terlihat serius, membuat Ivy sedikit kaget sekaligus merasa risih. Tapi di sisi lain, ada rasa hangat yang menyusup di hatinya — pria itu peduli padanya. Ivy perlahan melepaskan genggaman Leo dengan gerakan halus, lalu menjawab santai, “Aku baik, kenapa?”

“Tapi, wajahmu sangat pucat,” kata Leo lagi, matanya menatap Ivy seolah mencari tanda-tanda kalau ia sedang sakit.

“Mungkin karena aku tidak dandan tadi,” jawab Ivy sambil tersenyum tipis, mencoba meredakan kecemasannya.

Leo mengangkat alis. “Oh, begitu. Tapi… kenapa kau minta diturunkan di halte bus? Aku bisa mengantarmu sampai rumah.”

“Tidak perlu. Aku harus pergi ke suatu tempat,” jawab Ivy singkat.

“Apa itu jauh?” tanya Leo lagi.

“Iya,” jawab Ivy, kali ini lebih pendek, lalu dalam hati ia bergumam, Berhentilah bicara dan pergilah… Nada pikirannya bercampur antara lelah dan bercanda.

“Baiklah, sampai jumpa besok di sekolah,” ujar Leo, senyumnya kali ini hangat dan tulus.

Senyum itu membuat Ivy sempat terdiam. Sungguh, pria ini tampan, baik hati, kaya, dan cerdas. Dengan segala kelebihannya, Ivy merasa mustahil Jessica akan mengkhianatinya.

“Terima kasih atas tumpangannya,” ucap Ivy sopan.

“Ya, sama-sama,” balas Leo ramah.

Ivy segera turun dari mobil, lalu berdiri sebentar di trotoar sambil melihat limosin itu perlahan menjauh dan menghilang di tikungan. Ia menghela napas, lalu duduk di kursi halte yang basah di beberapa bagian, sisa hujan sore tadi. Udara malam menusuk, namun untungnya bus yang ia tunggu tiba hanya beberapa menit kemudian. Ia naik, duduk di dekat jendela, dan membiarkan pandangannya melayang mengikuti pemandangan jalan yang berlalu.

Tiga puluh menit kemudian, bus berhenti di halte lain, kali ini di kawasan yang berbeda. Ivy turun dan berjalan sekitar lima menit menyusuri trotoar sempit yang diterangi lampu jalan kekuningan. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sebuah toko kue khas Turki di seberang jalan — toko itu tampak baru dibuka, papan namanya masih berkilau.

Lewat kaca besar yang transparan, Ivy melihat seseorang yang langsung memicu ingatannya — Zafar. Wajah itu jelas ia kenali. Zafar sedang berdiri di balik meja kasir, ditemani dua orang karyawan yang sibuk melayani pembeli.

Menunggu momen yang tepat, Ivy baru menyeberang saat lalu lintas sepi. Begitu masuk, aroma manis madu dan kayu manis menyergap hidungnya. Suasana di dalam toko ternyata jauh lebih ramai dari yang ia kira. Orang-orang memenuhi ruang sempit itu — sebagian mengantre memilih kue di etalase kaca, sebagian lagi duduk di kursi-kursi kayu menikmati pesanan mereka.

Keramaian itu membuat Ivy kesulitan mendekati Zafar. Aku harus punya jarak yang cukup dekat dengannya… pikirnya sambil mengamati gerakannya.

Ia mulai bergerak perlahan, berpura-pura melihat-lihat kue sambil mengamati celah untuk mendekat. Kesempatan itu datang ketika Zafar membantu salah satu karyawan membungkus pesanan pelanggan. Ivy berdiri tepat di hadapannya, jaraknya kini hanya sejengkal. Tatapannya menajam, bibirnya bergerak pelan.

“χρυσό πουλί, είσαι υπό την επιρροή μου.” Ivy mengucapkannya nyaris seperti bisikan — halus, nyaris tenggelam oleh riuh rendah percakapan para pelanggan. Hanya orang yang berdiri sangat dekat dengannya yang bisa mendengar kata-kata itu.

Sekejap kemudian, sorot mata Zafar berubah. Kilatan kesadaran di matanya memudar, berganti tatapan kosong yang tak fokus. Gerakannya yang semula cekatan tiba-tiba terhenti. Beberapa pelanggan yang sedang mengantre menoleh ke arahnya, bertukar pandang heran, sementara karyawan lain melirik, seolah bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

Ivy tak membuang waktu. Dengan nada tenang namun tegas, ia memberi perintah, “Ikuti aku.”

Tanpa membantah, Zafar menuruti langkah Ivy keluar dari toko. Pintu kaca berderit saat mereka melangkah ke trotoar yang basah, udara Manchester yang dingin langsung menyambut. Dari dalam toko, seorang wanita berambut merah keluar sambil menggendong bayi. Matanya berkilat tajam, berputar cepat ke segala arah, seolah mencari seseorang. Namun, Ivy dan Zafar sudah berbaur dengan keramaian pejalan kaki.

Mereka berjalan hingga menemukan sebuah sudut jalan yang relatif sepi — hanya ada dinding bata merah yang lembap dan suara samar kendaraan dari kejauhan. Ivy memegang pergelangan tangan Zafar, lalu mengucapkan mantra lain dengan nada rendah namun mantap,
“χρυσό πουλί, δείξε μου τη μνήμη.”

Mantra itu memicu aliran energi halus di antara mereka. Seperti menarik tirai tak kasatmata, pandangan Ivy tiba-tiba dipenuhi gambaran-gambaran yang bukan miliknya.

Kilasan pertama memperlihatkan seorang bayi — Zafar, di sebuah rumah sederhana di kota kecil di Turki. Wajahnya polos, kehidupan di sekelilingnya terlihat damai meski serba sederhana. Namun, suasana itu berubah kelam ketika ayahnya meninggalkan rumah demi menikahi wanita lain. Ibu Zafar yang masih muda harus merawat beberapa anak kecil sendirian.

Gambaran berikutnya menunjukkan Zafar remaja, tubuhnya kurus namun matanya keras. Ia memutuskan berhenti sekolah demi bekerja, menjadi tulang punggung keluarga. Waktu berganti cepat — Zafar kini dewasa, menaiki bus malam menuju bandara, meninggalkan Turki untuk mengadu nasib di Inggris setelah mendengar kabar bahwa gaji pelayan di sana cukup tinggi.

Inggris memberinya kesempatan. Ia diterima sebagai petugas keamanan di sebuah sekolah elit di Manchester, tempat anak-anak kaya dan cerdas bersekolah. Pekerjaan itu memberinya kestabilan, gaji yang cukup besar untuk mengirim uang ke keluarganya di Turki. Lima tahun berlalu tanpa masalah. Ia menikah, memiliki keluarga, dan kehidupannya berjalan mulus.

Sampai suatu hari… segalanya berubah. Gambaran berikutnya memperlihatkan ruang monitor CCTV sekolah. Ada laporan bahwa beberapa kamera di laboratorium tidak berfungsi. Karena Zafar bertanggung jawab atas pengawasan CCTV, ia mengajukan izin pada kepala sekolah untuk memperbaikinya — dan izin itu diberikan langsung oleh istri kepala sekolah.

Beberapa hari kemudian, enam bulan setelah tahun ajaran baru dimulai, ia menjalankan tugas itu. Saat jam pelajaran tengah berlangsung, ia memasuki laboratorium yang sepi, cahaya lampu putih memantul di permukaan meja-meja kerja. Tiga kamera CCTV terpasang di sudut ruangan. Ia melepaskan semuanya satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam kotak peralatan.

Ketika ia melangkah keluar, bel istirahat berbunyi nyaring, memecah keheningan. Di lorong, ia melihat sepasang remaja berdiri berhadapan — Jessica dan Leo. Cara mereka saling memandang dan tersenyum membuat Zafar langsung mengerti: mereka pasangan kekasih. Ia tidak menaruh curiga, hanya menatap sekilas sebelum melangkah pergi untuk melanjutkan tugas lainnya.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang