BAB 23
Saat Zafar keluar dari ruangan laboratorium, udara sore di halaman sekolah terasa sedikit menusuk, bercampur aroma logam dan debu yang terbawa angin. Pandangannya menangkap sepasang remaja—Jessica dan Leo—berdiri agak jauh di tepi koridor yang mengarah ke taman sekolah. Mereka berbicara dengan jarak yang begitu dekat, dan bahasa tubuh keduanya terlihat hangat, membuat Zafar secara spontan mengira mereka sepasang kekasih. Bibirnya sedikit terangkat dalam senyum tipis, tapi hanya sekilas. Ia segera mengalihkan pandangan, merasa itu bukan urusannya. Ada tugas lain yang jauh lebih penting menunggunya.
Sambil menggendong beberapa unit kamera pengawas yang sudah dilepas dari dudukannya, Zafar melangkah mantap menuju gerbang keluar. Rencananya, ia akan mengantarkan CCTV itu ke bengkel reparasi milik sahabat lamanya di pusat kota Manchester. Jalan setapak yang ia lalui sepi, hingga tanpa sengaja ia berpapasan dengan empat perempuan yang sedang berjalan beriringan. Tatapan Zafar hanya tertuju pada satu di antara mereka—seorang gadis berambut merah menyala yang begitu kontras dengan langit kelabu sore itu. Gadis itu adalah Elena. Sekilas, warna rambutnya membangkitkan kenangan tentang istrinya yang juga memiliki rambut merah serupa. Ivy, yang sedang menyaksikan potongan ingatan Zafar ini, dapat melihat Elena dengan jelas, namun wajah tiga gadis lainnya hanya tampak kabur—sangat kabur, seolah diliputi kabut tebal.
Zafar tersenyum kecil, menahan rasa getir yang tiba-tiba muncul di dada, lalu kembali berjalan melewati mereka tanpa berkata apa-apa. Perjalanan ke bengkel reparasi terasa biasa saja. Namun, ketika ia kembali ke sekolah tak lama kemudian, dunia seakan berbalik arah.
Pintu gerbang dipenuhi kerumunan siswa yang berdesakan, suara teriakan bercampur tangis memenuhi udara. Asap hitam pekat membubung dari arah bangunan laboratorium, menyebar di langit Manchester yang suram. Aroma tajam terbakar menusuk hidung, membuat Zafar mempercepat langkahnya. Ambulans berbaris di sisi halaman, lampu rotatornya berputar cepat, sementara mobil pemadam kebakaran menembakkan semburan air ke arah sumber api. Jantung Zafar berdegup semakin kencang ketika seorang siswa memberitahu bahwa laboratorium telah terbakar.
Tanpa pikir panjang, ia menerobos kerumunan menuju area itu. Saat api mulai mereda, sekelompok petugas pemadam keluar dari pintu laboratorium, membawa dua gadis dalam keadaan mengenaskan. Salah satunya mengalami luka parah di bagian perut, darah merembes membasahi seragamnya. Yang lain, wajahnya rusak oleh luka bakar, kulit di beberapa bagian tubuhnya mengelupas memerah. Pemandangan itu membuat tubuh Zafar menegang, seolah kaki dan tangannya membeku di tempat.
Dengan tangan gemetar, ia segera menuju ruang kontrol CCTV untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena kamera di laboratorium telah dilepas sebelumnya, ia memeriksa rekaman dari kamera yang terpasang di gedung sebelah. Gambarnya memang tak sepenuhnya jelas—jarak dan posisi dinding membuat sudut pandang terhalang—tetapi Zafar tak menyerah. Ia memutar kembali rekaman hingga ke menit-menit sebelum ia meninggalkan sekolah.
Di layar, Jessica dan Leo masih terlihat berbicara. Tak lama kemudian, Leo pergi. Saat Jessica hendak melangkah meninggalkan area itu, dua gadis muncul menghadangnya—satu berambut merah, yang lain berambut hitam. Mereka terlihat berbicara singkat, lalu membawa Jessica masuk ke laboratorium. Dua puluh menit berlalu. Pintu terbuka lagi, tapi hanya dua gadis itu yang keluar. Gerak mereka tergesa, dan salah satunya—Elena—telah berlumuran darah di bagian lengannya. Beberapa menit kemudian, api mulai berkobar hebat.
Sejak malam itu, rasa takut seperti menempel di tubuh Zafar. Ia tahu kewajibannya adalah mengatakan yang sebenarnya, namun keberanian itu seolah lenyap, terkubur oleh kecemasan akan apa yang mungkin terjadi padanya. Ia sempat berkonsultasi dengan kepala sekolah, berharap mendapatkan arahan. Namun, jawaban yang ia terima membuat darahnya berdesir. Kepala sekolah meminta rekaman itu diserahkan, lalu memintanya untuk tutup mulut—dengan imbalan sejumlah uang.
Zafar menolak, tapi penolakan itu berujung ancaman. Akhirnya, ia terpaksa menyetujui permintaan tersebut.
Demi menutupi semua kebenaran itu, seseorang merusak CCTV yang terpasang di sisi gedung laboratorium, lalu memusnahkan beberapa rekaman yang merekam keberadaan gadis berambut merah pada hari kejadian. Saat itu, Zafar sudah yakin bahwa mereka bukanlah orang biasa. Ia pun meminta perlindungan, agar tidak terseret ke ranah hukum, sekaligus menuntut imbalan besar. Permintaan itu bukan tanpa alasan—keluarganya bergantung padanya, dan ia sudah tidak ingin lagi bekerja di sekolah tersebut. Sejak kejadian itu, Zafar kerap dibayang-bayangi mimpi buruk. Ia tak tahu apakah rasa takutnya muncul karena melihat mayat korban, atau karena terjebak dalam konspirasi yang dirancang kepala sekolah. Mungkin juga, rasa bersalah itu yang benar-benar menghantuinya.
Pihak kepala sekolah setuju memenuhi tuntutan Zafar. Saat persidangan, ia hanya menuruti arahan kepala sekolah dan pengacara yang sudah disiapkan. Semua berjalan mulus hingga persidangan berakhir. Beberapa bulan kemudian, dengan uang hasil tekanannya terhadap kepala sekolah, Zafar membuka sebuah toko kue di salah satu sudut jalan pusat kota Manchester.
“Aaah…” Ivy mengembuskan napas kasar, matanya terpejam rapat usai membaca seluruh ingatan Zafar. Beberapa detik kemudian, tubuhnya limbung dan jatuh pingsan.
Gerakan itu membuat Zafar tersentak. Ia tersadar dari hipnosis Ivy, lalu memandang sekeliling dengan bingung, baru menyadari bahwa ia berada di tempat yang berbeda. Namun instingnya segera tergerak—ia menunduk, meraih tubuh Ivy yang terkulai tepat di bawah kakinya. Orang-orang yang berada di sekitar mereka juga ikut menolong.
Kelopak mata Ivy perlahan terbuka. Cahaya siang yang menyilaukan menyambut pandangannya. Wajah-wajah khawatir mengelilinginya, salah satunya adalah Zafar yang kini tampak cemas. Mereka bertanya apakah ia baik-baik saja. Ivy, dengan suara lemah, menjawab singkat bahwa ia tidak apa-apa. Seorang wanita tua bersyal tebal menawarkan untuk mengantarnya ke rumah sakit, namun Ivy menggeleng sambil tersenyum tipis, menolak dengan sopan. Melihat itu, tak ada seorang pun yang memaksanya. Ia sempat mengucapkan terima kasih pada mereka yang membantunya, sebelum perlahan bangkit. Langkahnya masih goyah, namun ia memilih pergi, meninggalkan kerumunan orang-orang yang barusan menaruh perhatian padanya.
Ia menyeberangi jalan, menuju halte bus di seberang. Namun sesampainya di sana, matanya menangkap papan nama toko kue milik Zafar. Tatapannya mengeras. Bibirnya bergerak, mengucapkan mantra yang nyaris tak terdengar, seolah hanya sebuah desahan angin.
“BUUM!”
Ledakan itu mengguncang udara, memantul di antara bangunan-bangunan batu bata merah khas kota tua. Kaca jendela halte bergetar hebat. Dari arah toko, kobaran api mulai terlihat, awalnya hanya berasal dari dapur, lalu menjalar cepat, melahap interior kayu dan tirai tebal di jendela. Pemadam otomatis yang terpasang di langit-langit ruangan tak mampu mengendalikan si jago merah.
Jeritan panik pecah. Para pelanggan berhamburan keluar, sebagian tersandung atau menabrak meja. Bau asap bercampur adonan gosong menyengat udara. Di antara kerumunan, Zafar muncul dari arah berlawanan, matanya terbelalak melihat tempat usahanya terbakar hebat. Ia berlari mendekat, namun nyala api yang makin membesar memaksanya berhenti. Bahunya bergetar, dan air mata mulai mengalir saat ia menatap tempat yang selama ini ia bangun dari hasil komprominya dengan dosa.
Ivy berdiri di halte, menatap pemandangan itu tanpa ekspresi. Tidak ada rasa puas, tidak ada senyum. Hanya tatapan datar yang tak terbaca. Begitu bus dengan nomor tujuan yang ia tunggu berhenti di depannya, ia segera naik dan menghilang di balik pintu.
“Nona Cotton.”
Suara itu samar, seperti datang dari jauh.
“Nona Cotton.”
Kali ini lebih tegas, diiringi ketukan jari di meja.
“Elsie Cotton !”
Suara bentakan ringan dan bunyi telapak tangan menghantam meja membuat Ivy—atau tepatnya Elsie Cotton, nama samaran yang ia asli Ivy—terkejut. Pandangannya kembali fokus. Ia mendongak, menatap sosok pria yang berdiri di depannya.
Tuan Imron.
Bersambung!
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
