BAB 79
"Apa yang aku pikirkan! Ah... jangan berpikir bodoh. Mana mungkin dia mau... denganku." gumam Murray dengan wajah lesu, menatap kosong ke arah gelap di luar tenda. Hatinya terasa berat, dipenuhi keraguan yang membuat dadanya sesak.
Murray pun memutuskan untuk memejamkan mata, berharap matahari segera muncul untuk mengusir segala kegelisahan di hatinya, bersama semua bayangan monster yang bersembunyi di malam itu. Namun, belum lama ia mencoba memaksa dirinya terlelap, suara lolongan serigala tiba-tiba menggema dari kejauhan, panjang dan melengking, memecah kesunyian. Beberapa lolongan lain segera menyusul, seakan saling bersahutan.
Tubuh Murray seketika gemetar hebat. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan, dan tanpa sadar ia meraih tubuh Ivy, memeluknya erat seolah mencari perlindungan.
Mata Ivy perlahan terbuka. Tatapannya sayu, namun cukup untuk menangkap jelas sosok Murray yang ketakutan. Melihat pria itu gemetar, Ivy merasakan iba yang menusuk hatinya. Bibirnya yang pucat bergerak, suaranya lemah namun terdengar jelas di telinga Murray.
"Tenanglah... aku di sini bersamamu. Semua akan baik-baik saja."
Murray menoleh, menatap Ivy dengan sorot mata yang dalam dan penuh kegelisahan. Kilauan air mata mulai muncul, mengaburkan pandangannya. Suaranya bergetar ketika memanggil, "Ivy..." Sesaat kemudian, butir-butir air mata jatuh membasahi wajahnya yang tampan. Ivy mengangkat tangannya yang lemah, menyentuh pipi Murray dengan lembut.
Ekspresi bahagia sekaligus lega terpancar di wajah Murray saat itu, meski bercampur dengan tangisan. Ivy yang melihatnya merasakan matanya panas, hatinya pun ikut terhimpit oleh perasaan sedih bercampur bahagia. Ia tak tahu kenapa, tapi momen itu membuatnya merasa hangat sekaligus rapuh.
"Ivy, kau bangun! Kau bangun... syukurlah kau bangun. Aku sangat takut jika kau tidur selamanya! Syukurlah kau bangun..." suara Murray pecah, namun ketulusannya begitu jelas.
Keesokan harinya, sinar matahari yang cerah menyelimuti hutan. Daun-daun berkilau basah oleh embun, udara terasa segar hingga menusuk paru-paru, sementara kicauan burung terdengar riuh, menciptakan suasana damai yang kontras dengan malam penuh teror sebelumnya. Ivy berdiri di tepi hutan, matanya menatap pemandangan indah yang seakan menawarkan secercah harapan.
Di belakangnya, sebuah tenda kecil berdiri sederhana, terbuat dari anyaman ranting dan daun-daun kering. Tidak jauh dari situ, Murray tengah sibuk mengumpulkan kayu bakar. Gerak-geriknya terlihat kaku, namun penuh kesungguhan.
Ivy perlahan mendekatinya. "Apa kau yang membuatnya sendiri?" tanyanya dengan suara tenang.
"I-iya. Meskipun ini sangat jelek," jawab Murray gugup, matanya menghindar dari tatapan Ivy.
Ada sesuatu yang aneh. Gerak-geriknya tidak biasa. Ivy menyadari kegugupan itu, tapi ia menafsirkannya sebagai bentuk kekesalan Murray. Ya, mungkin Murray masih kesal karena harus terjebak dalam situasi ini bersamanya. Padahal, sebenarnya Murray sendiri ikut terseret karena ulahnya mendekati Elsie Cotton palsu. Seandainya waktu itu Murray tidak ikut campur, mungkin pria itu masih berada di dunia yang seharusnya.
"Tidak, ini bagus. Kau sangat kreatif," ucap Ivy sambil tersenyum tipis, berusaha menghargai.
Tenda itu memang sederhana, jauh dari kata bagus, namun Ivy tak tega berkata jujur. Ia tak ingin melukai hati Murray, apalagi pria itu sudah berusaha keras.
"Terima kasih," balas Murray dengan suara lemah. Wajahnya tampak memerah, dan gerakannya semakin canggung.
Ivy menatapnya ragu. "Apa kau sakit?" tanyanya khawatir.
"S-sakit?" Murray terlihat panik, suaranya terbata-bata. Ia mundur setapak demi setapak ketika Ivy mendekat.
"Wajahmu memerah, dan kau terlihat aneh. Apa kau tidak enak badan?" Ivy mengangkat tangannya, meletakkan punggung telapak di dahi Murray. Kulitnya terasa normal, tidak ada demam.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
