10

118 4 0
                                        

BAB 10





"Ykaaaa!" rintih Ivy, suaranya pecah menahan sakit.

Kepalanya memang tidak berdarah, tapi kulitnya memerah dan denyut nyeri itu seperti bergetar sampai ke tengkuk. Nafasnya berat, matanya menyipit penuh amarah. Ivy menatap Natali tajam—tatapan yang seperti ingin menembus hingga ke tulang—lalu tangannya terangkat, menggenggam rambut panjang Natali dan menariknya kuat-kuat. Natali terhuyung, nyaris tersungkur ke lantai ubin dingin yang memantulkan cahaya lampu kamar mandi sekolah itu.

"Ahhh! Lepas! Sakit!" rintih Natali dengan suara melengking.

Margaret dan Sementa sontak bereaksi. Mereka berlari kecil, sepatu sekolah mereka berdecit di lantai basah, mencoba menarik Natali dari genggaman Ivy. Namun Ivy tidak melepaskannya—jari-jarinya mencengkeram seperti cakar yang tertancap dalam-dalam.

Margaret akhirnya menginjak kaki kiri Ivy, keras, tepat di tulang yang pernah patah setahun lalu.

"Arrrrghh!" Ivy menjerit kencang, tubuhnya terhentak mundur. Rasa nyeri itu seperti semburan listrik panas yang menjalar dari mata kaki sampai ke pinggang.

Pegangan Ivy terlepas, membuat Natali meraih rambutnya sambil meringis.

"Apa kau baik-baik saja!?" tanya Sementa cepat, memegangi bahu Natali.

Natali hanya mengangguk pelan, tapi sorot matanya masih penuh bara. Tangannya mengusap kepalanya yang berdenyut, lalu menatap Ivy tajam. "Dengar, aku tidak pernah merebutnya. Dialah yang datang padaku!" ucapnya, nadanya tegas namun sinis.

Seolah itu belum cukup, bibirnya melengkung sombong. "Tapi itu wajar... karena aku jauh lebih cantik darimu."

Ucapan itu menusuk seperti belati yang dipanaskan di api. Natali berdiri tegak, dagunya terangkat seperti ratu kecil yang yakin semua orang akan memihaknya. Ivy membeku—ia tahu, di lubuk hati terdalam, ada bagian dari dirinya yang mengakui kebenaran kata-kata itu. Namun, rasa sakit hati jauh lebih besar daripada pengakuan itu.

Ia ingin mencabik wajah Natali, Margaret, dan Sementa. Ia ingin membuat mereka merasakan sakit yang sama. Tapi hatinya diliputi ketakutan—takut akan balasan, takut akan tatapan orang lain, takut akan semakin dibenci.

Sementa menatapnya dengan pandangan jijik. "Ya, kau seharusnya sadar kalau kau sudah... jadi buruk rupa!"

"Sudah miskin, buruk rupa, tidak berprestasi..." Natali menambahkan dengan nada meremehkan. "Hah, jangan bermimpi bersaing denganku, Ivy!"

Margaret tertawa, dingin dan penuh cemooh. "Hahaha... dasar menjijikkan."

Ivy memejamkan mata. Tangannya terkepal erat sampai buku-bukunya memutih, napasnya memburu, rahangnya mengeras. Ada sesuatu di udara—tekanan yang tidak biasa—dan tiba-tiba lampu di langit-langit berkedip cepat.

Ketiga gadis itu terhenti, menatap ke atas.

"Apaan itu?" gumam Sementa, namun sebelum ada jawaban—DAR! Lampu meledak, pecahannya berjatuhan, sebagian menghantam lantai, sebagian lagi nyaris mengenai rambut mereka.

"AAAAAA!" jerit mereka bertiga serempak, lalu berlari keluar dengan panik, meninggalkan Ivy seorang diri di ruangan itu.

Sejurus kemudian, sebuah bunyi mekanis terdengar—klik—dan tetesan air pertama jatuh dari sprinkler di langit-langit. Dalam hitungan detik, semburan air dingin mengguyur seluruh ruangan.

Ivy terdiam, membiarkan air itu membasahi rambut dan seragamnya. Pundaknya turun perlahan, rasa marah di dadanya mereda sedikit, digantikan kelelahan. Air itu bukan sekadar dingin—rasanya seperti membersihkan, tapi juga mengingatkan bahwa ia sendirian.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang