31.

81 5 0
                                        

BAB 31


"A, aku di mana?" gumam Ivy, menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Tempat itu masih sama dengan yang ia lihat beberapa menit lalu—taman, jalan setapak, dan hotel di seberang—namun suasana di sekitarnya terasa berbeda. Salju putih menutupi segala permukaan, udara begitu dingin menusuk tulang, dan ada hening yang aneh, membuat Ivy merasakan ketakutan yang mendalam.

Ivy mulai berlari dengan panik ke arah taman, langkahnya tergesa-gesa, napasnya tercekat setiap kali ia berlari. Ia ingin bertanya, ingin memanggil seseorang, namun rasa takut yang menusuk membuat lidahnya kelu. Beberapa orang yang ia temui hanya melirik sebentar, lalu kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, seolah tidak ada yang peduli.

Tubuh Ivy mulai terasa lelah, kepanikan membuat kakinya goyah. Ia jatuh tersungkur di atas salju yang dingin, tubuhnya menggigil. Dengan napas terengah-engah, Ivy mencoba menenangkan diri, menutup mata sejenak, dan mengatur ritme nafasnya agar jantung yang berdebar kencang mulai stabil.

Namun baru beberapa detik ia mencoba menenangkan diri, sesuatu jatuh tepat di bahunya—kotoran burung. Marah dan kesal, Ivy mengerahkan kekuatannya, menggunakan sihir untuk membakar burung itu dan membersihkan kotoran yang menempel di bajunya. Dalam sekejap, burung itu hangus, meninggalkan abu di salju yang putih.

"Kau tidak boleh menggunakan sihir sembarangan di sini! Kalau sampai ketahuan, kau bisa mendapat masalah besar!" suara tegas itu terdengar dari belakang.

Ivy menoleh, jantungnya sedikit berdegup lebih lambat. Sosok di hadapannya adalah seorang anak laki-laki dengan rambut putih dan mata berwarna putih keabu-abuan, begitu langka hingga membuat Ivy terpana. Wajahnya tampan, tetapi ada aura misterius yang menyelimuti anak itu, dan suaranya terdengar lembut namun tegas.

Untuk beberapa saat, Ivy hanya terpaku menatapnya, namun ia segera mengalihkan perhatian. Anak itu tahu soal sihir—hal yang membuat Ivy penasaran lebih dari apapun.

"Kau… bicara padaku?" tanya Ivy, mencoba memastikan.

"Tentu saja," jawab anak itu sambil mengangguk yakin, kemudian menyesuaikan posisi kaca mata tebal yang aneh di wajahnya.

Kaca mata itu tampak tebal dan tidak biasa, membuat Ivy penasaran. "Kaca mata apa yang kau gunakan? Kenapa terlihat begitu aneh?" tanyanya.

"Ini untuk melindungi mataku," jawab anak itu polos.

"Emangnya, matamu kenapa?" tanya Ivy, nada suaranya lebih lembut, mencoba mengerti keadaan anak itu.

"Aku buta. Ayah memintaku memakainya. Katanya agar mataku tidak semakin rusak," ucapnya singkat.

Kaca mata itu membuatnya terlihat berbeda, tapi Ivy mencoba menghibur. "Kacamata itu keren. Kau terlihat tampan saat memakainya," puji Ivy, tersenyum tipis. Ia ingin membuat anak itu merasa nyaman, sekaligus menebus rasa bersalah karena tak sengaja menyinggungnya sebelumnya.

Namun seketika pikiran Ivy terhenti. “Dia kan buta, kenapa dia tahu aku baru saja menggunakan sihir?” gumamnya dalam hati, merasa kaget sekaligus penasaran.

"Ah, terima kasih," ucap anak itu dengan polos.

"Dan… kalau kau tidak bisa melihat, tahu darimana kalau aku menggunakan sihir?" tanya Ivy, nada suaranya setengah penasaran, setengah tak percaya.

"Aku memiliki kemampuan spesial, bisa merasakan dan melihat energi sihir seseorang," jawab anak itu dengan tenang, mata putih keabu-abuan itu seolah menembus tubuh Ivy.

"Dan kau memiliki kemampuan yang luar biasa, untuk usiamu," lanjutnya, membuat Ivy mengangkat satu alisnya, terkejut sekaligus kagum.

"Terima kasih atas pujianmu," ucap Ivy, menahan senyum tipis di bibirnya.

“Meskipun aku tidak begitu mengerti apa yang dia ucapkan,” gumam Ivy dalam hati.

Berbicara dengan anak kecil itu membuat perasaannya sedikit lebih lega. Entah kenapa, namun ada rasa hangat yang muncul di dadanya. Sesuatu yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.

“Tapi, apakah kau seorang penyihir juga?” tanya Ivy, penasaran sekaligus ingin mengetahui kemampuan anak itu.

“Mungkin. Semua keluargaku penyihir yang saaaangat hebat. Jadi mungkin aku akan menjadi penyihir sama seperti pendahuluku,” jawab anak kecil itu dengan bangga, dada tegak dan senyum polos menghiasi wajahnya.

Ucapan itu membuat Ivy teringat buku merah yang pernah ia baca, di halaman pertama. Di sana dijelaskan bahwa keturunan penyihir biasanya akan menjadi penyihir juga, dan akan menjadi aib jika mereka tidak bisa menggunakan sihir. Sementara orang yang bisa menggunakan sihir tapi bukan keturunan penyihir dianggap sebagai keturunan kotor. Ivy menelan ludah, berpikir bahwa ia mungkin termasuk golongan kedua—keturunan kotor—karena ibunya hanyalah manusia biasa. Ayahnya? Ivy bahkan tidak tahu siapa dia. Tapi, seperti biasanya, ia tidak peduli dengan penilaian orang lain, termasuk tulisan di buku itu.

“Oh, itu bagus,” ucap Ivy singkat, lalu ia mengalihkan perhatian pada hal yang lebih mendesak: mengetahui di mana ia berada sekarang.

“Oh ya, bisa kau beritahu, ini di mana?” tanyanya, mata masih menatap anak itu dengan waspada.

“Kau ada di Landen,” jawab anak itu santai.

“Landen? Tapi, kenapa bersalju? Bukannya masih musim panas?” Ivy terkejut, mengernyitkan alisnya.

“Tidak, ini sudah musim dingin. Ini kan akhir tahun 20**,” jawab anak itu tanpa ragu.

Ucapannya membuat Ivy semakin bingung. Ia merasa berada sepuluh tahun di masa lalu. Tempatnya sama, namun terasa berbeda, seperti realitas yang bergeser. Ivy sama sekali tidak mengucapkan mantra untuk kembali ke masa lalu, jadi pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya. Kepala Ivy mulai pusing mencoba memahami hal itu.

“Co… coba bilang lagi, ini tahun berapa?” tanyanya, suaranya bergetar setengah penasaran, setengah takut.

“Ba… bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku berada di sepuluh tahun yang lalu?!” gumam Ivy, hampir tidak percaya.

Ivy terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali kejadian saat ia hampir tertabrak mobil. Ia berharap hal itu bisa memberinya petunjuk. Anak kecil itu menatap Ivy dengan rasa penasaran bercampur perhatian, lalu dengan lembut menyentuh tangan Ivy.

“Kenapa kau terdiam? Apa ada masalah?” tanya anak itu lembut, menembus rasa bingung Ivy.

Ivy tersadar dari lamunannya, menarik napas panjang, lalu berkata, “Ah, aku… tidak ada. Tidak ada.”

“Terus, di mana kedua orang tuamu? Kenapa kau berada di sini sendirian? Apa kau tidak takut diculik?” anak itu melanjutkan pertanyaan, serius tapi polos.

“Mereka pergi karena ada urusan. Dan aku, tidak takut diculik, aku sangat kuat!” jawab anak laki-laki itu sambil menunjukan ekspresi penuh percaya diri. Wajahnya lucu, pipinya bulat, dan bibir mungil seolah dilapisi madu manis. Ivy menatapnya sebentar, tersenyum tipis. Anak kecil itu terlihat begitu percaya diri, seolah sudah dewasa meski tubuhnya mungil.

“Kau terlalu percaya diri,” ucap Ivy, suaranya terdengar lembut namun mengandung nada mengejek ringan. Ia tersenyum, bukan karena marah, tetapi karena merasa terhibur oleh keberanian anak itu.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang