66.

62 3 0
                                        

BAB 66



Ivy menatap perpustakaan sekolahnya dengan mata berbinar-binar. Gadis itu terdiam sejenak, seolah terpesona oleh betapa megahnya bangunan ini. Dari luar memang terlihat biasa saja, namun begitu melangkah masuk, ia merasa seakan memasuki dunia lain. Puluhan lantai menjulang ke atas, namun ujungnya tak pernah terlihat. Kabut tipis menutupi bagian atas ruangan, membuat siapa pun yang menengadah tak bisa memastikan berapa banyak lantai yang ada. Rasanya sama seperti ketika Ivy pertama kali melihat ruang penyimpanan tongkat sihir milik Vivian-luarnya sederhana, dalamnya seolah tak terbatas.

Yang membuat tempat ini unik adalah tidak adanya tangga sama sekali. Untuk menuju lantai atas, semua siswa harus menggunakan sihir mereka. Sekilas, hal itu terlihat indah, penuh wibawa, namun bagi Ivy justru seperti penanda kasta: mereka yang kuat akan dengan mudah melayang ke atas, sedangkan yang lemah akan tetap terperangkap di lantai bawah. Dunia ini benar-benar menempatkan kekuatan di atas segalanya.

Dan lebih kejam lagi, bangsa sihir memiliki kebiasaan buruk-mereka memandang rendah penyihir darah lumpur, yakni manusia biasa yang berhasil menjadi penyihir, serta darah campuran, anak hasil pernikahan penyihir dengan manusia. Mereka dianggap aib. Ivy tahu betul perasaan itu... karena dirinya pun salah satunya.

Sejak mereka mengetahui siapa orang tuanya, tatapan-tatapan dingin selalu menghujamnya. Ivy tak pernah sekalipun menjawab pertanyaan yang menyinggung keluarganya. Itu terlalu pribadi, terlalu menyakitkan. Namun entah dari mana, entah dari para guru atau bisik-bisik antar murid, informasi itu menyebar. Hasilnya, banyak yang menghindari, mencibir, bahkan ada guru yang terang-terangan menunjukkan kebencian padanya. Menjijikkan. Bagaimana bisa, di zaman yang katanya modern ini, mereka masih berpikir dengan cara sesempit itu?

Mengingat hal itu membuat Ivy termenung. Ia bahkan tak tahu siapa ibunya sebenarnya, dan tentang ayahnya... ia hanya bisa berharap bahwa pria itu pernah mencintainya. Namun, harapan itu pun terasa rapuh.

Menggoyangkan kepala, Ivy mengusir pikiran itu. Ia mengangkat jari, melafalkan mantra terbang. Tubuhnya pun melayang perlahan, stabil, tanpa perlu bantuan tongkat sihir. Sontak, perhatian siswa lain tertuju padanya.

Mata-mata penuh keterkejutan mengikuti gerakannya. Bibir-bibir mulai berbisik.

"Bukankah itu siswa baru?"
"Aku dengar dia baru belajar sihir, tapi... lihat, dia sangat hebat!"
"Bagaimana mungkin dia melakukannya tanpa tongkat sihir? Ini gila!"
"Sehebat apa pun dia, tetap saja darah kotor!"
"Aku dengar dia cuma orang biasa di dunia atas."

Bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Ivy. Ada yang kagum, ada yang iri, dan tak sedikit yang menatap dengan jijik. Ivy hanya mendengus dalam hati. Ya... begitulah hidup. Selalu ada yang menyanjung, selalu ada yang merendahkan.

***

Di tempat lain, sepasang mata dengan iris putih kebiruan menatap kosong ke arah kegelapan. Perlahan, warna itu berubah, bergulir seperti tinta, menjadi merah tua pekat-seperti gelas kristal yang dipenuhi anggur merah. Sebuah suara berat namun lembut terdengar, menggetarkan udara.

"Kembali padaku..."

Nada suaranya maskulin, namun sarat dengan desakan. Dan kemudian, suara itu berubah menjadi teriakan yang menggelegar.

"KEMBALI PADAKU!"

Suara itu bergema, memekakkan telinga, seolah merobek ruang dan waktu.

Ivy terperanjat, matanya terbuka lebar. Ivy melihat ke sekelilingnya, ternyata ia berada di dalam kamar asrama. Tirai tipis yang menutupi jendela bergoyang pelan diterpa angin malam, menimbulkan bunyi lirih yang berbaur dengan suara rintik hujan di luar, apa itu hujan normal, jelas bukan, itu karena tetesan air dari langit-langit gua. Lampu kristal kecil di langit-langit berkelip redup, menebarkan cahaya pucat yang membuat bayangan di dinding tampak lebih panjang dan menyeramkan. Tubuh Ivy masih terasa dingin, pakaian dan kasurnya basah kuyup oleh air yang baru saja mengguyurnya. Gadis itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdetak cepat karena mimpi buruk barusan.

Namun, penyebab tubuhnya basah segera terlihat jelas. Seorang gadis berdiri di samping kasurnya, memegang ember berukuran sedang yang kini kosong. Ember itu masih meneteskan sisa air ke lantai, membentuk genangan kecil yang merayap ke arah kaki Ivy. Tatapan gadis itu tajam menusuk, dingin, seolah matanya bisa merobek tubuh Ivy hanya dengan sekali pandang. Ivy mengenal mata itu-mata penuh kebencian milik Marlin, teman sekamarnya.

"Kau yang melakukannya?" tanya Ivy dingin, suaranya tenang namun sarat dengan ketegasan. Meski tubuhnya menggigil, ekspresinya tetap terjaga, tidak menunjukkan kepanikan.

Marlin menyeringai sinis, tawa pendeknya terdengar menusuk telinga. "Ya, ini balasan karena kau sudah membuat masalah denganku!" katanya ketus, suaranya tajam seperti pisau.

Ivy mengangkat alisnya, menatap Marlin dengan wajah seolah polos. "Balasan? Memangnya apa yang kulakukan padamu?" ucapnya datar, meski di dalam hati ia tahu betul alasan gadis itu menaruh dendam padanya.

Ya, Ivy memang sering menimpali Marlin saat pelajaran berlangsung. Itu bentuk balasan kecil karena Marlin selalu mengganggunya di asrama-tidur dengan suara ngorok yang keras, mengacak-acak area tempat tidurnya, bahkan dengan sengaja menaruh kotoran di pakaian Ivy di dalam lemari. Semua itu sungguh menjengkelkan, dan Ivy tidak bisa hanya diam saja.

"Masalah? Apa yang sudah aku lakukan sampai kau begitu memusuhiku?" Marlin berucap dengan nada seolah-olah dialah korban yang paling dirugikan. Suaranya bergetar, tapi lebih karena emosi daripada ketakutan.

Tatapannya menusuk Ivy. "Kenapa kau selalu menyalahkanku atas kesalahanmu sendiri? Dan tadi! Kenapa kau dengan sengaja melempar tikus itu padaku!"

Ivy terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu. Saat itu mereka sedang berlatih berbicara dengan hewan, dan objeknya adalah seekor tikus kecil. Giliran Ivy tiba, dan bukannya fokus, ia justru melempar tikus itu tepat ke pangkuan Marlin sambil beralasan dirinya takut pada tikus. Ketakutan itu nyata, tapi lemparannya memang disengaja.

Ivy masih bisa mengingat jelas bagaimana wajah Marlin berubah pucat, lalu berteriak histeris saat tikus itu menyelinap masuk ke dalam bajunya. Gadis itu melompat-lompat panik, berlari ke sana ke mari sambil berusaha melepaskan tikus itu. Dalam kekacauan itu, ia tak sengaja menyenggol rak berisi toples kaca yang dipenuhi tikus lain. Suara pecahan kaca, jeritan, dan kekacauan kelas masih terngiang jelas di kepala Ivy.

"Sekamar denganmu itu saja sudah suatu kesalahan!" seru Marlin lagi, wajahnya memerah oleh amarah. Ia maju selangkah, jarinya menunjuk tepat ke arah wajah Ivy. "Kau hanya darah kotor! Ibumu, ayahmu-mereka semua makhluk rendahan yang layak mati!"

Kata-kata itu menghantam Ivy lebih keras dari apa pun. Sorot matanya yang semula datar kini berubah tajam. Api amarah menyala dalam tatapannya, membakar tenang yang sempat ia pertahankan. Nafasnya terengah, dadanya naik turun menahan gejolak emosi. Meskipun ibunya meninggalkannya demi pria lain, dan meski ia bahkan tidak mengenal siapa ayah kandungnya, mereka tetaplah orang tuanya. Bagaimanapun buruknya, tanpa mereka, Ivy takkan pernah ada di dunia. Dan itu membuat penghinaan Marlin terasa tak tertahankan.

"Tarik ucapanmu!" geram Ivy. Suaranya bergetar, rendah, namun penuh tekanan.

Dalam sekejap, sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Perlahan, warna hitam pekat merembes ke iris matanya, menelan warna aslinya hingga hanya kegelapan yang tersisa. Dari ujung rambutnya, garis-garis hitam seperti asap tipis merambat turun, melukis wajah Ivy dengan guratan menakutkan.

Marlin terbelalak, tubuhnya kaku. "A-apa... kau bercanda...? Aku tidak sudi-" ucapannya terputus saat Ivy mencengkeram kasar kerah baju tidurnya, menariknya ke arah jendela yang terbuka. Dalam sekejap, separuh tubuh Marlin sudah berada di luar.

Hembusan angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah setelah hujan. Marlin menoleh ke bawah, matanya membelalak ketakutan. Dari ketinggian 300 meter, tanah terlihat jauh dan gelap, seperti jurang maut yang siap menelannya bulat-bulat.

Tangannya meronta, mencakar udara, namun cengkeraman Ivy begitu kuat. Jika gadis itu melepaskannya sekarang, tubuh Marlin akan jatuh menghantam tanah, hancur berkeping-keping, dan darahnya membasahi tanah. Penyihir penyembuh terbaik pun tak akan bisa menyelamatkannya jika tubuhnya sudah menjadi serpihan.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang