6

140 7 0
                                        

BAB 6


“Aku pergi ke rumah pacarku, Natalie Hershlag. Kau bisa bertanya dengannya jika kau tak percaya,” ucap Brayen dengan nada santai, meskipun sekilas terdengar menantang. Ia tidak bermaksud menyombongkan diri; itu memang sifat aslinya—kadang terlihat agak kasar pada orang baru, tapi sebenarnya ia cukup peduli pada orang-orang dekatnya.

Polisi itu menatap Brayen tajam. “Apakah kau pernah melihat Danil atau teman-temannya ditindas oleh siapa pun?” tanyanya, matanya meneliti setiap gerakan wajah remaja itu.

Brayen tersenyum sinis, menarik napas sebentar sebelum menjawab, “Tidak. Malah… mereka menindas orang lain, seperti preman jalanan di sekitar kota.”

Mendengar itu, polisi sedikit mengerutkan dahi, tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu. “Kau terlihat tidak prihatin atau peduli saat Danil menghilang. Apakah kau memiliki masalah dengan mereka?”

“Tidak. Aku hanya… tidak menyukai mereka,” jawab Brayen singkat, nada datarnya jelas menunjukkan ketidaktertarikannya.

Polisi itu menekankan pandangannya. “Mereka memang memiliki sikap buruk. Banyak orang di sekolah ini tidak menyukainya. Mungkin saja seseorang sudah melakukan sesuatu pada mereka, mengingat perilaku mereka.”

Brayen mengangkat bahu, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. “Ya, mungkin saja,” ujarnya, seolah menegaskan ketidakpeduliannya.

Polisi lainnya, yang duduk di samping, mencondongkan tubuh ke depan dan mencoba memancing reaksi Brayen. “Apakah kau tahu jika Danil sering bertengkar dengan beberapa murid lain? Bisa jadi mereka punya motif untuk menyakitinya,” ucapnya, suaranya sedikit menegangkan.

Brayen menatapnya dengan tatapan dingin, senyumnya tipis tapi sinis. “Aku tidak tahu, dan jujur saja, aku tidak peduli. Kalau memang ada yang menyakitinya… itu bukan urusanku. Mereka memang bukan orang baik.”

Polisi pertama mengernyit, mencoba mengulang pertanyaan dengan cara berbeda. “Kalau begitu, siapa yang biasanya dekat dengan Danil? Siapa teman-temannya yang sering berada di sekitarnya sebelum ia menghilang?”

Brayen menepuk dagunya pelan, berpura-pura berpikir keras. “Hmm… banyak. Tapi aku tidak mengingat nama-nama mereka. Dan jika pun aku ingat, itu tidak akan membantu kalian menemukan Danil. Lagipula, aku tidak tertarik pada urusan mereka.”

Polisi kedua menatap Brayen dengan wajah semakin serius. “Apakah kau melihat Danil atau teman-temannya melakukan sesuatu yang mencurigakan sebelum hilang? Misalnya keluar sendirian atau bertemu orang yang tak dikenal?”

Brayen menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, kedua tangannya terlipat santai di atas meja. “Tidak. Dan jika aku melihat pun, aku mungkin tidak akan peduli. Mereka bukan teman dekatku, kalian tahu sendiri kan?”

Sikap dingin dan tenang Brayen membuat para polisi terdiam sejenak. Mereka saling bertukar pandang, mencoba menemukan celah dalam jawaban remaja itu.

“Brayen,” ucap polisi pertama, menekankan kata namanya, “apakah kau yakin tidak melihat atau mendengar sesuatu yang bisa membantu penyelidikan kami? Bahkan hal kecil, sesuatu yang tampak sepele?”

Brayen tersenyum tipis, suaranya lembut tapi penuh sinisme. “Aku hidup di dunia nyata, Pak. Aku melihat orang-orang berbuat apa yang mereka mau, dan aku hanya… mengamati. Tidak ada yang aneh terjadi di dekatku. Tidak ada yang membuatku khawatir. Kalau kalian mau bukti, kalian harus tanya orang lain. Aku hanya Brayen Rodriguez, remaja yang tidak punya masalah dengan dunia selain urusanku sendiri.”

Polisi kedua menarik napas panjang, sedikit frustrasi, lalu mencoba satu pertanyaan lagi. “Apakah kau pernah berpikir untuk… membantu Danil ketika ia bermasalah? Misalnya menasihati atau mencegahnya melakukan sesuatu yang salah?”

Brayen menatapnya datar, matanya seperti menyapu seluruh ruangan. “Tidak. Itu bukan tugasku. Aku tidak pernah menyakiti Danil, dan aku tidak pernah berniat menyakitinya. Aku hanya tidak menyukai mereka. Tidak lebih.”

Para polisi saling bertukar pandang. Setiap pertanyaan yang mereka lontarkan, setiap trik yang mereka coba untuk memancing Brayen, selalu berakhir dengan jawaban dingin dan datar. Tidak ada petunjuk, tidak ada pengakuan, tidak ada reaksi yang bisa mereka gunakan.

Brayen tetap duduk dengan tenang, seolah angin badai bisa lewat di atas kepalanya tanpa mengganggu satu helai rambut pun. Sikapnya yang dingin, sinis, dan terkontrol justru membuat para polisi semakin frustrasi. Mereka mencoba berbagai pendekatan—ancaman, bujukan, pertanyaan memancing—namun tidak ada satu pun yang menembus dinding ketenangan Brayen.

Faktanya, Brayen memang hanya membenci Danil. Tapi ia tidak pernah sekalipun memukul atau berniat membunuhnya. Semua ketegangan yang dirasakan polisi hanyalah permainan kesabaran mereka sendiri. Sementara Brayen, dengan senyum tipisnya yang misterius, duduk diam, menyadari bahwa ia berada di atas angin—bahwa kebencian berbeda jauh dengan kekerasan, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menjerumuskannya pada masalah yang bukan urusannya.

***

Sementara itu, di koridor sekolah yang sepi namun terawasi, Ivy duduk di salah satu kursi panjang. Matanya menatap pintu biru di ujung lorong, yang menjadi jalur keluar masuk interogasi polisi. Ia memalingkan pandangannya ke jam tangan, menunjukkan pukul 11:30 pagi. Di sekitarnya, beberapa siswa duduk menunggu giliran interogasi, sebagian besar adalah teman sekelas Ivy, yang tampak gelisah dan saling berbisik.

Ivy tidak terlalu khawatir soal interogasi itu. Ia tidak bersalah, dan hubungannya dengan Danil pun memang buruk sejak awal. Dulu, saat pertama kali masuk sekolah, Danil sering mendekatinya—mungkin karena menganggap Ivy cantik—namun Ivy hanya menganggapnya teman. Saat itu, ia masih berpacaran dengan Brayen, dan tidak terlalu peduli pada perhatian Danil. Namun segalanya berubah setelah wajah Ivy rusak parah akibat insiden yang menimpanya. Danil bukan hanya ikut membully Ivy, tapi juga menuduhnya melakukan hal yang tidak ia lakukan, termasuk tuduhan terhadap Jessica. Semua itu menjadi alasan mengapa Ivy sering menjadi sasaran bullying.

Tiba-tiba, pintu biru di ujung lorong terbuka, dan seorang remaja pria keluar dari sana. Ivy menatapnya dengan wajah datar. Jantungnya sedikit berdebar, tetapi ia berusaha menenangkan diri. Pria itu adalah Brayen. Mata mereka sempat bertemu sekejap, sebelum Ivy cepat-cepat mengalihkan pandangannya, menahan rasa yang bercampur antara rindu dan sakit hati.

“Ivy,” ucap Brayen, suaranya lembut namun tegas, sambil melangkah mendekat.

Langkah Brayen menarik perhatian beberapa siswa di sekitar mereka. Tatapan mereka sinis, tampak ingin ikut menilai hubungan keduanya, dan itu membuat Ivy sedikit geram. Brayen menyadari tatapan itu, namun ia tampak tidak peduli, fokus hanya pada Ivy.

“Bisakah kita bicara berdua?” ucap Brayen, nadanya nyaris seperti bisikan, penuh kesungguhan.

Ivy menepisnya dengan cepat. “Tidak,” jawabnya, suaranya terdengar lemah tapi tetap tegas. Ia tidak mau membuka ruang untuk diskusi yang bisa membangkitkan emosi lamanya.

“Aku mohon… kita harus bicara,” desak Brayen, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jelas. Ada sedikit panik di matanya, seolah takut ada yang melihat percakapan mereka. Namun Ivy tetap tak menghiraukan, menatapnya dingin.

Merasa kesal dengan sikap Brayen yang tak mau menyerah, Ivy menegaskan lagi, “Tapi bagiku, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!”

Ucapan itu membuat Brayen terlihat kecewa. Ia membuka mulut, hendak membalas, namun sebelum kata-katanya keluar, terdengar suara lembut yang memotong suasana.

“Sayang!”

Suara itu terdengar hangat namun penuh teguran, menarik perhatian Ivy dan Brayen. Keduanya menoleh, dan di ujung lorong, terlihat Natalie—pacar Brayen—menatap dengan wajah cemburu. Matanya tajam, bibirnya tersenyum tipis tapi penuh amarah, jelas menunjukkan perasaan posesifnya. Kehadiran Natalie memaksa Brayen menahan dirinya, sementara Ivy menatap pemandangan itu dengan campuran rasa jengkel dan frustasi.

Bersambung ! 

Pesan Penulis ✨

Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang