BAB 50
Saat ruangan kembali terang, Ivy menyadari dirinya tidak lagi berada di dalam bus. Ia berdiri di sebuah ruangan megah, luas, dan penuh nuansa kuno. Dinding-dindingnya terbuat dari batu kasar berwarna abu gelap, dingin hingga terasa menusuk kulit. Pilar-pilar besar menopang langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran tua, sementara cahaya remang dari obor yang tergantung di dinding membuat bayangan panjang berjatuhan di lantai marmer. Aroma lembap batu bercampur dengan kayu tua menguatkan kesan bahwa tempat ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Langkah Ivy perlahan terhenti saat matanya menangkap sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita bergaun abad pertengahan berwarna ungu tua dengan detail bordir emas. Wajah wanita itu membuat Ivy tertegun. Garis wajahnya begitu mirip dengan dirinya, hanya saja terlihat lebih dewasa, anggun, dan… menderita. Tatapan mata wanita dalam lukisan itu seolah membawa beban berat yang tak terucapkan. Ivy mendekat, meneliti setiap detail wajah itu sambil menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat.
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara langkah kaki bergema di ruangan. Sekelompok wanita berjalan terburu-buru melewatinya. Mereka semua berusia lebih tua dari Ivy dan mengenakan pakaian sederhana, mirip seragam pelayan istana. Wajah mereka serius, langkah mereka teratur. Salah satu dari mereka sempat menoleh ke Ivy dan berkata cepat, seolah terburu-buru, “Cepatlah bersiap, tuan besar sudah pulang.”
Ivy terdiam, kebingungan. Alisnya berkerut, bibirnya sedikit terbuka, tidak mengerti maksud mereka. Saat matanya menunduk, ia tersentak menyadari bahwa dirinya tidak lagi mengenakan pakaian biasa, melainkan sebuah gaun kuno berwarna merah tua. Kain itu berat, menyentuh lantai, lengkap dengan korset yang menekan dadanya hingga membuatnya sulit bernapas. Ivy menatap gaun itu dengan linglung, jari-jarinya menyentuh kainnya untuk memastikan itu nyata.
Para wanita itu segera berbaris rapi di samping pintu besar yang menjulang tinggi. Tubuh mereka tegak, wajah tunduk penuh hormat, menunggu seseorang. Ivy yang masih bingung ikut berdiri, meski ia tidak ikut berbaris. Degup jantungnya bertambah kencang saat pintu perlahan terbuka, menimbulkan derit berat.
Seorang pria masuk. Tubuhnya tinggi tegap, rambut peraknya berkilau indah diterpa cahaya obor. Namun wajahnya… kabur. Seolah dilapisi kabut tipis yang membuat Ivy tidak bisa melihat dengan jelas. Ia mengedipkan mata berkali-kali, bahkan menguceknya, tapi sosok itu tetap tak terlihat jelas. Satu hal yang membuat Ivy merinding: siluet pria itu sekilas mengingatkannya pada Brayen. Hanya saja, sosok ini tampak lebih gagah, lebih asing, dan auranya jauh lebih kuat.
Tiba-tiba, lantai ruangan dipenuhi darah. Cairan merah pekat itu merembes cepat, membanjiri setiap sudut. Ivy terhuyung, menahan napas, tubuhnya gemetar. Satu per satu para wanita pelayan menghilang dalam kabut, meninggalkan Ivy hanya berdua dengan pria asing itu.
Lalu suara yang sangat ia kenal terdengar. “Ivy…”
Ivy menoleh dengan cepat. Di ujung ruangan, Brayen berdiri. Senyum bahagia seketika menghiasi wajah Ivy, matanya berbinar lega. Namun senyum itu segera luntur ketika ia melihat ekspresi Brayen yang datar, dingin, tanpa sedikitpun rasa gembira.
“Brayen…” bisik Ivy dengan suara bergetar. Ia melangkah maju, namun pria itu justru berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah tenang. Ivy panik. Air mata menggenang di pelupuknya. “Brayen! Tunggu! Jangan tinggalkan aku!” serunya dengan suara parau.
Ia berlari melewati genangan darah yang kini berubah menjadi air pekat, semakin naik hingga mencapai lututnya. Namun sebelum ia sempat mendekat, tangan pria asing itu mencengkeram pergelangan Ivy dengan kuat. Sentuhan itu dingin, kasar, dan menusuk. Ivy meronta, wajahnya pucat, namun genggaman itu justru semakin erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
