BAB 99
Beberapa hari kemudian, Ivy berdiri di ambang pintu rumah barunya, menatap matahari terbit yang perlahan menebarkan cahaya keemasan di antara pepohonan. Suara kicauan burung menyambut pagi, aroma segar hutan dan tanah basah menyelimuti udara, sementara perbukitan di kejauhan tampak mempesona. Semua itu membuat Ivy merasa damai, hatinya sejenak terbebas dari rasa takut dan lelah yang menghantuinya beberapa hari terakhir.
Saat Ivy masih tenggelam dalam ketenangan itu, tiba-tiba tangan besar melingkar di perutnya. Kehangatan tangan itu langsung menenangkan tubuhnya. Murray.
Murray meletakkan gadu-nya di bahu Ivy, suaranya lembut, “Kenapa kau membuka pintu? Apa kau tidak kedinginan?”
Ivy berbalik dan menatap wajah suaminya. Perlahan, tangannya meraih pipi Murray, menahan wajahnya agar lebih dekat. Ia memeluk pria itu, mencari kehangatan dan rasa aman. Murray membalas pelukan itu dengan hangat, dan kehangatan itu menyebar ke seluruh tubuh Ivy.
“Kau… bisa menghangatkanku,” ucap Ivy lemah, suaranya nyaris berbisik.
Murray tertawa pelan mendengar itu, membuat Ivy ikut tersenyum, dan kemudian ia memeluk Ivy semakin erat, seakan tidak ingin melepaskannya.
“Kita akan memulai hidup baru di sini. Hanya ada kau dan aku… selamanya,” ucap Murray dengan suara mantap, penuh keyakinan.
Ivy mengangguk, matanya bersinar, “Iya… selamanya.”
Malam itu, gelap dan sunyi menutupi desa. Seorang pria berjalan tanpa busana di jalan setapak, langkahnya tergesa-gesa, napasnya terengah-engah. Tubuhnya penuh luka, darah segar menetes dari lengan kanannya. Angin dingin malam tak menghentikan langkahnya.
“Buk!” Pria itu tersandung ranting pohon dan jatuh tersungkur ke tanah. Ia menatap ke belakang dengan mata membelalak, ngeri. Di sana, muncul sesosok yang menyerupai manusia, diselimuti kabut tebal berwarna hitam pekat. Satu-satunya yang terlihat jelas adalah mata bercahaya terang, menembus kegelapan.
Pria itu menahan napas saat sosok itu tiba-tiba menghilang. Ia mengira aman, namun seketika makhluk itu muncul di hadapannya, menatap dengan tajam.
“AAAAAAA!” teriak pria itu, suaranya pecah dalam kegelapan.
Di sisi lain, Xia terbangun dari tidurnya karena suara jeritan yang terdengar samar di kejauhan. Ia menatap sekeliling kamar sederhana namun hangatnya terasa menenangkan. Tirai bergoyang ringan ditiup angin malam, dan cerobong asap rumahnya mengeluarkan asap tipis.
“Aku seperti mendengar suara jeritan,” gumam Xia, duduk di tempat tidur. Ia segera bangkit dan berjalan menuju cerobong, mengambil beberapa kayu bakar untuk menjaga agar api tetap menyala. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah kantong kecil beserta sepucuk surat yang tertinggal di dekat jendela.
Xia mengambil surat dan kantong itu. Tulisan di surat itu rapi, membacanya membuatnya tersenyum tipis. Karena latar belakang bangsawannya, Xia mampu membaca tulisan kuno dengan mudah.
"Terima kasih karena kau sudah membantuku waktu itu. Jika kau terlambat sedikit saja, aku tidak tahu bagaimana keadaan istriku. Sebagai balas budi, kau bisa menemui suatu hari nanti, jika kau memiliki kesulitan. Aku berjanji akan membantumu."
Tidak ada nama pengirimnya, tapi Xia tahu siapa penulisnya—McKellen. Rasa takut dan hormat muncul bersamaan. McKellen bukan orang biasa, dan Xia tahu bahwa wanita yang ia lindungi itu berarti segalanya baginya.
Dengan hati-hati, Xia membuka kantong itu. Puluhan koin emas berkilau di dalamnya, membuat matanya membesar. Uang itu bisa digunakan untuk memulai usaha dan kehidupan baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
