BAB 103
“Tapi… bukankah kita bisa mencoba dengan hati-hati?” tanyanya. “Hanya untuk satu orang… sekadar memberi mereka kesempatan kedua…”
Cagatay menunduk sejenak, tatapannya gelap. “Kamu harus mengerti, Ivy. Mengubah takdir berarti menentang keputusan Tuhan, atau apapun yang menentukan garis besar kehidupan. Ketetapan yang terlihat tragis—seperti kematian seseorang—tidak pernah sekadar kebetulan. Itu bagian dari struktur alam semesta, dan bahkan perubahan sekecil apapun bisa memicu ketidakteraturan yang lebih besar. Ilmiah maupun filosofis, hukum sebab-akibat tidak bisa dihindari. Jika kamu memaksa, kamu tidak hanya mengubah satu kehidupan… kamu bisa merusak ribuan, bahkan jutaan, peristiwa yang terikat dengan garis waktu itu.”
Ivy menunduk, menatap tangan kecilnya yang kini memegang liontin hitam pemberian ayahnya. Kata-kata Cagatay berputar di kepalanya seperti pusaran yang tak bisa dihentikan. Bayangan sahabatnya yang telah tiada muncul di benaknya, wajah yang dulu selalu membuatnya tersenyum kini hanyalah kenangan pahit.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya. “Aku… aku mengerti, Ayah. Jadi… mungkin memang bukan hakku untuk mengubah masa lalu,” ucap Ivy lirih, suaranya nyaris tersendat oleh perasaan bersalah dan penyesalan yang membuncah di dalam dada.
Cagatay menepuk bahu Ivy dengan lembut, tatapannya penuh kasih sekaligus tegas. “Itu wajar, Ivy. Semua orang merasakan kehilangan. Tapi ingat—kamu hidup sekarang, dengan kesempatan untuk membuat dunia lebih baik dari titik ini. Fokus pada saat ini, bukan pada apa yang seharusnya terjadi.”
Ivy menatap ayahnya dengan mata melankolis, seolah menembus hati pria itu. Perlahan, ia mulai membuka diri, menceritakan masa lalunya yang kelam dan berat, satu per satu, sejujur-jujurnya. “Ayah… aku ingin kau tahu… semua yang terjadi padaku,” katanya, suaranya bergetar. Rasa rindunya yang dalam pada ayahnya, dan kekacauan yang terjadi setelah ayahnya pergi. Ia bercerita tentang ibunya yang menikah lagi karena rasa rindu pada ayah, tentang teman-temannya yang memperlakukannya dengan buruk saat menuduhnya sebagai pembunuh, dan luka-luka yang ia terima saat insiden kebakaran, termasuk operasi wajah yang ayahnya lakukan untuknya.
Setiap kata terasa berat, namun Ivy tahu pengungkapan ini penting agar masa depan tetap aman. Matanya berkaca-kaca saat ia menambahkan, “Aku harus melewati semua itu… sendirian. Aku harus kuat, Ayah… tapi itu menyakitkan, sangat menyakitkan.”
Cagatay terdiam, wajahnya menunjukkan campuran keterkejutan dan kesedihan mendalam. Ia menatap putrinya, mencoba memahami perjalanan hidup yang penuh penderitaan itu. “Ivy… kau… telah melakukan begitu banyak hal yang tak terbayangkan. Menjelajahi waktu, menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak kau kenal… bahkan hidupmu sendiri…,” ucapnya pelan, suaranya hampir serak.
Ivy menghela napas, menunduk sebentar, lalu menatap ayahnya dengan mata yang penuh harap. “Ayah… jika takdir memang tidak bisa diubah, maka aku ingin kau pergi ke waktu yang aku sebutkan. Tapi jika tidak… mungkin masa depan akan berbeda. Mungkin aku tidak akan pernah di-bully… mungkin aku akan menikah dengan Brayen, bukan Murray… dan mungkin kau tidak akan meninggal karena kelelahan saat berperang.” Suaranya pecah, nada sedih dan penyesalan jelas terdengar.
Cagatay terdiam, memandang Ivy dalam diam panjang, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir putrinya. Ruangan itu hening, hanya terdengar hembusan angin di jendela dan detak jarum jam di dinding.
Ivy menunduk, suaranya semakin lembut, “Ayah… boleh tidak melakukannya. Ivy akan menerima semua keputusanmu.” Matanya menatap penuh harap, seolah menaruh seluruh masa depannya di tangan ayahnya.
Cagatay hanya diam, membiarkan keheningan mengisi ruangan, hening yang hangat namun menegangkan. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, suara bel rumah terdengar, memecah kesunyian.
Cagatay segera bangkit dari kursinya, langkahnya mantap meski hatinya masih dipenuhi pikiran berat. Ivy mengikuti di belakangnya, jantungnya berdebar, campuran rasa penasaran dan kecemasan.
“Tiap yang datang?” tanya Cagatay sambil membuka pintu dengan perlahan, mata menelusuri sosok di ambang pintu, bersiap menghadapi kejutan berikutnya.
Saat pintu terbuka, mata Cagatay menangkap sosok Murray berdiri di sana. Suasana tiba-tiba berubah, tatapan Cagatay teralihkan oleh suara tangisan bayi yang lembut namun lantang—Aiden.
Saat pintu terbuka, mata Cagatay segera menangkap sosok Murray yang berdiri tegang di sana. "Kau…!" ucapnya, suaranya penuh campuran keterkejutan dan kebingungan, seolah tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.
Namun perhatian Cagatay segera teralihkan oleh suara tangisan bayi yang lirih, nyaring memecah keheningan. "Siapa anak itu?" tanyanya, nada keras dan penuh kesal, tapi di balik kemarahannya ada rasa penasaran dan kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.
Ivy, yang menyadari kedatangan suami dan anaknya, segera menahan air matanya.
Wajahnya kini cerah meski hatinya masih berdebar. Ia melangkah maju dengan hati-hati dan mengambil Aiden dari gendongan Murray. Begitu Aiden berada di pelukannya, bayi itu langsung tenang. Matanya yang baru beberapa minggu lahir menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos, sementara tangisnya mereda, digantikan tatapan penasaran yang begitu jernih.
Aiden adalah sosok kecil yang memukau. Matanya begitu bening, berkilau seperti kaca yang memantulkan cahaya, dan gerakannya lincah namun hati-hati.
Cagatay menatap Ivy dengan raut bingung bercampur heran. Wajahnya tegang, namun ada rasa hangat yang tak bisa ia sembunyikan. “Sudah jelas, ini cucu-mu, tahu! Apa kau tidak bisa melihatnya? Kami sangat mirip!” ujar Murray ketus, sambil menahan senyum dan menyandarkan Aiden dengan lembut di lengannya.
Dan memang benar—Aiden dan Murray tampak serupa bak pinang dibelah dua, tapi tatapannya yang polos dan garis wajahnya juga mengingatkan pada Cagatay. Rambutnya yang lembut, warna kulitnya, bentuk mata, bahkan cara ia mengerjap seperti Murray membuat Cagatay merasa campuran antara bangga, kagum, dan sedikit sedih. Ia menunduk, kepala terasa berat oleh perasaan yang begitu kompleks: senang melihat putrinya tumbuh menjadi wanita kuat, terkejut dengan kenyataan hidupnya, dan ada sedikit kesedihan karena menyadari betapa cepat waktu berlalu.
Namun melihat Ivy bahagia, hatinya terasa lapang—seperti orang tua yang akhirnya melihat doa panjangnya terjawab.
Cagatay menatap bayi itu lagi, tatapannya lembut, penuh kasih sayang dan cinta yang tak terbatas. Murray menyerahkan Aiden ke tangan ayah mertuanya. Saat Cagatay menggendong cucunya, ada kesedihan dan pertanyaan yang menyelinap ke hatinya. Dalam hati ia bergumam, Apa yang terjadi jika aku tidak kembali ke masa lalu, ke waktu yang Ivy sebutkan? Apakah bayi kecil ini akan tetap lahir? Mungkin tidak…
“Dia… dia begitu mirip denganmu, Ivy,” kata Cagatay akhirnya, suaranya lembut, hampir bergetar. “Aku bisa melihatmu di setiap gerakan kecilnya, setiap kedipan matanya. Tapi dia juga… memiliki bagian dari diriku. Entah mengapa, ini membuatku takut sekaligus bangga.”
Ivy tersenyum kecil, memeluk Aiden lebih dekat ke dadanya. “Aku… aku ingin kau tahu, Ayah. Dia lahir dari cinta kita, dari semua perjuangan yang kita lakukan. Dan aku ingin dia tumbuh mengetahui keluarganya, mengetahui siapa dirinya.”
Cagatay menarik napas panjang, matanya menatap bayi itu dengan penuh kekaguman. “Dia kuat, Ivy. Aku bisa merasakan aliran mana sihir dalam dirinya. Lebih kuat daripada kamu dan Murray saat kalian berdua seumuran.
Potensi yang ia miliki… bisa mengubah dunia, atau bisa menghancurkannya, jika tak dijaga dengan benar.”
Murray tersenyum, menepuk bahu Ivy. “Aku janji, Ayah, kita akan menjaga Aiden. Kita akan membimbingnya, tidak akan membiarkan hal buruk menimpanya.”
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
