16.

97 4 0
                                        

BAB 16




---

Setelah pulang sekolah, Ivy memutuskan untuk singgah sebentar di taman kota yang letaknya tak jauh dari sekolahnya. Langit Manchester sore itu tertutup awan kelabu khas musim gugur, dan udara lembap berembus lembut, membawa aroma dedaunan basah. Taman itu cukup sepi—hanya terdengar kicau burung yang sesekali berpindah dari satu cabang pohon ke cabang lainnya, serta suara gemericik air dari air mancur kecil di tengah taman.

Ivy memilih duduk di salah satu bangku besi yang catnya mulai terkelupas, berada di bawah pohon maple tua. Ia meletakkan tasnya di sebelah, lalu mengeluarkan buku merah yang kini sudah tampak lusuh di bagian sudut-sudutnya. Jari-jarinya membelai sampul itu sebentar, lalu ia membuka halaman tengahnya. Dengan serius, ia mulai menghafal beberapa mantra sihir yang tertulis di sana. Meskipun banyak mantra itu terdengar aneh dan sulit dilafalkan, Ivy tak mengendurkan semangatnya.

“Ternyata ada banyak mantra sihir yang bagus,” gumamnya pelan sambil mengerutkan kening, matanya menyapu baris demi baris tulisan beraksara asing. “Contohnya sihir yang membuat segala yang basah jadi kering. Aku bisa menggunakannya untuk mengeringkan baju.”

Sudut bibir Ivy sedikit terangkat, membayangkan manfaat praktisnya. Ia terus membalik halaman. “Sihir yang membuat benda bergerak sendiri. Itu juga bagus… untuk mengerjai suami cabul Mama,” ucapnya dengan nada setengah berbisik sambil menyunggingkan senyum nakal.

Matanya berbinar ketika menemukan sesuatu yang lain. “Sihir pembaca pikiran?” Ia membayangkan situasi di kelas—mungkin ia bisa mengetahui siapa yang diam-diam membicarakannya di belakang. “Aku akan menggunakannya untuk membaca pikiran semua orang di kelas… dan Mama juga. Aku ingin tahu apa yang Mama pikirkan tentangku.”

Namun begitu mengucapkan itu, senyum Ivy perlahan memudar. Raut wajahnya mengeras, dan ada bayangan resah di matanya. Ia menatap kosong ke halaman buku, pikirannya melayang. Bagaimana kalau Mama berpikiran buruk tentangku? Bahkan lebih buruk… bagaimana kalau Mama menyimpan kebencian? Itu terdengar konyol, tapi tidak ada yang tak mungkin. Rasa sesak merayap di dadanya, membuatnya menelan ludah pelan.

Ivy menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu. Ia kembali fokus pada buku, menyusuri barisan mantra lainnya. “Sihir memanipulasi pikiran… itu juga bagus. Sihir melihat ingatan seseorang… juga bagus,” katanya pelan.

Tiba-tiba, matanya terhenti pada sebuah halaman dengan judul yang membuatnya tertegun. Sebuah mantra untuk kembali ke masa lalu. Jantung Ivy berdegup lebih cepat. Ia tahu itu terdengar mustahil, tetapi fakta bahwa mantra itu ada di buku ini membuat rasa penasarannya meledak.

“Kalau aku bisa kembali ke masa lalu… jelas aku bisa melihat sendiri apa yang terjadi pada Jessica. Bagaimana laboratorium itu terbakar? Bagaimana Jessica bisa terluka?” gumamnya lirih, matanya memandang kosong seolah menatap kejadian itu terulang. Ingatan pahit tentang kobaran api, bau menyengat asap, dan rasa panas yang membakar kulit wajahnya kembali menghantam pikirannya. “Ya… aku yakin Jessica tidak meninggal karena kebakaran, apalagi hanya pecahan gelas kimia. Seseorang pasti melukainya… lalu membakar laboratorium untuk menghilangkan bukti. Dan… mungkin aku bisa menyelamatkan diriku sendiri dan Jessica. Wajahku akan tetap cantik… dan Jessica masih hidup sampai sekarang.”

Ia menghela napas panjang, namun pikirannya tak berhenti bekerja. Awalnya, gagasan itu terdengar sempurna. Tapi kemudian, bayangan-bayangan menakutkan menyelinap. Bagaimana kalau ada efek samping? Bagaimana kalau ia terlempar ke masa yang jauh dari zamannya dan tak pernah bisa kembali? Bagaimana kalau perubahan kecil di masa lalu justru menghancurkan masa depan?

Ivy memeluk buku itu erat, tatapannya gelisah menatap dedaunan maple yang berguguran di hadapannya. Tidak… aku tidak bisa gegabah. Ia memutuskan untuk mempelajari mantra itu lebih dalam sambil tetap mencari tahu siapa pembunuh Jessica. Ya, itu pilihan yang paling masuk akal.

“Tapi… aku harus mulai dari mana?” gumam Ivy pelan, matanya menatap kosong ke arah rerumputan yang bergoyang tertiup angin.

Ivy bersandar di bangku taman, jemarinya meremas ujung mantel wol yang membungkus tubuhnya. Udara Manchester sore itu terasa dingin dan lembap, khas musim gugur. Ia mulai memutar ulang kejadian di kepalanya—siapa yang harus ia selidiki pertama kali, siapa yang pantas dicurigai, dan siapa saja yang bersama Jessica di hari-hari terakhir sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi. Rentetan waktu di masa lalu harus ia susun dengan benar, karena satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya tersesat dalam penyelidikan.

Saat ia masih larut dalam pikirannya, langkah kaki pelan terdengar mendekat di atas jalur batu taman. Sebuah sentuhan lembut mendarat di bahunya, membuat Ivy tersentak dan menoleh. Di hadapannya berdiri seorang wanita paruh baya berambut cokelat keemasan yang diikat rapi, mengenakan mantel krem dan syal biru muda. Wajahnya dihiasi senyum hangat.

“Oh, halo Ivy,” sapa wanita itu ramah.

Ivy tersenyum canggung, “Ah… iya, halo Tante.”

Wanita itu adalah Jeslin—ibu dari Natali. Namanya secantik parasnya. Meski usianya sudah menginjak lima puluh, kulitnya masih terawat, matanya ramah, dan tutur katanya lembut. Sifatnya benar-benar bertolak belakang dengan Natali yang kasar dan sombong.

“Lama tidak bertemu, ya,” ucap Jeslin sambil menatap Ivy penuh kehangatan.

“Iya, Tante,” jawab Ivy singkat, suaranya terdengar ragu.

“Kenapa kamu tidak pernah main ke rumah Tante lagi? Padahal dulu kamu sering datang,” tanya Jeslin dengan nada sedikit heran.

Ivy menunduk sedikit, mencoba tersenyum. “Hehehe… maaf, Tante. Belakangan ini Ivy sibuk.” Ia berbohong, karena tak mungkin mengatakan kalau hubungannya dengan Natali sudah memburuk. Mengungkapkan itu hanya akan membuatnya terlihat buruk di mata Jeslin—sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan.

“Hm… begitu ya.” Jeslin menghela napas ringan, lalu menatap Ivy dengan pandangan seolah menimbang sesuatu. “Syukurlah… Tante kira kamu dan Natali bertengkar gara-gara masalah pria.”

Ivy sedikit terkejut mendengar itu. Ekspresinya sempat berubah, namun ia tidak tersinggung. Ia tahu Jeslin tidak bermaksud menyinggung, hanya mengkhawatirkan hubungan mereka.

“Oh ya, mau makan siang bareng Tante?” ajak Jeslin, mencoba mencairkan suasana.

Ivy ragu, matanya melirik ke arah jalan taman yang sepi. Ia belum memutuskan, hingga Jeslin menambahkan dengan suara lembut yang sulit ditolak, “Ayolah, kita sudah lama tidak makan bersama.”

Akhirnya Ivy mengangguk. “Baiklah, Tante.”

Jeslin tersenyum lega lalu mengajak Ivy berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi dedaunan kering. Udara dingin semakin menusuk, membuat napas mereka berembun. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah restoran kecil bergaya klasik dengan jendela besar dan pintu kayu berwarna mahoni. Aroma roti panggang dan sup hangat langsung menyambut saat mereka masuk.

Di dalam, seorang pria setengah baya sudah duduk menunggu di meja dekat jendela. Rambutnya mulai memutih di pelipis, dan matanya penuh wibawa namun hangat. Dia adalah Mine, ayah Natali. Begitu melihat Ivy, ia tersenyum ramah.

“Senang bertemu denganmu, Ivy,” sapanya.

Sikapnya yang ramah membuat Ivy sedikit bingung, karena ini adalah pertama kalinya mereka bertemu secara langsung. Namun ia tetap membalas sapaannya dengan senyum hangat. Berbeda dengan Jeslin yang ia panggil “Tante”, Ivy memanggil Mine dengan namanya langsung—sesuai kebiasaan sebagian orang Eropa yang tidak terlalu suka dengan sapaan formal seperti “Om” atau “Paman”.

Ivy sempat berpikir Natali akan muncul dan bergabung dengan mereka. Namun setelah beberapa lama menunggu, Natali tidak kunjung datang. Ketika Ivy bertanya, Jeslin menjawab bahwa Natali mungkin sedang bersama Brayen.

Mendengar nama itu, senyum Ivy berubah menjadi tipis dan hambar. Ada rasa perih yang merayap di dadanya—membayangkan mantan sahabatnya bersama mantan kekasihnya. Meski begitu, ia sadar situasi ini masih lebih baik daripada harus duduk semeja dengan keduanya.

Sambil memandang keluar jendela, melihat hujan gerimis mulai turun, Ivy menyadari sesuatu. Kehangatan yang terpancar dari Jeslin dan Mine membuatnya merasa seolah ia sedang duduk bersama keluarga sendiri—sesuatu yang jarang ia rasakan. Ada rasa iri yang menyesak di dadanya.

“Terkadang… aku iri dengan Natali. Dia punya orang tua yang sangat baik,” gumam Ivy dalam hati, sembari menatap cangkir tehnya yang mengepulkan uap.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang