19.

93 4 0
                                        

BAB 19





Fokus Ivy kembali saat ia mendengar suara pintu laboratorium berderit pelan, suara engselnya memecah kesunyian ruangan. Bersamaan dengan itu, terdengar langkah pelan dan suara seorang gadis yang langsung ia kenali—Sementa.

“Aku rasa dia tidak ada di sini,” ucap Sementa, suaranya terdengar datar namun penuh kecurigaan.

“Tapi tadi siswa itu bilang dia di sini,” balas Natali, nadanya sedikit menekan.

“Mungkin dia sudah pergi,” jawab Sementa lagi, terdengar seolah ingin mengakhiri pencarian.

“Ya sudah, ayo kita cari tempat lain,” sahut Natali, kemudian langkah kaki keduanya menjauh, meninggalkan gema samar di koridor.

Begitu suara mereka lenyap, Ivy langsung merenggut pelukan Brayen dengan kasar. “Lepas!” desisnya.

“Aaah… sakit, Ivy! Kau bisa pelan sedikit, tidak?!” rintih Brayen sambil memegang dadanya, wajahnya meringis akibat gerakan Ivy yang tiba-tiba.

Alih-alih meminta maaf, Ivy justru melemparkan tatapan tajam dan berkata, “Dasar bajingan!” Suaranya dingin, nyaris seperti tusukan pisau.

Ia melangkah cepat menuju pintu laboratorium. Begitu sampai di ambang pintu, Ivy menoleh sekilas, memastikan Sementa dan Natali benar-benar sudah tak ada di sekitar. Setelah yakin, ia bergegas keluar.

Namun di tengah jalan menuju kelas, pikirannya tersangkut pada kalimat yang sempat Brayen ucapkan sebelum Natali tiba tadi. Kata-kata yang terputus itu membuat Ivy penasaran. Kenapa dia mengatakan hal semacam itu? Kapan aku pernah mengatakannya? gumamnya dalam hati, alisnya berkerut tipis.

Blue Sky International School London—BSISL—adalah salah satu sekolah swasta terbaik di Inggris. Meski berlokasi di kota Manchester, sekolah ini mengadopsi kurikulum pendidikan Swedia, dipadukan dengan sistem pembelajaran London untuk memberikan dimensi internasional bagi siswanya. BSISL menerima pelajar berusia 3 hingga 18 tahun, dengan bahasa pengantar utama adalah bahasa Swedia.

Sekolah ini memiliki area yang luas—empat kali ukuran lapangan sepak bola—dengan gedung-gedung berarsitektur modern, jendela kaca besar, dan halaman hijau yang tertata rapi. Fasilitasnya lengkap: laboratorium ilmiah, lapangan basket, kolam renang dalam ruangan, hingga perpustakaan yang menyerupai galeri seni.

Siang hari, BSISL penuh dengan riuh canda siswa dan derap langkah guru. Namun, begitu malam tiba, suasananya berubah drastis. Sekolah itu bagaikan rumah megah yang ditinggalkan, sunyi dan dingin. Penerangan lampu taman membuat bayangan pepohonan terlihat bergerak-gerak di tanah, seolah mengintai. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang berpatroli, dan bahkan langkah kaki mereka pun terasa seperti gema jauh.

Malam itu, tepat di seberang pagar tinggi BSISL, seseorang berdiri tak bergerak. Sosok itu mengenakan hoodie hitam dengan topi senada, wajahnya tertutup masker dan kacamata gelap. Rambutnya sebahu, potongan bob rapi, berwarna hitam pekat. Kulitnya pucat, nyaris seputih cahaya bulan. Dia adalah Ivy.

Tatapan Ivy menembus sela pagar, dingin dan tanpa emosi, sesekali menyapu ke arah jalan di belakangnya. Jam di tangannya menunjukkan pukul 11.30 malam. Jalanan sepi, hanya sesekali mobil melintas, meninggalkan suara ban yang memudar di kejauhan. Udara malam terasa menusuk, dan angin membawa aroma logam samar dari pagar besi yang dingin.

Beberapa menit kemudian, bunyi alarm dari ponselnya memecah keheningan. Layar menampilkan pukul tepat tengah malam. Ivy mematikan alarm, menyelipkan ponsel kembali ke saku hoodie, lalu mulai berjalan mendekati pagar.

Saat ia sampai di depan gerbang utama, seorang petugas keamanan mendekat dari dalam. Pria itu berperawakan tinggi, berseragam hitam dengan senter di tangan. Sebelum ia sempat bicara, tatapan Ivy sudah mengunci matanya. Seketika, ekspresi pria itu kosong—terseret ke dalam pengaruh hipnotis Ivy.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang