BAB 60
"Setiap anak harus membersihkan kamar mereka masing-masing, serta mencuci baju mereka sendiri. Kau bisa bertanya pada siswi lain dimana tempat mencuci baju. Dan kau bisa melakukannya dengan manual, maupun dengan sihir. Kau juga tidak boleh keluar dari asrama putri di atas jam sembilan malam. Jika ketahuan, kau akan terkena hukuman." Jelas Elsie Cotton dengan suara tenang, namun nada bicaranya mengandung ketegasan seorang pembimbing.
Beberapa saat kemudian, Ivy dan Elsie Cotton tiba di depan kamar yang akan ditempati Ivy. Pintu kayu besar berukir motif klasik itu terbuka, memperlihatkan ruangan luas yang langsung membuat Ivy tertegun. Kamar itu tampak rapi, harum, dan terang, seperti kamar hotel mewah, namun dengan nuansa abad pertengahan yang kental—lampu-lampu minyak bergaya kuno menggantung di dinding, jendela kaca besar dihiasi tirai hijau tua, dan ukiran kayu di setiap sudut ruangan menambah kesan klasik.
Di dalamnya, terdapat dua ranjang besar berlapis seprai putih bersih, dua lemari kayu gelap yang kokoh, rak-rak buku penuh dengan koleksi bacaan, serta meja kecil untuk belajar. Perabotan itu seolah dibagi dua dengan sangat adil—setiap sisi ruangan memiliki perlengkapan yang sama, menandakan bahwa masing-masing penghuni punya ruang pribadi mereka sendiri.
"Ini kamarmu." Ucap Elsie Cotton sambil tersenyum hangat.
"Kamu sekamar dengan gadis bernama Marlin." lanjutnya, lalu mengetuk pelan pintu yang sudah sedikit terbuka. Karena tak ada jawaban, Elsie akhirnya mendorong pintu itu perlahan.
Di dalam, seorang gadis tampak berbaring santai di atas ranjang sebelah kanan sambil membaca buku tebal. Rambutnya terurai, wajahnya teduh, namun ekspresinya dingin tanpa minat.
"Nak, itu Marlin." Ucap Elsie Cotton sambil melirik Ivy.
"Hi Marlin!" sapanya ramah.
Marlin hanya menoleh sekilas, lalu berkata datar, "Hi, Elsie," tanpa berusaha bangkit ataupun mengubah posisinya.
Elsie tetap berusaha menjaga suasana, ia kemudian memperkenalkan, "Perkenalkan, dia Elsie Ulusoy, tapi kau bisa memanggilnya Ivy. Ivy, ini Marlin Dominik."
Mendengar namanya disebut, Marlin akhirnya bangkit dari ranjang. Ia berdiri dengan gerakan malas, lalu berjalan mendekat. Tatapannya menusuk, tajam seolah sedang menilai Ivy dari ujung kepala sampai kaki. Ivy merasa seperti sedang dipreteli dengan pandangan itu—sangat tidak menyenangkan.
Meski hatinya terusik, Ivy tetap mencoba ramah. Ia mengulurkan tangan, menawarkan jabat tangan sebagai tanda perkenalan. Namun Marlin hanya menatap tangan itu dengan dingin, bahkan sedikit sinis, seolah tangan Ivy kotor. Ivy merasakan darahnya mendidih, wajahnya menegang, tapi ia masih mampu menahan diri dan menarik kembali tangannya dengan pelan.
Suasana kamar seketika menjadi hening, dingin, dan kaku. Udara yang tadinya terasa hangat mendadak berat, seperti ada dinding tak terlihat yang membatasi keduanya. Elsie Cotton menyadari ketegangan itu, dan dengan cepat mencoba mencairkan keadaan.
"A… Ivy, kalau kau kesulitan, kau bisa tanya pada Marlin. Dia akan membantumu, iya kan Marlin?" katanya dengan nada penuh harap.
Namun, respon Marlin jauh dari ramah. "Hm…" gumamnya singkat, lalu ia kembali ke ranjangnya, mengambil bukunya, dan berbaring lagi seolah tak ada apa-apa.
Elsie menatap Ivy dengan raut sedikit canggung, lalu berkata, "Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu." Senyumnya tampak dipaksakan sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar itu.
Ivy hanya membalas dengan tatapan dingin. Entah mengapa, hatinya bergejolak. Ia merasa muak dengan sikap Elsie yang seakan terlalu baik padanya. Seharusnya ia merasa senang diperlakukan ramah, namun justru ada rasa sesak di dadanya—seakan kebaikan itu bukan sesuatu yang ia butuhkan saat ini.
Ia berjalan menuju ranjang yang kini menjadi miliknya. Duduk di tepi kasur, Ivy menatap lekat barang-barang pribadinya yang sudah tersusun rapi di sana—semuanya telah dipersiapkan oleh Cagatay sebelumnya. Rasanya aneh, karena ia tahu betul barang-barang itu baru ia terima beberapa jam lalu, namun kini sudah tertata sempurna seakan ada tangan tak terlihat yang mengurusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
