7

136 8 0
                                        

BAB 7



Ucapan Ivy itu membuat Brayen terlihat kecewa. Saat ia hendak membuka mulut untuk menanggapi, tiba-tiba terdengar suara lembut yang memanggil dari ujung lorong.

"Sayang!"

Suara itu terdengar akrab, hangat, dan jelas menuntut perhatian Brayen. Kedua mata Ivy dan Brayen spontan tertuju ke arah sumber suara itu. Di ujung lorong, berdiri Natalie Hershlag, kekasih Brayen. Wajahnya menampakkan campuran kesal dan cemburu, matanya menyorot tajam ke arah Brayen, seolah menandakan klaimnya.

"Sial!" gumam Brayen, jelas terdengar oleh Ivy, dan kata itu membuat dada Ivy sesak. Sekilas ia menatap Brayen, wajahnya bingung. Seharusnya pria itu terlihat senang saat kekasihnya memanggilnya, bukan kesal. Namun ekspresinya kini bertolak belakang dengan yang Ivy harapkan.

Sementara perhatian Ivy teralihkan oleh Brayen dan Natalie, seorang polisi memanggil namanya dari arah pintu biru yang sama dari mana Brayen keluar. Ivy menelan ludah, menahan sedikit rasa gugup, lalu berjalan pelan menuju ruangan interogasi. Saat ia melewati Brayen, jari-jemarinya nyaris menyentuh tubuhnya, namun Brayen menahan diri dan hanya menatap Ivy dengan wajah yang sulit diartikan. Tak lama kemudian, Natalie masuk ke pandangan Brayen, menarik perhatian pria itu, dan Ivy pun menundukkan kepala untuk fokus pada dirinya sendiri.

***

Ivy duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Brayen. Ruangan itu terasa dingin dan hening, hanya ada dia dan seorang polisi. Dindingnya dipenuhi kamera pengawas dan mikrofon, membuat suasana menjadi lebih tegang dari biasanya. Meski sudah beberapa kali berada dalam situasi seperti ini, Ivy tetap merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

"Baiklah, nona Elisa Cotton," ucap polisi dengan nada lembut dan sopan, mencoba menenangkan suasana, "kau tidak perlu takut. Kami hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan padamu."

Ivy hanya mengangguk pelan, menatap lurus ke depan, menahan kegelisahan yang mulai merayapi pikirannya. Polisi itu mulai dengan pertanyaan dasar: nama lengkap, umur, kelas, dan beberapa detail identitas lainnya. Namun seiring berjalannya percakapan, fokus polisi beralih pada masker wajah Ivy yang menutupi bekas luka bakar di pipinya.

"Baiklah, nona Cotton, bisakah kau membuka maskermu sebelum kita mulai wawancara?" ucap polisi itu, menatap Ivy dengan serius tapi tetap ramah.

Aku tidak mau, batin Ivy. Masker ini... aku lebih nyaman dengan wajahku tertutup. Luka itu... bekasnya masih terlalu terasa, dan setiap tatapan orang lain membuat kepercayaan diriku runtuh.

Namun polisi itu tetap bersikeras. "Nona Cotton, aku harap kau mau bekerja sama agar wawancara kita berjalan lancar," ucapnya, nada lembut tapi tegas.

Ivy menatapnya sejenak, napasnya tersengal, lalu akhirnya bertanya dengan suara sedikit tegang, "Apakah aku harus membuka maskernya di sini?"

"Ya," jawab polisi tegas.

Dengan berat hati, Ivy menuruti permintaan itu. Ia menarik masker perlahan, menahan rasa malu dan takut akan tatapan orang lain. Polisi itu tampak terkejut ketika melihat bekas luka di wajahnya. Matanya melebar sesaat, lalu ia tersadar dan berkata, "Ah... maaf."

Ivy tersenyum tipis, lemah, mencoba menenangkan diri. "Tidak apa-apa," ujarnya pelan.

Polisi itu kembali duduk di kursi di depannya, menyesuaikan posisi di belakang meja kaca, lalu memulai pertanyaan lebih serius. "Apakah kau mengenal Danil, Je, Mak, dan Hugo?"

"Ya," jawab Ivy singkat, menahan tatapannya. Dalam hati, ia bergumam, Bukankah itu sudah pasti? Siapa yang tidak kenal dengan berandalan itu.

Polisi itu melanjutkan, mencondongkan tubuh ke depan, mencoba membaca ekspresi Ivy. "Apakah kau dekat dengan Danil, Je, Mak, dan Hugo?"

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang