BAB 57
Semua orang masih terdiam, seolah terpaku pada cahaya hijau yang baru saja memancar dari bola kristal. Wajah-wajah siswa memancarkan keterkejutan, sebagian membelalakkan mata, sebagian lain saling berbisik lirih, meski cepat terhenti ketika suara berat pria tua itu kembali menggema.
"ομάδα μέδουσα," ucapnya lantang, tegas, namun penuh wibawa. Suara itu bergema memenuhi aula, membuat dada setiap orang bergetar. “Kelompok Medusa.”
Sejenak suasana kembali hening, lalu riuh sorak-sorai meledak, memenuhi ruangan. Siswa-siswa yang mengenakan lambang kepala Medusa di seragam mereka bersorak paling keras, berdiri sambil mengangkat tangan seolah menyambut anggota baru mereka. Tepuk tangan dan teriakan bergema, melingkupi Ivy yang kini jadi pusat perhatian.
Ivy hanya diam, menatap semua orang dengan sorot mata datar. Hatinya sebenarnya berdegup sedikit lebih cepat karena sorakan itu, tapi wajahnya tetap terlihat santai, nyaris acuh. Pria tua itu memberi isyarat padanya untuk bergabung dengan kelompok barunya. Tanpa banyak bicara, Ivy melangkah ke arah para siswa berlogo Medusa. Beberapa dari mereka menyambut dengan senyum tipis, sebagian hanya menatap dingin, seolah menilai siapa dirinya. Ivy menanggapi sambutan itu dengan tatapan singkat lalu memilih tempat di antara mereka, tanpa berusaha membaur.
Tidak lama, pria tua itu kembali bersuara, mengalihkan perhatian seluruh aula. “Sekarang, aku ingin menyampaikan kebanggaan besar. Turnamen penyihir baru saja selesai, dan salah satu murid terbaik kita keluar sebagai juara pertama.”
Suara itu kembali lantang dan menggema, membuat seluruh siswa duduk tegap. “Sir John McKellen.”
Nama itu dilontarkan dengan penuh penekanan, membuat Ivy yang mendengarnya merasakan bulu kuduknya meremang. Dia bergidik kecil, dada terasa agak sesak, seolah ada sesuatu yang aneh. Nama itu… Ivy pernah mendengarnya. Bukan dari sini, melainkan dari sebuah novel pendek yang baru saja ia baca. Hanya kisah fiksi, namun kenapa nama itu kini nyata di hadapannya?
Riuh tepuk tangan menggema, sorakan penuh sukacita memenuhi aula. Dari barisan kelompok Feniks, seorang siswa melangkah maju dengan penuh percaya diri. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya rupawan dengan garis tegas, rambut perak berkilauan saat terkena cahaya lampu sihir yang menggantung di atas aula. Senyum cerah tersungging di bibirnya, memancarkan pesona yang membuat beberapa siswa berbisik kagum. Seragam oranye yang ia kenakan jelas menandakan ia bagian dari kelompok Feniks.
Ia menjabat tangan pria tua itu dengan mantap. Kemudian sebuah piala emas besar diberikan padanya. Cahaya piala itu memantul di seluruh ruangan, seolah semakin menegaskan kebanggaan atas kemenangan yang diraih. John mengangkatnya sedikit, membuat sorakan semakin menggema. Ivy memperhatikan dari jauh, jantungnya masih berdegup aneh, antara bingung, tak percaya, sekaligus sedikit waspada.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan malam. Saat kata makan malam terucap, Ivy terperangah. Malam? Ia bahkan tidak pernah tahu kapan waktu di negeri ini berubah menjadi siang atau malam. Sejauh yang ia alami, langit selalu kelam, dan cahaya lampu sihir yang menggantung di setiap sudut kota terus menyala tanpa henti.
Keterkejutannya teralihkan oleh pemandangan di aula. Para siswa mulai berbaris membentuk empat kelompok besar, sesuai warna seragam dan lambang mereka. Gerakan itu teratur, seperti sebuah tradisi yang sudah dilakukan berkali-kali. Ivy segera mengikuti kelompok Medusa, berdiri di barisan paling belakang.
Begitu semua barisan rapi, sebuah keajaiban terjadi. Dari langit-langit aula, perlahan turun delapan bangku besar dan empat meja panjang, masing-masing tertata dengan keindahan tak masuk akal. Di atas meja itu, hidangan muncul begitu saja—penuh, berlimpah, menebarkan aroma menggoda. Cahaya lampu sihir memantul di permukaan piring perak, membuat makanan itu terlihat semakin menggugah.
Para siswa bersorak kecil, lalu bergegas mengambil tempat duduk. Ivy mengamati sebentar, lalu memilih kursi paling ujung dari meja kelompok Medusa. Ia sempat melihat beberapa siswa menoleh ke arahnya, lalu sengaja menjaga jarak, memilih duduk agak jauh. Ivy mengangkat bahu tipis, tidak peduli. Bagi dirinya, duduk sendirian jauh lebih nyaman daripada pura-pura akrab.
Ia menatap meja panjang di depannya. Makanan beraneka rupa terhampar indah: roti hangat dengan kulit renyah, sup bening yang mengepul harum, potongan daging panggang berlumur saus keemasan, hingga buah segar yang tampak berkilau bagai baru dipetik.
"Makannya banyak sekali," batin Ivy sambil menatap deretan makanan yang tersaji rapi di atas meja panjang. Aroma gurih dan manis bercampur, memenuhi seluruh ruangan hingga membuat perut siapa pun yang lapar pasti bergejolak.
Ia melirik ke sekeliling, melihat para siswa lain yang tengah menikmati hidangan mereka. Ada yang makan dengan anggun, menjaga etika seperti bangsawan, sementara sebagian lain melahap dengan lahap hingga terdengar suara berdecap. Ivy sempat berpikir, “Apa mereka benar-benar bisa menghabiskan semua makanan ini? Aku rasa tidak.” Jumlahnya terlalu banyak untuk dihabiskan malam itu.
Perlahan, Ivy meraih sepotong roti yang ada di hadapannya. Ia mengolesinya dengan selai kacang, lalu mulai menggigitnya pelan. Namun, meski terlihat santai, dalam hatinya sebenarnya tak ada selera makan. Kenangan masa lalunya terlintas begitu saja—tentang hari-hari ketika ia dan ibunya harus menahan lapar.
Ibunya, seorang single mom yang bekerja keras sebagai pegawai kantoran, hanya bisa memberikan kehidupan pas-pasan. Gajinya memang cukup besar untuk ukuran seorang wanita yang membesarkan anak seorang diri, namun nyatanya selalu habis oleh cicilan rumah, biaya listrik, pemanas, sekolah, makanan, hingga pajak. Ketika ibunya menikah lagi, keadaan justru semakin sulit. Ivy dipaksa belajar berhemat dalam segala hal, bahkan untuk sekadar makan. Kenangan itu membuatnya semakin tidak berselera menghadapi makanan mewah di hadapannya sekarang.
Lima belas menit kemudian, satu per satu siswa mulai menyelesaikan makan malam mereka. Suasana aula perlahan lengang, para guru pun bangkit dari kursi mereka dan meninggalkan ruangan. Ivy menatap sekeliling, merasa sedikit gelisah. Sebenarnya ia juga ingin segera pergi, sebab terlalu lama berada di keramaian membuatnya tidak nyaman. Namun, ia tidak tahu ke mana harus melangkah. Bukankah pria tua yang menyambutnya tadi sempat berkata akan ada seseorang yang menemaninya berkeliling? Tapi sampai sekarang, orang itu tak juga muncul.
Ivy menghela napas panjang. Dengan sedikit malas, ia berdiri dari kursinya dan merapikan tas di punggungnya. Ia sempat ingin mencari guru untuk menanyakan hal itu, tetapi langkahnya terhenti ketika seorang siswi tiba-tiba mendekat.
Siswi itu memiliki paras yang cantik meski ada bintik-bintik coklat kecil di wajahnya. Namun justru hal itu membuat kecantikannya tampak alami. Hidungnya mancung, alisnya lurus seperti panah, matanya biru cerah berkilau bagaikan permata, dengan bulu mata lentik yang menaungi tatapan ramahnya. Bibirnya merah muda alami, membentuk senyum yang menenangkan. Tubuhnya ramping, tingginya hampir setara dengan Ivy.
"Hai, perkenalkan, namaku Elsie Cotton. Kau bisa memanggilku Elsie," ucapnya dengan suara jernih sambil mengulurkan tangan. "Aku ditugaskan kepala sekolah untuk membawamu berkeliling sekolah."
Ivy membalas salam itu dengan sopan, meski dalam hati menyimpan kebingungan. Elsie Cotton? Ia tertegun sejenak. Bagaimana bisa namanya sama denganku? Apakah ini hanya kebetulan?
"Karena nama kita sama, kau bisa memanggilku Ivy," jawab Ivy singkat dengan nada dingin, mencoba menjaga jarak.
“Wau, panggilan yang indah,” puji Elsie Cotton dengan senyum hangat, meski bagi Ivy terdengar seperti basa-basi semata.
"Hem… baiklah, bagaimana kalau kita mulai berkeliling," ujar Elsie kemudian. Ivy hanya mengangguk lemah menanggapi.
“Tempat ini,” lanjut Elsie sambil melirik ruangan luas di belakang mereka, “adalah aula pertemuan sekaligus ruang makan bersama. Para siswa sering datang ke sini untuk berkumpul.”
Ivy hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, seolah tak ingin banyak bicara.
Mereka pun mulai berjalan keluar dari aula itu. Cahaya lampu gantung kristal perlahan menjauh di belakang mereka, berganti dengan lorong panjang yang dingin dan sunyi. Selama perjalanan, Ivy memperhatikan bahwa hampir setiap siswa yang mereka lewati menyapa Elsie Cotton dengan ramah—baik laki-laki maupun perempuan. Terkadang mereka bahkan harus berhenti sebentar, karena ada siswa yang ingin berbincang dengan Elsie. Dari cara mereka menyapa, jelas terlihat Elsie sangat populer di sekolah itu.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romance"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
