BAB 76
"Dan, perlu kau tahu… gadis itu bukan Elsie Cotton!" suara Ivy bergetar namun lantang, nadanya penuh luka bercampur amarah. "Akulah Elsie Cotton yang asli. Aku putri kandung Cagatay Cotton Ulusoy, cucu dari Alan Ulusoy! Gadis yang kau puja selama ini hanyalah pencuri, yang merampas identitas milikku… menikmati segala hal yang seharusnya menjadi milikku!"
Mata Ivy memerah, napasnya memburu. Dadanya naik turun cepat. Air mata yang tadi sempat ia hapus kembali mengalir, jatuh tanpa bisa ia cegah.
"Apa kau tahu… berapa banyak luka yang harus kutanggung karena dia?!" Ivy menjerit, suaranya pecah, emosinya meledak. "APA KAU TAHU, MURRAY?!"
Murray hanya bisa terdiam, mulutnya terkunci oleh mantra Ivy. Sorot matanya berubah, antara bingung dan tidak percaya.
"KAU TIDAK AKAN PERNAH TAHU BETAPA MENDERITANYA AKU!!!" teriak Ivy, suaranya menembus keheningan hutan, membuat beberapa burung kembali terbang dari dahan-dahan yang tinggi.
Setelah itu, Ivy terengah-engah. Nafasnya tersendat, tubuhnya sedikit bergetar. Walau amarahnya belum padam, ada sedikit ketenangan yang merayap masuk, meski samar. Wajahnya kini tampak lebih layu, matanya dipenuhi kelelahan. Ia menatap Murray, dan yang tersisa hanyalah rasa muak. Bukan karena Murray lemah, melainkan karena sikapnya yang menurut Ivy terlalu sok tahu—mencampuri hal yang tidak ia pahami seakan-akan dialah yang paling benar.
Rasanya Ivy ingin melayangkan pukulan kepadanya, tapi ingatan tentang buku ramalan menahan langkahnya. Ia tahu Murray bukanlah orang yang sepenuhnya bersalah. Sama seperti dirinya, pria itu juga tidak memiliki kehidupan yang baik. Lagipula, amarahnya tidak akan mengubah keadaan; mereka tetap terjebak di sini.
Ivy mendesah kasar. Dalam hatinya ia bergumam lirih, “Percuma saja aku marah dengannya. Tak ada yang akan berubah. Lebih baik aku menjauh.”
"Cih! Kau membuatku muak!" ucap Ivy tajam.
Dengan satu gerakan tangannya, mantra yang mengikat Murray lenyap. Suara Murray kembali, tubuhnya bisa bergerak bebas. Ivy langsung memunggunginya, melangkah cepat menjauhi pria itu.
"Ka… kau mau ke mana?" tanya Murray, suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
"Jangan ikuti aku. Carilah jalan keluar sendiri! Lagipula, ini salahmu… karena mengganggu ritualku!" jawab Ivy tanpa menoleh, langkahnya tidak berhenti.
Langkah Ivy terdengar cepat, menyusuri rerumputan dan dedaunan kering. Dalam sekejap ia menghilang di balik pepohonan rimbun. Murray hanya terdiam, menatap kosong arah Ivy menghilang. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Meski sudah pergi, hati Ivy tak sepenuhnya lega. Ada kekhawatiran samar yang mengganggunya—Murray bukan penyihir yang hebat, ia tahu itu. Apa pria itu bisa bertahan sendirian di tempat asing ini?
Ivy menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh pelan ke arah belakang, ke tempat ia meninggalkan Murray tadi. Dengan suara rendah, ia bergumam, "Dia akan baik-baik saja, kan…?"
Ia menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis bayangan buruk. Ia paksa dirinya melangkah lagi, menembus jalan hutan yang tidak jelas arahnya. Angin tiba-tiba berhembus kencang dari belakangnya, membuat rambut panjangnya terangkat, melayang lembut di udara.
Saat itulah Ivy baru menyadari sesuatu. Rambutnya—seluruhnya telah memutih. Bagai rambut seorang wanita tua, padahal wajahnya masih begitu muda. Ia meraba helaian itu, jantungnya berdegup keras. Ia tahu, ini tanda kalau hampir seluruh energi sihirnya terkuras habis.
“Rambutku… telah sepenuhnya putih.” gumamnya lirih. Wajahnya pucat, sorot matanya penuh kecemasan. “Aku sudah memakai hampir semua kekuatan sihirku. Aku perlu istirahat… kalau tidak, aku bisa mati kehabisan tenaga. Dan… soal mantra penjelajah waktu itu…” Ivy menelan ludah, ketakutan jelas terdengar dari nada bicaranya. “Aku harus menunggu enam bulan lagi untuk menggunakannya kembali. Kalau kupaksa, aku… aku tidak akan selamat.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, gemetar. “Hah… ini mengerikan. Aku tidak tahu… di mana aku sekarang. Dan… tahun berapa ini.”
Mendadak sesuatu muncul di kepalanya. Ingatan yang pernah diperlihatkan Cagatay Cotton Ulusoy kepadanya—tentang tahun 1322. Tentang pertemuan yang seharusnya terjadi. Ivy menahan napas, matanya melebar.
“Apa mungkin… aku sudah berada di tahun itu?”
Pikirannya semakin kalut. Tubuhnya yang lelah semakin terasa berat, kepalanya berdenyut hebat hingga hampir pecah. Perlahan ia terduduk di tanah, tangannya menahan tubuh agar tidak terjatuh sepenuhnya.
Di dalam dadanya, rasa panik, cemas, dan takut bercampur jadi satu. Napasnya pendek, gemetar. Air matanya kembali muncul tanpa bisa ditahan.
“A… apa yang harus kulakukan?” batin Ivy, penuh keputusasaan.
“Aku tidak bermaksud menyinggungnya… tapi aku benar-benar tidak tega melihat Elsie diperlakukan dengan kasar,” gerutuku lirih, sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Ucapan itu lebih seperti alasan yang kuucapkan pada diri sendiri, bukan pada siapa pun.
Aku memalingkan pandangan ke arah jalur yang tadi dilalui Ivy. Sebenarnya itu bukan jalan sama sekali—hanya deretan ilalang tinggi yang ia terobos dengan paksa, meninggalkan jejak samar di antara rerumputan liar. Aku menatap dalam, mencoba menebak ke mana langkahnya akan membawanya, namun hutan ini terlalu asing bagiku. Yang pasti, kami terjebak di belantara yang luas, jauh dari peradaban.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangan. Di sisi lain, aku melihat sebuah pohon besar dengan rimbunan daun lebat yang meneduhkan tanah di bawahnya. Aku melangkah ke sana dan menjatuhkan tubuhku di akar pohon yang menonjol, membiarkan diriku tenggelam dalam ketenangan sesaat. Dari sana, aku bisa menikmati pemandangan yang terbentang—hamparan pepohonan hijau sejauh mata memandang, udara segar yang menusuk paru-paru, dan sinar matahari yang menembus sela-sela daun dengan lembut.
Rasanya aneh. Sudah begitu lama aku tidak merasakan kehangatan matahari langsung seperti ini. Saking lamanya, aku bahkan nyaris lupa kapan terakhir kali aku menikmatinya. Kalau tidak salah, saat usiaku tujuh tahun… ya, tahun itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat cahaya. Atau lebih tepatnya—tahun ketika aku untuk pertama kalinya bisa melihat.
Kenangan itu tiba-tiba menyeruak. Saat itu aku berada sendirian di taman rumah, sementara kedua orang tuaku sedang pergi entah ke mana. Aku masih buta kala itu. Dunia gelap, hampa, tak ada bentuk. Tapi aku memiliki kemampuan lain: bisa merasakan aura, juga mana sihir seseorang. Jadi meskipun mataku tidak berfungsi, aku tetap bisa merasakan kehadiran orang-orang di sekelilingku.
Kebutaan itu bukan karena lahir cacat, melainkan sebuah kutukan. Seseorang pernah mengutukku hingga mataku gelap gulita. Dan kutukan itulah yang membuat orang tuaku berkelana mencari penyihir hebat, berharap bisa menemukan penyembuhanku. Seorang peramal pernah berkata, di sebuah kota tertentu akan ada sosok yang bisa memutuskan kutukan itu.
Hari itu aku ditinggalkan sendirian di taman. Meski agak membosankan, aku terbiasa dengan sepi. Aku duduk di bangku batu, hanya ditemani suara dedaunan yang berdesir pelan. Sampai tiba-tiba, sesuatu menarik perhatianku.
Seseorang muncul begitu saja, entah dari mana. Tubuhnya begitu nyata bagiku, namun anehnya, orang-orang yang berlalu lalang di sekitar taman tampaknya tidak menyadarinya sama sekali. Itu aneh, sangat aneh. Atau mungkin hanya kebetulan.
Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku bisa merasakan kekuatannya yang luar biasa. Aura sihirnya sangat khas—warna hitam. Tidak seperti aura lain yang pernah kurasakan, hitamnya begitu pekat, padat, seolah menelan semua cahaya di sekitarnya. Itu adalah pertama kalinya aku merasakan warna sihir hitam, dan auranya lebih kuat dibandingkan hitam manapun yang pernah kujumpai.
Aku terpaku, penasaran. Sosok itu berjalan melewatiku, langkahnya cepat, penuh kegelisahan. Aku bangkit, mengikutinya dari belakang. Dari gerak-geriknya, aku bisa merasakan kebingungan, bahkan kepanikan. Ia sempat berlari kecil, seolah mencari sesuatu.
Tiba-tiba ia berhenti mendadak. Aku merasakan kemarahannya meluap—seekor burung kecil kebetulan mengotori pakaiannya. Dengan gerakan cepat, gadis itu mengangkat tangannya, lalu… aku bisa merasakan aliran sihir menyembur. Sekejap saja, burung malang itu terbakar jadi abu, sementara noda di bajunya lenyap oleh sihir pembersih.
Aku yang kaget reflek bersuara, “Kau tidak boleh menggunakan sihir sembarangan di sini! Kalau sampai ketahuan, kau bisa mendapat masalah besar!”
Begitu kata-kata itu lolos dari mulutku, aku langsung menutupnya rapat-rapat dengan telapak tangan. Terlambat. Aku bisa merasakan auranya berbalik mengarah padaku, menyadari keberadaanku.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
