65.

68 3 0
                                        

BAB 65




"A... Ba... Bagaimana...?" tanya All Dominik dengan suara tercekat, matanya melebar tak percaya saat menatap Ivy.
Pertanyaan itu seolah mewakili seluruh siswa yang memenuhi ruangan. Keheningan menegang sesaat, hanya terdengar deru napas tertahan, sebelum akhirnya bisik-bisik mulai memenuhi udara. Bagaimana bisa Ivy mengeluarkan sihir tanpa tongkat? Padahal, semua orang tahu, tongkat adalah syarat mutlak seorang penyihir untuk memanifestasikan kekuatan mereka.

Ivy hanya tersenyum samar, bibirnya melengkung tipis penuh keyakinan. Matanya sedikit menyipit, menampilkan rasa percaya diri yang bagi sebagian orang terlihat seperti kesombongan. Ia mengangkat dagu dengan anggun, sinar kepercayaan diri terpancar dari sorot matanya.
"Bagi saya, melakukannya tanpa menggunakan tongkat sihir... rasanya lebih mudah. Selain itu, saya tidak tahu kalau ada peraturan yang mewajibkan penggunaan tongkat untuk mengeluarkan sihir," ucap Ivy tenang, suaranya meluncur jelas, seolah menegaskan bahwa semua itu adalah kebenaran.

Ia sempat mencoba menggunakan tongkat sihir sebelumnya, namun justru terasa kaku dan sulit baginya. Lebih alami, lebih leluasa, jika ia menyalurkan sihir langsung dengan tubuhnya.
"Kalau saya melakukan kesalahan, saya mohon maaf, Tuan," lanjut Ivy sambil sedikit menundukkan kepala, sikapnya anggun, penuh penghormatan—namun tetap dengan aura yang menegaskan keberadaannya.

Gumaman tak terkendali kembali memenuhi ruangan.
"Dia... luar biasa!"
"Aku baru pertama kali melihatnya... ini nyata atau hanya delusiku?"
"Dia pasti keturunan penyihir murni dari keluarga bangsawan tinggi!"
"Aku dengar, dia bahkan belum pernah belajar sihir. Tapi kalau melihat ini, jelas dia sudah menguasainya sejak lahir."
"Dia menakjubkan... aku harus berteman dengannya!"
"Ya, mendekat dengannya pasti menguntungkan."

Suara-suara itu bergantian, kadang terlalu keras, kadang penuh kekaguman, membuat suasana ruangan riuh. Meski kali ini pujian yang terdengar lebih banyak daripada hinaan, tetap saja bagi Ivy semua itu terasa bising, menusuk telinga.

Tanpa disadari Ivy, sepasang mata teduh menatapnya dari sudut ruangan. Murray menatapnya dengan wajah terkejut, ada binar kagum sekaligus bahagia dalam pandangannya. Namun tak jauh darinya, Elisa Cotton diam terpaku. Matanya yang biasanya hangat kini tampak suram, seolah ada sesuatu yang ditahannya rapat-rapat. Pandangannya beralih pada Murray yang begitu terpikat oleh Ivy, dan ada sebersit emosi yang sulit ditebak dari balik sorot matanya.

Hembusan angin malam menyapu jalan berbatu, membuat rambut panjang Ivy berayun lembut, roknya berkibar ringan di sekitar lutut. Ia mendongak, menatap ke atas. Langit negeri Semidio selalu sama: pekat, gelap, tanpa bintang, seakan menelan semua cahaya. Bagi Ivy, kegelapan ini bukan lagi asing. Setiap hari, sejak ia menginjakkan kaki di negeri ini, pandangannya selalu dipenuhi hitam yang tak berujung.

Beberapa detik berlalu sebelum ia menurunkan pandangannya dan kembali melangkah. Suara ketukan sepatunya di jalan sunyi menjadi satu-satunya irama yang menemani. Hari ini genap tujuh hari ia bersekolah di sini. Kehidupan barunya bisa dibilang berjalan baik. Sejak kejadian sihir tanpa tongkat itu, para siswa menghormatinya, para guru pun menunjukkan kebanggaan tersirat padanya.

Namun, meski banyak yang ingin dekat dengannya, Ivy selalu mencari alasan untuk menjauh. Bukan karena benci. Ia tahu, rasa kesalnya pada cara tatapan mereka yang menjijikkan bukanlah alasan utama. Ia hanya... takut. Luka dikhianati oleh orang-orang yang dulu ia sebut sahabat masih menganga di dalam dirinya, dan mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh.

Meski wajahnya kini mulus tanpa bekas luka, meski kulitnya seakan tak pernah tersentuh api, bagi Ivy luka itu masih nyata. Di benaknya, kulitnya masih terasa melepuh, terbakar. Hatinya masih dicekam oleh bayangan menyakitkan: api yang melalap tubuhnya, tatapan jijik yang menusuk, tangan-tangan kasar pria asing yang merampas kehormatannya. Semua itu masih hidup dalam ingatannya, siap mencabik setiap kali ia mengingatnya.

Langkah Ivy terhenti ketika tawa riuh terdengar dari arah samping. Ia menoleh, pandangannya menangkap sekelompok siswa tengah mengejek seseorang. Mereka menaruh sepatu Murray di atas tiang tinggi, lalu berdiri di bawahnya sambil tertawa keras, mendorong Murray agar berusaha melompat mengambilnya.

Suara tawa-tawa itu memecah keheningan sore. Langkah Ivy terhenti. Ia menoleh pelan, matanya menyipit, menajamkan pandangan ke arah sumber suara. Di halaman lapangan kecil yang dikelilingi tiang-tiang batu dan bangku panjang, Ivy melihat Murray menjadi bahan ejekan.

Sepatunya digantung tinggi di ujung tiang besi yang menjulang, hampir mustahil untuk diraih oleh tubuhnya yang mungil. Murray hanya bisa melompat-lompat, wajahnya memerah, napasnya tersengal. Setiap usahanya justru memancing tawa yang lebih keras dari para siswa lain yang berdiri mengelilingi, bersandar dengan santai seolah sedang menonton pertunjukan. Mereka bersorak, menunjuk-nunjuk, sesekali menirukan suara ejekan yang menusuk telinga.

Pemandangan itu membuat dada Ivy mengeras. Ada getir yang naik ke tenggorokannya, sebab bayangan masa lalu kembali menghantam—tatapan hina, tawa kejam, tubuhnya yang terbakar oleh pengkhianatan. Sesaat Ivy mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mendidih.

Matanya menoleh ke atas, ke balkon lantai dua yang menghadap langsung ke halaman. Ia menunggu. Seingatnya, Elisa Cotton selalu datang menolong Murray setiap kali ia di-bully. Namun menit demi menit berlalu, bayangan itu tak kunjung datang. Sudah lima belas menit Ivy berdiri di sana, dan Elisa Cotton hanya terlihat sekilas berjalan bersama teman-temannya di balkon, gaunnya berkibar pelan diterpa angin. Ia sempat melirik ke arah Murray, hanya beberapa detik, lalu melanjutkan obrolan sambil tersenyum tipis—seakan tidak terjadi apa-apa.

Ivy menatapnya lama, rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang salah. “Jadi begini... alurnya berbeda,” gumamnya lirih, kecewa.

Ini bukan pertama kalinya. Dalam buku yang pernah dibacanya, gadis bernama Elisa Cotton selalu digambarkan mulia, murah hati, penyelamat. Namun beberapa hari terakhir, Ivy memperhatikan dengan saksama: kenyataan tidak seindah kisah itu. Ada perbedaan, ada celah. Kecewa dan bingung menyelinap dalam dadanya, meski kemudian ia mengingat ucapan Vivian—bahwa tidak semua yang tertulis dalam buku akan benar-benar menjadi kenyataan.

“Sepertinya aku harus membaca ulang buku itu...” bisik Ivy, pandangannya redup namun bibirnya melengkung samar.

Ia kembali melangkah perlahan, roknya tersapu angin. Namun sebelum benar-benar pergi, telunjuknya terarah pada sekelompok siswa yang masih tertawa kejam. Dalam sekejap, tubuh mereka terhempas keras ke belakang, terlempar sejauh beberapa meter seperti boneka tak bernyawa. Mereka meringis, merintih kesakitan. Suasana yang tadinya riuh tawa berubah hening, hanya tersisa bisikan panik dan tatapan takut.

Ivy tetap berjalan santai, seolah tak mendengar jeritan mereka. Wajahnya datar, matanya kosong tanpa rasa bersalah. Ada aura dingin yang menyelimuti langkah-langkah kecilnya. Kejam? Ya. Ivy sudah menjelma menjadi sosok berdarah dingin yang tak lagi memberi belas kasihan, terutama pada mereka yang kejam terhadap orang lemah.

Tanpa ia sadari, Murray berdiri terpaku. Matanya melebar, menatap punggung Ivy yang perlahan menjauh. Punggung kecil itu dipenuhi bayangan misterius—punggung seseorang yang kuat, berbeda, dan sekaligus jauh dari jangkauannya. Ada pertanyaan yang menggantung di benaknya, bersamaan dengan rasa kagum yang samar.

Namun kemudian, pandangannya beralih ke atas. Ke arah balkon. Murray mendapati Elisa Cotton masih berdiri di sana, bersama teman-temannya, wajahnya menegang. Tatapan mereka sempat beradu—dan dalam tatapan singkat itu, jelas tergambar rasa kecewa di mata Murray. Rasa kecewa yang begitu dalam, hingga membuat Elisa Cotton terdiam. Dadanya sesak, jemarinya menggenggam pagar balkon erat, lalu buru-buru ia palingkan wajahnya ke arah lain.

Beberapa detik setelahnya, ia pergi begitu saja.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang