BAB 21
Leo dan Ivy pun pergi bersama. Tanpa mereka sadari, sejak tadi Brayen berdiri di kejauhan, matanya tak lepas mengamati keduanya. Pandangannya tajam, hampir menusuk, dengan kedua tangan terkepal rapat seolah menahan sesuatu di dalam dirinya. Ia terus memperhatikan hingga langkah Leo dan Ivy benar-benar menghilang di antara kerumunan.
Udara sore di Manchester terasa lembap, langit mulai meredup dengan awan kelabu menggantung rendah. Leo membawa Ivy menuju area parkir yang berada di sisi timur gedung, tempat kendaraan pribadi para tamu diparkir berderet rapi. Suara langkah kaki mereka berpadu dengan gemerisik angin yang melewati celah-celah bangunan tua di sekitar.
Di ujung parkiran, sebuah mobil limosin hitam berkilau menunggu. Mobil itu memancarkan kesan mewah dan elegan, memantulkan cahaya lampu taman yang baru saja menyala. Tepat di samping pintu depan, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam, wajahnya tenang dan penuh wibawa - sopir pribadi Leo. Kehadirannya membuat Leo tampak seperti keturunan bangsawan atau anak seorang konglomerat.
Leo mempersilakan Ivy masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam terasa hangat dan terisolasi dari udara luar. Wangi kulit interior berpadu dengan aroma parfum maskulin yang samar. Mereka duduk berhadapan, obrolan mengalir perlahan, kadang santai, kadang serius.
Leo mulai menceritakan awal kedekatannya dengan Jessica - bagaimana mereka pertama kali bertemu di awal tahun persekolahan SMA. Mereka berada di kelas yang sama, dan sebuah tugas kelompok membuat mereka sering berinteraksi. Butuh waktu dua bulan saja hingga hubungan itu berkembang menjadi asmara. Senyum tipis tersungging di bibir Leo saat mengingat masa itu, namun sorot matanya meredup ketika kenangan mulai berbelok ke arah yang lebih pribadi.
Hubungan mereka, menurut Leo, begitu intim layaknya pasangan muda di Barat pada umumnya. Mereka pernah beberapa kali berhubungan, namun Jessica selalu mengonsumsi obat KB, dan Leo pun menggunakan alat kontrasepsi khusus pria. Suaranya mengeras sedikit saat ia menegaskan bahwa alasan itulah yang membuatnya yakin ia tidak mungkin menghamili Jessica.
Di mata Leo, Jessica adalah gadis yang baik, ceria, namun polos dan naif. "Dia mudah dibodohi... tapi aku tidak masalah dengan itu," ujar Leo, menunduk sesaat, bibirnya membentuk senyum getir. "Aku mencintai dia apa adanya."
Selama bersama, Leo merasa mengenal hampir semua orang di lingkaran pertemanan Jessica. Ia menyebutkan dua sahabat dekat Jessica - Ivy dan Melodi. Meski Jessica sering bercerita tentang Ivy, Leo melihat kedekatan Jessica dengan Melodi lebih intens, karena keduanya kerap menghabiskan waktu bersama.
Saat Ivy menanyakan soal musuh, Leo menggeleng. Menurutnya, Jessica tidak suka keributan. Jika pun ada masalah, gadis itu memilih mengalah atau menangis diam-diam di pojok ruangan. Dengan sifat seperti itu, Leo ragu ada orang yang benar-benar membenci Jessica. Bahkan saat interogasi polisi, ia tak tahu siapa yang harus dicurigai.
Leo menatap Ivy, matanya sedikit berkaca-kaca. "Tidak banyak orang tahu kalau Jessica hamil... persidangan itu tertutup. Orang-orang pun enggan membicarakannya, terlalu sensitif. Dan... aku rasa Jessica bahkan belum sadar kalau dia hamil saat itu."
Ivy terdiam, merasakan ketulusan Leo. Ada sedikit rasa iri yang mengusik hatinya - betapa Jessica pernah dicintai begitu dalam sebelum ajal menjemputnya.
"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Ivy pelan.
Leo terdiam sejenak. Pandangannya terarah pada titik kosong di hadapannya, seolah menimbang-nimbang apakah ia harus mengucapkan sesuatu yang ada di pikirannya. Setelah beberapa detik, ia menoleh pada Ivy dan berkata dengan nada ragu,
"Aku tidak yakin. Tapi... delapan bulan lalu, Elena mengadakan pesta besar di rumahnya, saat orang tuanya tidak ada. Sebagian besar teman sekelasnya diundang. Jessica juga datang, karena dia sekelas dengan Elena. Aku pikir... mungkin Jessica menghabiskan malam itu dengan salah satu siswa yang hadir di pesta."
Hening sejenak menyelimuti kabin mobil. Suara hujan tipis di luar terdengar samar memukul atap limosin. Leo menghentikan ucapannya sesaat, matanya menatap lurus ke arah Ivy sebelum melanjutkan,
"Mungkin Danil... ayah dari janin itu."
Ivy langsung membeku. Kebingungan dan keterkejutan bercampur jadi satu di wajahnya. Dengan nada penuh keraguan, ia bertanya,
"Bagaimana bisa itu terjadi? Jessica bukan tipe orang yang akan selingkuh. Apalagi... dengan pria seperti Danil!"
Leo menanggapinya dengan tenang, tanpa sedikit pun nada defensif. Ia menghela napas pelan, lalu berkata,
"Aku percaya dia tidak selingkuh. Tapi mungkin... dia di bawah pengaruh alkohol. Atau seseorang sudah..."
Kalimat itu terhenti di udara. Meskipun tidak diselesaikan, Ivy tahu persis kata apa yang ingin diucapkan Leo. Rahangnya mengeras, tangan yang menggenggam tas di pangkuannya mulai meremas kuat. Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa kemungkinan itu benar. Dan kemarahan mulai merayap di dadanya.
"Security yang bernama Jozz - yang jadi tersangka dalam kebakaran itu - mendapat hukuman dua tahun penjara karena kelalaian," lanjut Leo, menatap Ivy dengan serius. "Aku pikir seharusnya ada satu security lagi yang dihukum, tapi anehnya... itu tidak terjadi."
Ucapan itu langsung memicu ingatan Ivy. Nama Zafar terlintas di kepalanya.
Jozz dan Zafar adalah dua petugas keamanan yang berjaga pada hari kejadian. Jozz bertugas berkeliling gedung dan menjaga gerbang, sementara Zafar memantau CCTV dan kadang membantu Jozz berpatroli. Logikanya, keduanya sama-sama harus bertanggung jawab atas kelalaian itu. Tapi entah mengapa, Zafar bebas dari hukuman.
Keanehan itu bertambah - pada hari kejadian, sistem CCTV sedang "diperbaiki", dan alat pemadam kebakaran otomatis di langit-langit laboratorium ternyata dalam kondisi rusak. Semua itu terdengar terlalu kebetulan.
"Tapi, untuk apa kau menanyakan hal ini? Kau tidak lagi menyelidiki kasus itu, kan?" tanya Leo tiba-tiba, mengalihkan arah pembicaraan.
Pertanyaan itu membuat Ivy sedikit tersentak. "Ti... tidak. Kenapa aku harus menyelidikinya?" jawabnya terbata-bata.
Leo mengangkat bahu. "Siapa tahu. Tapi kalau pun iya... sebaiknya jangan kau lanjutkan. Jessica tidak membutuhkan itu. Dia hanya... butuh didoakan darimu."
Ivy langsung menatap Leo tajam. Nada suaranya dingin saat ia berkata,
"Lalu, kau tahu dari mana kalau Jessica tidak membutuhkannya? Apa hantunya bicara denganmu?"
Pertanyaan itu membuat Leo terdiam. Suasana di dalam mobil berubah kaku, seperti udara di dalamnya menebal. Menyadari percakapan mulai memanas, Ivy buru-buru mengalihkan topik ke hal yang lebih ringan - olahraga golf, mengingat ia tahu Leo sering mengikuti turnamen. Obrolan pun perlahan mengalir lagi, meski masih terasa hambar.
Di luar, tanpa mereka sadari, Brayen berdiri di samping mobilnya. Matanya mengarah tajam ke jendela limosin Leo yang kaca filmnya tipis. Wajahnya sulit dibaca, tapi sorot itu penuh tekanan. Baru ketika Natali memanggilnya dari dalam mobil, Brayen berbalik, masuk ke kursi penumpang, dan mobil mereka melaju meninggalkan tempat itu.
Ivy kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela limosin. Jalanan kota Manchester basah oleh gerimis, lampu-lampu jalan memantul di aspal seperti kilau kuning yang pecah-pecah. Mobil mulai mendekat ke sebuah halte bus. Ivy menegakkan tubuhnya, bersiap untuk turun. Namun, ketika mobil berhenti, tangan Leo tiba-tiba terulur, menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya pelan tapi penuh perhatian.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romance"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
